Farhan tinggal di lingkungan 'teroris'
Senin, 03 September 2012 - 15:43 WIB
Farhan tinggal di lingkungan 'teroris'
A
A
A
Sindonews.com - Farhan, salah seorang terduga teroris yang tewas dalam baku tembak dengan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror di Jalan Veteran, Solo, Jawa Tengah, ternyata memiliki keterkaitan dengan sejumlah tersangka teroris yang telah ditangkap.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyad Mbai mengatakan, Farhan merupakan anak dari Suhartono yang sempat melakukan percobaan pembunuhan kepada Matori Abdul Jalil pada 1999 lalu.
"Kalian tahu, bapaknya Farhan itu Suhartono yang mencoba membunuh Matori Abdul Jalil tahun 1999. Dia meninggal dihakimi tukang ojek. Kemudian, ibunya menikah dengan Abu Omar yang tahun lalu ditangkap," katanya kepada wartawan di Istana Negara, Jakarta, Senin (3/9/2012).
Dia mengungkapkan, Abu Omar sendiri merupakan tersangka penyelundup senjata api dari Filipina ke Indonesia. "Tahu kan Abu Omar? Yang menyelundupkan senjata di Filipina. Nah, Farhan ini yang bawa senjata dari Filipina ke Indonesia, bersama si Abu Omar itu," ujarnya.
Menurutnya, kelompok tersebut menyerang pos polisi karena menganggap polisi telah menghambat tujuan kelompok itu. "Ya ini kan diikuti sudah bulanan. Terlalu kejam yang menyebut ini fitnah atau rekayasa. Polisi sudah tewas seperti itu masih disebut rekayasa," ungkapnya.
Selain itu, dia juga memastikan jika Farhan dan Mukhsin yang tewas di Solo, Jawa Tengah merupakan kelompok teroris baru yang masih terkait dengan jaringan lama. "Jaringannya itu-itu juga. Komandonya tetap, dan jaringannya kuat. Komandannya juga masih berkoar-koar," tandasnya.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyad Mbai mengatakan, Farhan merupakan anak dari Suhartono yang sempat melakukan percobaan pembunuhan kepada Matori Abdul Jalil pada 1999 lalu.
"Kalian tahu, bapaknya Farhan itu Suhartono yang mencoba membunuh Matori Abdul Jalil tahun 1999. Dia meninggal dihakimi tukang ojek. Kemudian, ibunya menikah dengan Abu Omar yang tahun lalu ditangkap," katanya kepada wartawan di Istana Negara, Jakarta, Senin (3/9/2012).
Dia mengungkapkan, Abu Omar sendiri merupakan tersangka penyelundup senjata api dari Filipina ke Indonesia. "Tahu kan Abu Omar? Yang menyelundupkan senjata di Filipina. Nah, Farhan ini yang bawa senjata dari Filipina ke Indonesia, bersama si Abu Omar itu," ujarnya.
Menurutnya, kelompok tersebut menyerang pos polisi karena menganggap polisi telah menghambat tujuan kelompok itu. "Ya ini kan diikuti sudah bulanan. Terlalu kejam yang menyebut ini fitnah atau rekayasa. Polisi sudah tewas seperti itu masih disebut rekayasa," ungkapnya.
Selain itu, dia juga memastikan jika Farhan dan Mukhsin yang tewas di Solo, Jawa Tengah merupakan kelompok teroris baru yang masih terkait dengan jaringan lama. "Jaringannya itu-itu juga. Komandonya tetap, dan jaringannya kuat. Komandannya juga masih berkoar-koar," tandasnya.
(lil)