Alarm intoleransi
Rabu, 29 Agustus 2012 - 07:18 WIB
Alarm intoleransi
A
A
A
Satu lagi potret buram intoleransi kehidupan beragama terekam dalam lembaran hitam sejarah bangsa ini. Aksi kekerasan terhadap warga Syiah di Sampang, Pulau Madura, Jawa Timur, Minggu, 26 Agustus 2012, menunjukkan betapa sikap intoleran masih begitu kuat menguasai lubuk hati sebagian bangsa ini sehingga tega menghabisi nyawa orang lain.
Kebenaran yang diperjuangkan terasa begitu dangkal. Nyawa manusia menjadi sedemikian murahnya dan ketenangan orang lain tak diindahkan demi menihilkan perbedaan, yang pada hakikatnya merupakan kewajaran.
Potret itu merupakan satu di antara sekian banyak potret buram kekerasan atas nama agama yang terus menghiasi kehidupan Indonesia modern pascareformasi.
Negara sebagai pihak yang memiliki otoritas atas keteraturan hidup warga negaranya sudah barang tentu menjadi tertuduh utama. Masalah seperti yang terjadi di Sampang ini sudah sedemikian sering terjadi.
Tak salah juga jika akhirnya ada yang menyeragamkan berbagai kasus kekerasan atas nama agama ini sebagai pembiaran negara. Potret kekerasan di Sampang ini patut diletakkan di album tersendiri dalam lembaran hitam sejarah bangsa ini dengan judul “Kekerasan dan Pembiaran Negara”.
Sungguh memalukan jika melihat drama saling tuding tanggung jawab di negeri ini, jika kasus seperti ini menyeruak. Kepemimpinan negara ada dalam rantai komando. Pemimpin tertinggi yaitu Presiden tidak bisa menuding anak buahnya alpa tanpa ikut memikul konsekuensi dari kealpaan anak buahnya.
Kalaupun Presiden merasa kealpaan merupakan sebab utama, mari budayakan penegakan tanggung jawab dengan minimal mencopot semua jajaran yang dirasa alpa demi meningkatkan rasa tanggung jawab anak buah presiden.
Lalu, tempatkanlah orangorang yang mengerti akar masalah kasus ini dan bisa membawa solusi. Kasus ini sendiri menjadi alarm bagi rasa kebangsaan kita semua.
Kekerasan ini mencoreng muka bangsa Indonesia yang mengusung slogan Bhinneka Tunggal Ika. Masihkah toleransi— sebagai salah satu perekat utama kebersatuan dan nasionalisme di bawah bendera merah putih—tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari? Dalam hidup beragama, menganggap ajaran agama yang dijalankan oleh orang lain tidak sesuai dengan yang dijalankan oleh kita itu wajar-wajar saja.
Bahkan, itulah salah satu alasan memilih salah satu agama,karena merasa bahwa agama yang kita anut mengantarkan kepada kebenaran yang diharapkan. Namun ketika memaksakan kebenaran terhadap aliran atau agama lain dan berusaha menihilkan perbedaan pemahaman itu, kita sudah menapakkan kaki ke ranah perilaku intoleran.
Sudut pandang dan perilaku ini tak akan membawa kita maju sebagai bangsa,karena perbedaan pemahaman dan penafsiran adalah sesuatu yang tak bisa dinihilkan.
Ini adalah tantangan bagi para rohaniwan. Alangkah baiknya jika kita bisa menerima perbedaan tersebut sebagai tantangan untuk memajukan aliran atau agama yang dianut.
Misalkan rohaniwan atau umat beragama merasa khawatir aliran atau agama tertentu akan mendistorsi aliran atau agama yang dianut, maka misi utamanya adalah memperkuat umat agar tidak mudah terdistorsi oleh pemahaman yang dikhawatirkan tersebut.
Ketika umat memiliki pengetahuan dan keyakinan yang mendalam akan aliran atau agama yang mereka anut, rohaniwan tak perlu khawatir mereka akan berpaling. Tiap-tiap agama menggambarkan bahwa hanya orang-orang dengan iman yang lemahlah yang akan berpaling.
