Partai NasDem tembus 5 besar
Jum'at, 31 Agustus 2012 - 08:35 WIB
Partai NasDem tembus 5 besar
A
A
A
Sindonews.com - Hasil survei terbaru Charta Politica menunjukkan bahwa kerja politik Partai NasDem sejak dideklarasikan setahun lalu sangat berhasil. Terbukti, elektabilitas parpol yang didirikan pada 26 Juli 2011 ini telah berhasil menembus lima besar.
Menurut Direktur Riset Charta Politika Yunarto Wijaya, tingkat keberhasilan Partai NasDem signifikan. Dia mengatakan, NasDem merupakan parpol yang paling potensial meraup suara dari kalangan pemilih mengambang yang diyakini menjadi penentu kesuksesan parpol dalam pertarungan di Pemilu Legislatif 2014.
"Penerimaan masyarakat terhadap NasDem sangat baik. Berdasarkan analisis kami,faktor utama yang membuat elektabilitas NasDem bagus ini adalah keberhasilan membangun jaringan, infrastruktur, dan program hingga ke akar rumput. Bukan karena dukungan sosialisasi melalui kekuatan media massa," papar Toto, sapaan Yunarto, di Jakarta kemarin.
Charta Politika melaksanakan survei dalam rentang waktu 8–22 Juli 2012 dengan metode multistage random sampling. Responden sebanyak 2.000 orang telah memiliki hak pilih dalam pemilu atau telah berusia 17 tahun ke atas saat survei dilakukan.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan margin of error sebesar 2,19% pada tingkat kepercayaan hingga 95%. Sebagai parpol baru yang belum pernah menjadi peserta pemilu, elektabilitas NasDem berada di posisi kelima dengan dukungan 4,3%.
Sementara itu, posisi pertama hingga keempat berturut-turut ditempati Partai Golkar dengan 18%, Partai Demokrat 12,5%, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 10,8%, dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) 4,7%.
Elektabilitas parpol-parpol menengah di parlemen berada di bawah NasDem. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di posisi keenam hanya meraup 3,9%, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 2,7%, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 2,6%, Partai Amanat Nasional (PAN) 1,9%, dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) 1,6%.
Sisa dukungan responden terbagi ke sejumlah parpol kecil, yakni 2,7%, sedangkan responden yang mengaku belum menentukan dukungan atau tidak menjawab sebanyak 34,4%. Jumlah golput tersebut jauh di atas suara parpol yang meraih elektabilitas tertinggi, yaitu 18%.
Padahal, tingkat keinginan masyarakat untuk mengikuti pemilu cukup tinggi, yakni 76%. Suara mengambang inilah yang berdasarkan analisis Charta Politika sebagian besar sangat potensial masuk ke NasDem.
"Hasil survei ini tentu tidak bisa menjadi patokan (untuk) gembira bagi parpol-parpol besar karena jumlah undecided votersdan swing votermasih dominan. Pemilih merasa tidak dekat dengan parpol-parpol yang ada. Jadi patut dicermati bahwa Partai NasDem sangat berpeluang menjadi kuda hitam. Juga Gerindra," ungkap Toto.
Dia melanjutkan, dari hasil survei, diketahui bahwa NasDem mampu menarik sumber daya dan infrastruktur yang ternyata sangat ampuh mendongkrak penerimaan masyarakat. Dilihat dari ketersebaran, NasDem sudah sangat kuat di Pulau Sumatera dan Papua.
Adapun di Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan lainnya, peluang NasDem pun sangat tinggi lantaran jumlah swing voter di berbagai daerah tersebut cukup besar.
Dari segi usia, pemilih NasDem didominasi kalangan anak muda. Dari kalangan usia di bawah 19 tahun, pendukungnya mencapai 10,2%, dari kalangan usia 20–29 tahun 5,4%, dari kalangan usia 30–39 tahun 5,1%, dari kalangan usia 40–49 tahun 4,5%, dan dari kalangan usia 50 tahun ke atas 2,2%.
