Figur menjadi penentu kemenangan Pilpres 2014
Sabtu, 29 September 2012 - 17:14 WIB
Figur menjadi penentu kemenangan Pilpres 2014
A
A
A
Sindonews.com - Figur muda, bersih dan merakyat saat ini menjadi pilihan rakyat. Sekretaris Majelis Nasional Partai Nasional Demokrat (NasDem) Jeffrie Geovanie meyakini Pemilu 2014 akan menjadi pertarungan figur.
"Publik lebih memilih figur yang sederhana, merakyat, dan jujur, itu menjadi fenomena yang berlaku juga pada Pileg dan Pilpres 2014," ujar Jeffrie melalui pesan singkatnya kepada wartawan, Sabtu (29/9/2012).
Fenomena kemenangan calon Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi)-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam Pilgub DKI Jakarta menjadi bukti rakyat sudah menginginkan figur muda, bersih dan merakyat.
Pada Pilpres 2014 nanti maka partai politik harus pintar dan berani memunculkan tokoh-tokoh baru yang pro perubahan.
Rakyat, menurut Jeffrie sudah cukup dewasa untuk tidak terbawa arus upaya-upaya yang merusak demokrasi. Bahkan penggunaan agama dalam kampanye yang melibatkan tokoh-tokoh terkemuka pun tidak mempengaruhi pilihan politik warga.
"Terpilihnya Jokowi-Ahok membuktikan kandasnya politisasi agama," ujarnya.
Kedewasaan rakyat dalam berdemokrasi, imbuh Jeffrie menjadi kabar baik bagi parpol karena bisa menjadi proses pembelajaran agar lebih cermat lagi dalam memilih figur, tidak semata-mata terbuai oleh popularitas.
"Karena rakyat lebih cenderung memilih otentisitas ketimbang popularitas," pungkasnya.
"Publik lebih memilih figur yang sederhana, merakyat, dan jujur, itu menjadi fenomena yang berlaku juga pada Pileg dan Pilpres 2014," ujar Jeffrie melalui pesan singkatnya kepada wartawan, Sabtu (29/9/2012).
Fenomena kemenangan calon Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi)-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam Pilgub DKI Jakarta menjadi bukti rakyat sudah menginginkan figur muda, bersih dan merakyat.
Pada Pilpres 2014 nanti maka partai politik harus pintar dan berani memunculkan tokoh-tokoh baru yang pro perubahan.
Rakyat, menurut Jeffrie sudah cukup dewasa untuk tidak terbawa arus upaya-upaya yang merusak demokrasi. Bahkan penggunaan agama dalam kampanye yang melibatkan tokoh-tokoh terkemuka pun tidak mempengaruhi pilihan politik warga.
"Terpilihnya Jokowi-Ahok membuktikan kandasnya politisasi agama," ujarnya.
Kedewasaan rakyat dalam berdemokrasi, imbuh Jeffrie menjadi kabar baik bagi parpol karena bisa menjadi proses pembelajaran agar lebih cermat lagi dalam memilih figur, tidak semata-mata terbuai oleh popularitas.
"Karena rakyat lebih cenderung memilih otentisitas ketimbang popularitas," pungkasnya.
(lns)