Oleh karena itu, mulailah untuk tidak menyalahkan perkembangan aliran atau agama tertentu, tapi cobalah introspeksi diri kenapa aliran atau agama tertentu bisa lebih maju dari aliran atau agama yang dianut.
Kebenaran yang diperjuangkan terasa begitu dangkal. Nyawa manusia menjadi sedemikian murahnya dan ketenangan orang lain tak diindahkan demi menihilkan perbedaan, yang pada hakikatnya merupakan kewajaran.
Potret itu merupakan satu di antara sekian banyak potret buram kekerasan atas nama agama yang terus menghiasi kehidupan Indonesia modern pascareformasi.
Negara sebagai pihak yang memiliki otoritas atas keteraturan hidup warga negaranya sudah barang tentu menjadi tertuduh utama. Masalah seperti yang terjadi di Sampang ini sudah sedemikian sering terjadi.
Tak salah juga jika akhirnya ada yang menyeragamkan berbagai kasus kekerasan atas nama agama ini sebagai pembiaran negara. Potret kekerasan di Sampang ini patut diletakkan di album tersendiri dalam lembaran hitam sejarah bangsa ini dengan judul “Kekerasan dan Pembiaran Negara”.
Sungguh memalukan jika melihat drama saling tuding tanggung jawab di negeri ini, jika kasus seperti ini menyeruak. Kepemimpinan negara ada dalam rantai komando. Pemimpin tertinggi yaitu Presiden tidak bisa menuding anak buahnya alpa tanpa ikut memikul konsekuensi dari kealpaan anak buahnya.
Kalaupun Presiden merasa kealpaan merupakan sebab utama, mari budayakan penegakan tanggung jawab dengan minimal mencopot semua jajaran yang dirasa alpa demi meningkatkan rasa tanggung jawab anak buah presiden.
Lalu, tempatkanlah orangorang yang mengerti akar masalah kasus ini dan bisa membawa solusi. Kasus ini sendiri menjadi alarm bagi rasa kebangsaan kita semua.
Kekerasan ini mencoreng muka bangsa Indonesia yang mengusung slogan Bhinneka Tunggal Ika. Masihkah toleransi— sebagai salah satu perekat utama kebersatuan dan nasionalisme di bawah bendera merah putih—tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari? Dalam hidup beragama, menganggap ajaran agama yang dijalankan oleh orang lain tidak sesuai dengan yang dijalankan oleh kita itu wajar-wajar saja.
Bahkan, itulah salah satu alasan memilih salah satu agama,karena merasa bahwa agama yang kita anut mengantarkan kepada kebenaran yang diharapkan. Namun ketika memaksakan kebenaran terhadap aliran atau agama lain dan berusaha menihilkan perbedaan pemahaman itu, kita sudah menapakkan kaki ke ranah perilaku intoleran.
Sudut pandang dan perilaku ini tak akan membawa kita maju sebagai bangsa,karena perbedaan pemahaman dan penafsiran adalah sesuatu yang tak bisa dinihilkan.
Ini adalah tantangan bagi para rohaniwan. Alangkah baiknya jika kita bisa menerima perbedaan tersebut sebagai tantangan untuk memajukan aliran atau agama yang dianut.
Misalkan rohaniwan atau umat beragama merasa khawatir aliran atau agama tertentu akan mendistorsi aliran atau agama yang dianut, maka misi utamanya adalah memperkuat umat agar tidak mudah terdistorsi oleh pemahaman yang dikhawatirkan tersebut.
Ketika umat memiliki pengetahuan dan keyakinan yang mendalam akan aliran atau agama yang mereka anut, rohaniwan tak perlu khawatir mereka akan berpaling. Tiap-tiap agama menggambarkan bahwa hanya orang-orang dengan iman yang lemahlah yang akan berpaling.
Oleh karena itu, mulailah untuk tidak menyalahkan perkembangan aliran atau agama tertentu, tapi cobalah introspeksi diri kenapa aliran atau agama tertentu bisa lebih maju dari aliran atau agama yang dianut.
(lns)