Sementara itu, pemilih Partai Golkar, Demokrat, dan PDIP didominasi pemilih tradisional masing-masing. Pemilih Golkar, misalnya,mayoritas adalah pemilih tradisional sejak masa Orde Baru seperti kalangan petani dan nelayan.
Mereka cenderung sulit berubah pilihan ke parpol lain lantaran selalu memilih parpol yang sama setiap pemilu. Karena itu pula rata-rata camat dan lurah yang menjabat sejak Orde Baru dan kalangan pemilih tua cenderung memilih Golkar.
Menanggapi hasil survei ini, Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai NasDem Ferry Mursyidan Baldan mengatakan, hasil survei Charta Politika menunjukkan bahwa kinerja NasDem memang cukup bagus dengan hasil yang memuaskan pula.
"Hasil survei adalah sumber informasi yang sangat baik. Ini adalah gambaran hasil kerja seluruh jajaran partai dari pusat hingga daerah. Kerja yang tetap perlu ditingkatkan terus," ujarnya.
Dia menambahkan, yang paling penting bagi NasDem adalah fakta bahwa pemilih pemula dan pemilih muda ternyata memiliki kecenderungan kuat memilih NasDem karena membawa gagasan perubahan yang sangat nyata.
Sementara itu, Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat Saan Mustopa mengatakan, hasil survei Charta Politika adalah pelecut semangat bagi Demokrat untuk bekerja lebih keras merebut suara mengambang yang masih tinggi.
"Ini adalah persoalan bagi semua parpol bagaimana mengembalikan kepercayaan publik. Hasil survei ini menjadi bahan evaluasi dalam menentukan langkah Demokrat menghadapi Pemilu 2014," katanya.
Di tempat yang sama, Sekjen DPP Partai Golkar Idrus Marham berpendapat, survei yang menunjukkan elektabilitas Golkar teratas membuktikan bahwa jaringan pemilih Golkar telah kuat. "Buktinya, di setiap survei, elektabilitas kami selalu tertinggi. Kami memiliki pemilih yang loyal dan hal itu tidak dapat ditampik," kilahnya.
Menurut Direktur Riset Charta Politika Yunarto Wijaya, tingkat keberhasilan Partai NasDem signifikan. Dia mengatakan, NasDem merupakan parpol yang paling potensial meraup suara dari kalangan pemilih mengambang yang diyakini menjadi penentu kesuksesan parpol dalam pertarungan di Pemilu Legislatif 2014.
"Penerimaan masyarakat terhadap NasDem sangat baik. Berdasarkan analisis kami,faktor utama yang membuat elektabilitas NasDem bagus ini adalah keberhasilan membangun jaringan, infrastruktur, dan program hingga ke akar rumput. Bukan karena dukungan sosialisasi melalui kekuatan media massa," papar Toto, sapaan Yunarto, di Jakarta kemarin.
Charta Politika melaksanakan survei dalam rentang waktu 8–22 Juli 2012 dengan metode multistage random sampling. Responden sebanyak 2.000 orang telah memiliki hak pilih dalam pemilu atau telah berusia 17 tahun ke atas saat survei dilakukan.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan margin of error sebesar 2,19% pada tingkat kepercayaan hingga 95%. Sebagai parpol baru yang belum pernah menjadi peserta pemilu, elektabilitas NasDem berada di posisi kelima dengan dukungan 4,3%.
Sementara itu, posisi pertama hingga keempat berturut-turut ditempati Partai Golkar dengan 18%, Partai Demokrat 12,5%, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 10,8%, dan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) 4,7%.
Elektabilitas parpol-parpol menengah di parlemen berada di bawah NasDem. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di posisi keenam hanya meraup 3,9%, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 2,7%, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 2,6%, Partai Amanat Nasional (PAN) 1,9%, dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) 1,6%.
