Neraca perdagangan kembali surplus
Selasa, 02 Oktober 2012 - 08:17 WIB
Neraca perdagangan kembali surplus
A
A
A
Surplus neraca perdagangan pada Agustus lalu membuat pemerintah bisa bernapas lega kembali. Pasalnya, pada periode tiga bulan berturut-turut sebelumnya neraca perdagangan selalu mencatatkan defisit.
Publikasi terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) membeberkan, neraca perdagangan Agustus 2012 meraih surplus sebesar USD248,5 juta, di mana impor bertengger di level USD13,87 miliar.
Sedangkan posisi ekspor tercatat sebesar USD14,12 miliar. Adapun posisi neraca perdagangan dari Januari hingga Agustus 2012 tercetak surplus USD496,7 juta.
Selisih antara nilai impor dan nilai ekspor memang masih tipis, tetapi setidaknya pemerintah hendaknya menjadikan hal ini sebagai momentum untuk menggenjot ekspor dengan strategi tidak sekadar mengandalkan pasar tradisional yang sebagian besar kini bermasalah dengan imbas krisis ekonomi global.
Beberapa pasar baru yang sudah dibuka pemerintah telah berkontribusi dalam peningkatan nilai ekspor, di antaranya pasar Timor Leste, dan sejumlah negara Afrika yang selama ini cenderung diabaikan. Hubungan dagang dengan negara bekas provinsi Indonesia itu telah berkembang pesat dalam tiga tahun terakhir ini.
Kementerian Luar Negeri mencatat ekspor Indonesia sepanjang tahun lalu sebesar USD220 juta, meliputi kendaraan bermotor, produk tembakau, minyak sawit, hingga alat-alat rumah tangga dan elektronik. Sementara Timor Leste memasukkan komoditas kopi, lembu, dan kerbau ke Indonesia.
Ke depan, pemerintah meyakini nilai perdagangan bisa didongkrak lebih tinggi lagi menyusul pembangunan ekonomi Timor Leste yang mulai berputar.
Pasar ekspor lainnya yang sedang dibidik serius pemerintah adalah pasar Afrika Barat. Dalam lima tahun terakhir nilai ekspor ke kawasan itu meningkat sekitar 24 persen per tahun.
Di balik upaya pemerintah meningkatkan laju ekspor, akan sia-sia belaka bila tidak dibarengi kebijakan yang mampu menangkal serbuan komoditas impor. Berdasarkan data BPS, nilai impor pada Agustus mengalami penurunan sekitar 15,21 persen dibandingkan Juli 2012.
Tiga negara yang menjadi sumber utama impor adalah China senilai USD19,21 miliar, disusul Jepang sebesar USD15,48 miliar, dan Thailand sekitar USD7,66 miliar. Jumlah impor dari ketiga negara tersebut setara dengan 42,7 % dari total impor Indonesia.
Yang menarik dicermati terkait dengan aktivitas impor tersebut adalah kebutuhan akan bahan pangan. Sebagai negara agraris, bahan-bahan pangan yang diimpor tersebut sebenarnya juga bisa dihasilkan di dalam negeri.
BPS mencatat sekitar tujuh jenis bahan pangan yang menjadi langganan impor, di antaranya singkong, jagung, beras. Dari negara mana saja singkong itu berasal? Berdasarkan data BPS, tercatat tiga negara, yakni China, Vietnam, dan Italia.
Pada April dan Mei 2012, China mengapalkan 5,057 ton singkong senilai USD1,3 juta, sedangkan Vietnam mengirimkan 1.342 ton singkong senilai USD340 ribu. Jadi, total impor singkong dari kedua negara tercatat sebanyak 6.399 ton senilai USD1,6 juta pada tahun ini.
Adapun impor jagung dipasok dari Argentina yang mencapai 44,8 ribu ton senilai USD13,8 juta, lalu Brasil mengirim 10,9 ribu ton senilai USD3,4 juta, dan Thailand memasukkan 419 ton senilai USD1,4 juta. Ini belum bicara soal angka impor beras.
