Elektabilitas tokoh tentukan suara parpol
Rabu, 05 September 2012 - 07:02 WIB
Elektabilitas tokoh tentukan suara parpol
A
A
A
Sindonews.com - Peran tokoh sentral dinilai masih sangat berpengaruh dalam menaikkan perolehan suara partai politik (parpol) dalam pemilu. Parpol yang memiliki tokoh berkualitas dan dikenal luas di masyarakat diyakini bakal dengan mudah mendulang suara pada Pemilu 2014 mendatang.
Direktur Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) SukardiRinakit mengatakan, tokoh dengan elektabilitas rendah secara otomatis bisa menurunkan perolehan suara partainya.
"Ini saya kira sudah clear, bahwa figur yang elektabilitasnya rendah dan kemudian diusung sebagai capres akan membuat perolehan suara partai tersebut turun. Demikian juga sebaliknya, tokoh yang elektabilitasnya kuat bisa mengangkat suara partai," ujar Sukardi kepada wartawan di Jakarta, Selasa 4 September 2012 kemarin.
Menurut Sukardi, besarnya pengaruh tokoh terhadap elektabilitas parpol bisa dimaklumi. Pasalnya, politik di Indonesia masih didominasi dengan politik tokoh, bukan politik partai. Karena itu, sudah saatnya bagi partai-partai untuk mengelus dan menentukan figur yang bakal diusung sebagai capres 2014.
"Waktu dua tahun sebelum pemilu adalah saat tepat untuk menyampaikan siapa capres yang akan diusung. Tapi tentunya dengan pertimbangan yang matang dan benar-benar serius," paparnya.
Disinggung tentang namanama capres yang saat ini beredar, Sukardi mengatakan bahwa elektabilitas figur sejatinya sudah tergambarkan dari hasil survei yang ada. Nama seperti Aburizal Bakrie yang diusung Partai Golkar, ujarnya, sudah bisa digambarkan elektabilitasnya dalam survei.
Karena itu, Partai Golkar perlu melakukan pembenahan pada pos yang kurang kuat dalam mengusung figur Aburizal. Demikian juga figur-figur lain seperti Prabowo Subianto yang diusung Partai Gerindra, Hatta Rajasa yang diusung PAN, Wiranto diusung Partai Hanura, serta Luthfi Hasan Ishaq yang sudah mulai disuarakan PKS sebagai capres.
"Jadi, soal pemunculan nama-nama capres yang terjadi saat ini sebenarnya gejala yang sangat wajar karena politik kita masih politik tokoh. Pemunculan nama ini bisa dilakukan dengan dua alasan, yakni untuk melakukan test on the water atau tes menguji kekuatan tokoh, dan alasan kedua adalah memfokuskan kerja politik partai karena penegasan soal tokoh harus melalui keputusan internal yang tidak mudah," tandasnya.
Senada diungkapkan peneliti Charta Politika Yunarto Wijaya. Menurut dia,elektabilitas tokoh memang masih sangat berpengaruh terhadap elektabilitas partai yang mengusungnya.
Jika sebuah partai mengusung figur yang memiliki elektabilitas rendah, hal itu sangat riskan karena bisa menggerus suara partainya. Yunarto mencontohkan, Partai Golkar yang sudah menegaskan Aburizal Bakrie sebagai capres. Langkah Golkar ini, menurut dia, dapat dikategorikan berisiko karena elektabilitas Aburizal masih jauh di bawah elektabilitas Partai Golkar.
"Partai Golkar itu masih sangat besar dan Aburizal jauh di bawah Golkar. Bisa saja gara-gara menegaskan pengusungan Aburizal, maka suara Golkar akan turun," tandasnya.
Direktur Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) SukardiRinakit mengatakan, tokoh dengan elektabilitas rendah secara otomatis bisa menurunkan perolehan suara partainya.
"Ini saya kira sudah clear, bahwa figur yang elektabilitasnya rendah dan kemudian diusung sebagai capres akan membuat perolehan suara partai tersebut turun. Demikian juga sebaliknya, tokoh yang elektabilitasnya kuat bisa mengangkat suara partai," ujar Sukardi kepada wartawan di Jakarta, Selasa 4 September 2012 kemarin.
Menurut Sukardi, besarnya pengaruh tokoh terhadap elektabilitas parpol bisa dimaklumi. Pasalnya, politik di Indonesia masih didominasi dengan politik tokoh, bukan politik partai. Karena itu, sudah saatnya bagi partai-partai untuk mengelus dan menentukan figur yang bakal diusung sebagai capres 2014.
"Waktu dua tahun sebelum pemilu adalah saat tepat untuk menyampaikan siapa capres yang akan diusung. Tapi tentunya dengan pertimbangan yang matang dan benar-benar serius," paparnya.
Disinggung tentang namanama capres yang saat ini beredar, Sukardi mengatakan bahwa elektabilitas figur sejatinya sudah tergambarkan dari hasil survei yang ada. Nama seperti Aburizal Bakrie yang diusung Partai Golkar, ujarnya, sudah bisa digambarkan elektabilitasnya dalam survei.
Karena itu, Partai Golkar perlu melakukan pembenahan pada pos yang kurang kuat dalam mengusung figur Aburizal. Demikian juga figur-figur lain seperti Prabowo Subianto yang diusung Partai Gerindra, Hatta Rajasa yang diusung PAN, Wiranto diusung Partai Hanura, serta Luthfi Hasan Ishaq yang sudah mulai disuarakan PKS sebagai capres.
"Jadi, soal pemunculan nama-nama capres yang terjadi saat ini sebenarnya gejala yang sangat wajar karena politik kita masih politik tokoh. Pemunculan nama ini bisa dilakukan dengan dua alasan, yakni untuk melakukan test on the water atau tes menguji kekuatan tokoh, dan alasan kedua adalah memfokuskan kerja politik partai karena penegasan soal tokoh harus melalui keputusan internal yang tidak mudah," tandasnya.
Senada diungkapkan peneliti Charta Politika Yunarto Wijaya. Menurut dia,elektabilitas tokoh memang masih sangat berpengaruh terhadap elektabilitas partai yang mengusungnya.
Jika sebuah partai mengusung figur yang memiliki elektabilitas rendah, hal itu sangat riskan karena bisa menggerus suara partainya. Yunarto mencontohkan, Partai Golkar yang sudah menegaskan Aburizal Bakrie sebagai capres. Langkah Golkar ini, menurut dia, dapat dikategorikan berisiko karena elektabilitas Aburizal masih jauh di bawah elektabilitas Partai Golkar.
"Partai Golkar itu masih sangat besar dan Aburizal jauh di bawah Golkar. Bisa saja gara-gara menegaskan pengusungan Aburizal, maka suara Golkar akan turun," tandasnya.
(san)