Sisa dukungan responden terbagi ke sejumlah parpol kecil, yakni 2,7%, sedangkan responden yang mengaku belum menentukan dukungan atau tidak menjawab sebanyak 34,4%. Jumlah golput tersebut jauh di atas suara parpol yang meraih elektabilitas tertinggi, yaitu 18%.
Padahal, tingkat keinginan masyarakat untuk mengikuti pemilu cukup tinggi, yakni 76%. Suara mengambang inilah yang berdasarkan analisis Charta Politika sebagian besar sangat potensial masuk ke NasDem.
"Hasil survei ini tentu tidak bisa menjadi patokan (untuk) gembira bagi parpol-parpol besar karena jumlah undecided votersdan swing votermasih dominan. Pemilih merasa tidak dekat dengan parpol-parpol yang ada. Jadi patut dicermati bahwa Partai NasDem sangat berpeluang menjadi kuda hitam. Juga Gerindra," ungkap Toto.
Dia melanjutkan, dari hasil survei, diketahui bahwa NasDem mampu menarik sumber daya dan infrastruktur yang ternyata sangat ampuh mendongkrak penerimaan masyarakat. Dilihat dari ketersebaran, NasDem sudah sangat kuat di Pulau Sumatera dan Papua.
Adapun di Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan lainnya, peluang NasDem pun sangat tinggi lantaran jumlah swing voter di berbagai daerah tersebut cukup besar.
Dari segi usia, pemilih NasDem didominasi kalangan anak muda. Dari kalangan usia di bawah 19 tahun, pendukungnya mencapai 10,2%, dari kalangan usia 20–29 tahun 5,4%, dari kalangan usia 30–39 tahun 5,1%, dari kalangan usia 40–49 tahun 4,5%, dan dari kalangan usia 50 tahun ke atas 2,2%.
Sementara itu, pemilih Partai Golkar, Demokrat, dan PDIP didominasi pemilih tradisional masing-masing. Pemilih Golkar, misalnya,mayoritas adalah pemilih tradisional sejak masa Orde Baru seperti kalangan petani dan nelayan.
Mereka cenderung sulit berubah pilihan ke parpol lain lantaran selalu memilih parpol yang sama setiap pemilu. Karena itu pula rata-rata camat dan lurah yang menjabat sejak Orde Baru dan kalangan pemilih tua cenderung memilih Golkar.
Menanggapi hasil survei ini, Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai NasDem Ferry Mursyidan Baldan mengatakan, hasil survei Charta Politika menunjukkan bahwa kinerja NasDem memang cukup bagus dengan hasil yang memuaskan pula.
"Hasil survei adalah sumber informasi yang sangat baik. Ini adalah gambaran hasil kerja seluruh jajaran partai dari pusat hingga daerah. Kerja yang tetap perlu ditingkatkan terus," ujarnya.
Dia menambahkan, yang paling penting bagi NasDem adalah fakta bahwa pemilih pemula dan pemilih muda ternyata memiliki kecenderungan kuat memilih NasDem karena membawa gagasan perubahan yang sangat nyata.
Sementara itu, Wakil Sekjen DPP Partai Demokrat Saan Mustopa mengatakan, hasil survei Charta Politika adalah pelecut semangat bagi Demokrat untuk bekerja lebih keras merebut suara mengambang yang masih tinggi.
"Ini adalah persoalan bagi semua parpol bagaimana mengembalikan kepercayaan publik. Hasil survei ini menjadi bahan evaluasi dalam menentukan langkah Demokrat menghadapi Pemilu 2014," katanya.
Di tempat yang sama, Sekjen DPP Partai Golkar Idrus Marham berpendapat, survei yang menunjukkan elektabilitas Golkar teratas membuktikan bahwa jaringan pemilih Golkar telah kuat. "Buktinya, di setiap survei, elektabilitas kami selalu tertinggi. Kami memiliki pemilih yang loyal dan hal itu tidak dapat ditampik," kilahnya.
(san)