Angka tersebut tidak tertutup kemungkinan meningkat lagi bila pemerintah tidak konsisten menutup keran impor komoditas tersebut. Kenyataan itu menimbulkan pertanyaan serius, mengapa kebijakan pangan negeri ini menjadi tumpul? Bayangkan, singkong saja harus didatangkan dari luar negeri. (*)
Publikasi terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) membeberkan, neraca perdagangan Agustus 2012 meraih surplus sebesar USD248,5 juta, di mana impor bertengger di level USD13,87 miliar.
Sedangkan posisi ekspor tercatat sebesar USD14,12 miliar. Adapun posisi neraca perdagangan dari Januari hingga Agustus 2012 tercetak surplus USD496,7 juta.
Selisih antara nilai impor dan nilai ekspor memang masih tipis, tetapi setidaknya pemerintah hendaknya menjadikan hal ini sebagai momentum untuk menggenjot ekspor dengan strategi tidak sekadar mengandalkan pasar tradisional yang sebagian besar kini bermasalah dengan imbas krisis ekonomi global.
Beberapa pasar baru yang sudah dibuka pemerintah telah berkontribusi dalam peningkatan nilai ekspor, di antaranya pasar Timor Leste, dan sejumlah negara Afrika yang selama ini cenderung diabaikan. Hubungan dagang dengan negara bekas provinsi Indonesia itu telah berkembang pesat dalam tiga tahun terakhir ini.
Kementerian Luar Negeri mencatat ekspor Indonesia sepanjang tahun lalu sebesar USD220 juta, meliputi kendaraan bermotor, produk tembakau, minyak sawit, hingga alat-alat rumah tangga dan elektronik. Sementara Timor Leste memasukkan komoditas kopi, lembu, dan kerbau ke Indonesia.
Ke depan, pemerintah meyakini nilai perdagangan bisa didongkrak lebih tinggi lagi menyusul pembangunan ekonomi Timor Leste yang mulai berputar.
Pasar ekspor lainnya yang sedang dibidik serius pemerintah adalah pasar Afrika Barat. Dalam lima tahun terakhir nilai ekspor ke kawasan itu meningkat sekitar 24 persen per tahun.
Di balik upaya pemerintah meningkatkan laju ekspor, akan sia-sia belaka bila tidak dibarengi kebijakan yang mampu menangkal serbuan komoditas impor. Berdasarkan data BPS, nilai impor pada Agustus mengalami penurunan sekitar 15,21 persen dibandingkan Juli 2012.
Tiga negara yang menjadi sumber utama impor adalah China senilai USD19,21 miliar, disusul Jepang sebesar USD15,48 miliar, dan Thailand sekitar USD7,66 miliar. Jumlah impor dari ketiga negara tersebut setara dengan 42,7 % dari total impor Indonesia.
Yang menarik dicermati terkait dengan aktivitas impor tersebut adalah kebutuhan akan bahan pangan. Sebagai negara agraris, bahan-bahan pangan yang diimpor tersebut sebenarnya juga bisa dihasilkan di dalam negeri.
BPS mencatat sekitar tujuh jenis bahan pangan yang menjadi langganan impor, di antaranya singkong, jagung, beras. Dari negara mana saja singkong itu berasal? Berdasarkan data BPS, tercatat tiga negara, yakni China, Vietnam, dan Italia.
Pada April dan Mei 2012, China mengapalkan 5,057 ton singkong senilai USD1,3 juta, sedangkan Vietnam mengirimkan 1.342 ton singkong senilai USD340 ribu. Jadi, total impor singkong dari kedua negara tercatat sebanyak 6.399 ton senilai USD1,6 juta pada tahun ini.
Adapun impor jagung dipasok dari Argentina yang mencapai 44,8 ribu ton senilai USD13,8 juta, lalu Brasil mengirim 10,9 ribu ton senilai USD3,4 juta, dan Thailand memasukkan 419 ton senilai USD1,4 juta. Ini belum bicara soal angka impor beras.
Angka tersebut tidak tertutup kemungkinan meningkat lagi bila pemerintah tidak konsisten menutup keran impor komoditas tersebut. Kenyataan itu menimbulkan pertanyaan serius, mengapa kebijakan pangan negeri ini menjadi tumpul? Bayangkan, singkong saja harus didatangkan dari luar negeri. (*)
(lil)