Membangkitkan N-250

Jum'at, 17 Agustus 2012 - 10:30 WIB
Membangkitkan N-250
Membangkitkan N-250
A A A
Nama Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie belakangan ini kembali menjadi buah bibir. Ini terkait rencananya membangkitkan kembali pesawat N-250 yang terkubur semenjak International Monetary Fund (IMF) mensyaratkan pemerintah menghentikan pengembangan pesawat tersebut sebagai bagian dari paket restrukturisasi saat krisis ekonomi 1997 menerpa.

Rencana yang disampaikan Habibie saat berada di Gedung Sate Bandung, Jawa Barat, pekan lalu seolah membangunkan kita dari mimpi lama yang terpendam: Indonesia pernah mempunyai cita-cita setinggi langit. Sayangnya, cita-cita yang tinggal selangkah lagi tergapai itu tinggal menjadi harapan akibat 'dibajak' IMF, dan pemerintah saat itu sama sekali tidak berdaya untuk menyelamatkannya.

Kehadiran Gatotkaca, demikian nama lain N-250, yang dilaunching pada 1995 memang begitu diperhitungkan. Karya anak bangsa ini diyakini akan menjadi pemain utama di kelas penumpang 50 karena sudah dilengkapi teknologi fly by wire, termasuk mengalahkan Fokker F-50 yang saat ini berjaya. Tak heran bila pesawat bermesin turboprop itu pun menjadi bintang pada Indonesia Air Show yang digelar di Cengkareng pada 1996.

Setelah 15 cerita akan kebanggaan yang berakhir dengan kepedihan itu berlalu, cita-cita Habibie ternyata tidak padam begitu saja. Upaya mantan presiden itu untuk menghidupkan kembali N-250 tidak main-main. PT Eagle Cap, sebuah perusahaan milik mantan Kepala Bursa Efek Jakarta Erry Firmansyah, dan PT il Thabie, yang dimiliki kedua anak Habibie, sudah bersepakat bergabung untuk menanggung pendanaan dan manajemen dalam bendera PT Radio Aviation Industry (RAI).

Dengan segudang ilmu dan pengalaman di dunia dirgantara, penerima penghargaan Von Karman Award dan Edward Warner Award sudah barang tentu akan mengeluarkan segenap kemampuan terbaiknya untuk N-250. Dia bahkan mengaku sudah mengantongi desain baru pesawat yang disesuaikan dengan kebutuhan saat ini. Bangsa ini tidak perlu lagi meragukan kualitas pesawat karya tokoh yang mendapat julukan Mr Crack itu.

Teori Habibie, Faktor Habibie, dan Metode Habibie sudah menjadi jaminan keselamatan dalam dunia penerbangan internasional. Karya Habibie yang dituangkan dalam N-250 yang terlahir dari sentuhannya bisa disebut melampaui zaman. Pesawat ATR, pesawat bermesin turboprop ganda dan berbaling-baling hasil pabrikan perusahaan Italia-Prancis, konon merupakan adaptasi hasil rancang bangun Habibie.

ATR-lah pesawat yang paling laris di dunia. Lion Air misalnya total sudah memesan 60 pesawat ATR-72-500 untuk digunakan Wings Air melayani penerbangan daerah terpencil di seluruh Indonesia. Model sayap menekuk atas yang banyak digunakan pesawat Boeing dan Airbus saat ini pun merupakan adaptasi dari saudara N-250 yang juga menjadi korban IMF yakni N-2130.

Cita-cita mantan menristek itu sudah pasti membutuhkan dukungan pemerintah maupun dunia usaha. Pemerintah pusat sudah seharusnya memberikan dukungan kebijakan, termasuk dalam konteks kemungkinan kerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia (DI), sedangkan dunia usaha secara konkret bisa memanfaatkan N-250 sebagai tulang punggung maskapainya.

Langkah Habibie menghidupkan kembali N-250 saat ini bisa disebut saat yang tepat yakni ketika perekonomian bangsa ini sangat baik, industri penerbangan nasional sudah begitu kukuh, serta kesadaran akan kebanggaan terhadap bangsa semakin meningkat. Dengan demikian, kehadiran N-250 yang baru akan mudah diterima.

Kebangkitan kembali N-250 bukanlah sebatas luapan ambisi pribadi Habibie atau kepentingan bisnis semata. Lebih dari itu, kita harus melihat hal itu bisa menjadi momentum kebangkitan kembali keberanian Indonesia untuk menancapkan cita-cita setinggi langit sekaligus kebanggaan sebagai bangsa. “Tidak ada alasan orang mengatakan Indonesia itu bodoh,” demikian kata Habibie.
(lil)
Berita Terkait
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Berita Terkini
Madam Halimah Yacob...
Madam Halimah Yacob Membuka Harmony in Diversity Award Perdana di Jakarta
Jadi Saksi Dalam Sprindik...
Jadi Saksi Dalam Sprindik Baru, Kejagung Sebut Status Tersangka Febrie Adriansyah dari Polri Tak Gugur
Harlah ke-28 PKB, Panji...
Harlah ke-28 PKB, Panji Bangsa Gelar Turnamen Mini Soccer Inklusif
Kualitas Negara Hukum...
Kualitas Negara Hukum Terletak dari Kemampuan Aparat Menjaga Hati Nurani
Bakamla Gelar Latihan...
Bakamla Gelar Latihan Menembak di Perairan Dekat Pulau Galang
Gus Ipul Respons Wacana...
Gus Ipul Respons Wacana Cak Imin soal Pemimpin Baru PBNU: Baik untuk Didiskusikan
Infografis
Pengendara Motor 250...
Pengendara Motor 250 hingga 500 cc Wajib Miliki SIM C1
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved