Hentikan pembiaran!
Sabtu, 29 September 2012 - 13:15 WIB
Hentikan pembiaran!
A
A
A
Akhir Juli yang lalu kita menyaksikan tindak kekerasan (bullying) yang menimpa siswa SMA Don Bosco. Cukup sadis. Senior yang berperan sebagai kakak kelas tega menempeleng, memukul, hingga menyundut dengan rokok anggota tubuh juniornya.
Sang adik kelas yang masih baru merasakan atmosfer jenjang pendidikan menengah atas mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Akhir September ini pun menyimpan peristiwa suram pula.
Dua orang siswa SMA meninggal akibat tawuran.Mengapa kasus yang telah berulang-ulang terjadi, tak serius ditangani? Perbuatan para pelajar itu pasti bukan dilatarbelakangi oleh faktor anarkisme sebagaimana yang kerap dilakukan mahasiswa.
Gejolak jiwa kaum pelajar sebagian besar dipengaruhi oleh pergaulan dengan teman sebaya. Dengan semangat mudanya, mereka memamerkan kegagahan yang dimiliki.
Pelajar yang satu dengan yang lain saling unjuk diri mengakui bahwa dirinya lebih hebat dan lebih berkuasa. Pada saat seperti ini pula rasa solidaritas bisa tumbuh subur dalam sekelompok teman pergaulannya. Masalahnya, gejolak jiwa kaum pelajar yang positif itu tidak difasilitasi dengan baik oleh pihak sekolah.
Sekolah tampaknya kurang peduli untuk mengembangkan semangat pencarian jati diri siswa pada masa pendidikan. Yang nyata adalah sifat pembiaran oleh pihak sekolah terhadap proses pengembangan diri pelajar. Begitu pun pembiaran terhadap aksi tawuran.
Padahal, semestinya, sekolah dapat mengintervensi langsung dengan menata (memandu) pergaulan para pelajar. Pihak sekolah bisa menanamkan pemahaman pada seluruh siswa bahwa tidak ada yang namanya sekolah yang menjadi musuh.
Pihak sekolah juga bisa langsung meluruskan jika terjadi indoktrinasi dari para senior yang bisa mengarah pada kebencian terhadap sekolah lain.
Hal penting lainnya adalah sekolah harus menekankan tak akan menolerasin aksi kekerasan dalam bentuk apapun di dalam maupun luar sekolah. Kejadian yang kali ini sebagai bukti bahwa pelajar Indonesia belum memiliki kualitas pendidikan yang berkarakter.
Moral mereka belum terlatih menghidupi nilai kejujuran dan berakhlak mulia. Sekolah hanya cukup dijadikan sebagai sarana menyalurkan ilmu dan pengetahuan bagi peserta didik.
Di sinilah peran orangtua sebagai pendidik primer bagi anak kini harus menjadi perhatian pokok. Orangtua dan pihak sekolah harus sama-sama mengawasi pergaulan anak.
Salah satu hal mendasar bagi sekolah yang perlu diperbaiki adalah penanganan masa orientasi siswa (MOS) yang edukatif dan inspiratif.
Penyerahan kegiatan MOS kepada siswa senior dapat melahirkan efek pembalasan dendam kepada junior. Seperti kasus kekerasan di SMA Don Bosco. Dalam hal ini, lama-lama esensi MOS bisa tergerus sebab kesewenang-wenangan senior.
ZUDIKA MANULLANG
Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara
Sang adik kelas yang masih baru merasakan atmosfer jenjang pendidikan menengah atas mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Akhir September ini pun menyimpan peristiwa suram pula.
Dua orang siswa SMA meninggal akibat tawuran.Mengapa kasus yang telah berulang-ulang terjadi, tak serius ditangani? Perbuatan para pelajar itu pasti bukan dilatarbelakangi oleh faktor anarkisme sebagaimana yang kerap dilakukan mahasiswa.
Gejolak jiwa kaum pelajar sebagian besar dipengaruhi oleh pergaulan dengan teman sebaya. Dengan semangat mudanya, mereka memamerkan kegagahan yang dimiliki.
Pelajar yang satu dengan yang lain saling unjuk diri mengakui bahwa dirinya lebih hebat dan lebih berkuasa. Pada saat seperti ini pula rasa solidaritas bisa tumbuh subur dalam sekelompok teman pergaulannya. Masalahnya, gejolak jiwa kaum pelajar yang positif itu tidak difasilitasi dengan baik oleh pihak sekolah.
Sekolah tampaknya kurang peduli untuk mengembangkan semangat pencarian jati diri siswa pada masa pendidikan. Yang nyata adalah sifat pembiaran oleh pihak sekolah terhadap proses pengembangan diri pelajar. Begitu pun pembiaran terhadap aksi tawuran.
Padahal, semestinya, sekolah dapat mengintervensi langsung dengan menata (memandu) pergaulan para pelajar. Pihak sekolah bisa menanamkan pemahaman pada seluruh siswa bahwa tidak ada yang namanya sekolah yang menjadi musuh.
Pihak sekolah juga bisa langsung meluruskan jika terjadi indoktrinasi dari para senior yang bisa mengarah pada kebencian terhadap sekolah lain.
Hal penting lainnya adalah sekolah harus menekankan tak akan menolerasin aksi kekerasan dalam bentuk apapun di dalam maupun luar sekolah. Kejadian yang kali ini sebagai bukti bahwa pelajar Indonesia belum memiliki kualitas pendidikan yang berkarakter.
Moral mereka belum terlatih menghidupi nilai kejujuran dan berakhlak mulia. Sekolah hanya cukup dijadikan sebagai sarana menyalurkan ilmu dan pengetahuan bagi peserta didik.
Di sinilah peran orangtua sebagai pendidik primer bagi anak kini harus menjadi perhatian pokok. Orangtua dan pihak sekolah harus sama-sama mengawasi pergaulan anak.
Salah satu hal mendasar bagi sekolah yang perlu diperbaiki adalah penanganan masa orientasi siswa (MOS) yang edukatif dan inspiratif.
Penyerahan kegiatan MOS kepada siswa senior dapat melahirkan efek pembalasan dendam kepada junior. Seperti kasus kekerasan di SMA Don Bosco. Dalam hal ini, lama-lama esensi MOS bisa tergerus sebab kesewenang-wenangan senior.
ZUDIKA MANULLANG
Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara
(kur)