Hartati Murdaya: Bupati Buol peras saya!
Selasa, 07 Agustus 2012 - 16:49 WIB
Hartati Murdaya: Bupati Buol peras saya!
A
A
A
Sindonews.com - Bos PT Hardaya Inti Plantations Siti Hartati Tjakra Murdaya
alias Hartati Murdaya, angkat bicara terkait kasus yang tengah membelitnya
yaitu dugaan penyuapan terhadap Bupati Buol, Sulawesi Tengah, Amran
Batalipu. Kasus tersebut kini tengah disidik oleh Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK).
Hartati menjelaskan tidak ada suap kepada Amran Batalipu, yang ada
hanyalah dirinya diperas oleh sang bupati yang ingin maju kembali di
Pilkada Buol mendatang.
"Dia minta Rp3 miliar, padahal saya habis kena mogok kerja karyawan. Dia
bilang Ibu harus bantu saya, saya PNS tidak punya uang pribadi untuk maju
Pilkada, dan saya tidak mungkin pakai APBD. Saya ketawa saja waktu itu
dengarnya. Saya tolak secara halus," ujar Hartati saat ditemui di MNC Plaza
Kebon Sirih Jakarta, Selasa (7/8/2012).
Hartati mengakui pernah bertemu dengan Amran sebanyak dua kali yaitu di
Pekan Raya Jakarta (PRJ) dan di Hotel Hyatt Jakarta.
"Dia nunggu saya tiga jam dari jam 2 siang sampai jam 5 sore di PRJ. Padahal
waktu itu saya lagi rapat. Orang saya, Toto, yang bawa dia ke Jakarta. Saya
malas sebetulnya untuk ketemu. Tapi, karena waktu itu bilangnya untuk
perkenalan saja, saya iyakan," katanya.
Pertemuan kedua berlangsung di Hotel Hyatt, dalam pertemuan tersebut Amran
kembali meminta uang kepadanya. Karena bisnis perkebunan sawit miliknya di Buol banyak tak sesuai perjanjian dan justru merugikannya, dia enggan menanggapi permintaan bupati itu.
Hartati mengatakan dirinya ikut terseret lantaran namanya disebut-sebut dalam percakapan telepon antara Toto dengan Amran terkait pemberian sejumlah uang yang dilakukan oleh Toto yang tak lain merupakan karyawannya sendiri.
"Orang (Toto) tanpa sepengetahuan saya mengeluarkan uang Rp2 miliar untuk Pilkada ke Amran. Saya cek di pembukuan keuangan perusahaan tidak ada. Saya minta diaudit, ternyata ada. Pengeluaran uang untuk bonus karyawan yang dia kasih ke Amran. Ternyata dia bohongi saya," paparnya.
Hartati mengaku heran dengan tindakan anak buahnya itu, yang berani tanpa sepengetahuan dirinya mengeluarkan uang untuk Amran.
"Keluarkan uang Rp2 miliar tidak permisi, tidak bilang. Tapi di BAP dia
(Toto) bilang saya oke menyetujui pencairan dana itu. Oke darimana? Mana
buktinya saya keluarkan uang itu?" kata Hartati.
Sebelumnya, Amran melalui kuasa hukumnya Amat Ente mengatakan, anggota Dewan Pembina Partai Dewan Pembina Partai Demokrat yang telah memberikan sejumlah uang kepada Bupati Buol Amran Batalipu. Amat menjelaskan, pemberian uang sebesar Rp2 miliar tersebut diberikan untuk dana kampanye Bupati Buol dan bukan untuk pengurusan HGU.
"Kalau hasil pemeriksaan, Pak Amran terima uang itu untuk bantuan Pilkada (Buol) dari Hartati," katanya di Gedung KPK, Jakarta, Kamis 12 Juli 2012 lalu.
alias Hartati Murdaya, angkat bicara terkait kasus yang tengah membelitnya
yaitu dugaan penyuapan terhadap Bupati Buol, Sulawesi Tengah, Amran
Batalipu. Kasus tersebut kini tengah disidik oleh Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK).
Hartati menjelaskan tidak ada suap kepada Amran Batalipu, yang ada
hanyalah dirinya diperas oleh sang bupati yang ingin maju kembali di
Pilkada Buol mendatang.
"Dia minta Rp3 miliar, padahal saya habis kena mogok kerja karyawan. Dia
bilang Ibu harus bantu saya, saya PNS tidak punya uang pribadi untuk maju
Pilkada, dan saya tidak mungkin pakai APBD. Saya ketawa saja waktu itu
dengarnya. Saya tolak secara halus," ujar Hartati saat ditemui di MNC Plaza
Kebon Sirih Jakarta, Selasa (7/8/2012).
Hartati mengakui pernah bertemu dengan Amran sebanyak dua kali yaitu di
Pekan Raya Jakarta (PRJ) dan di Hotel Hyatt Jakarta.
"Dia nunggu saya tiga jam dari jam 2 siang sampai jam 5 sore di PRJ. Padahal
waktu itu saya lagi rapat. Orang saya, Toto, yang bawa dia ke Jakarta. Saya
malas sebetulnya untuk ketemu. Tapi, karena waktu itu bilangnya untuk
perkenalan saja, saya iyakan," katanya.
Pertemuan kedua berlangsung di Hotel Hyatt, dalam pertemuan tersebut Amran
kembali meminta uang kepadanya. Karena bisnis perkebunan sawit miliknya di Buol banyak tak sesuai perjanjian dan justru merugikannya, dia enggan menanggapi permintaan bupati itu.
Hartati mengatakan dirinya ikut terseret lantaran namanya disebut-sebut dalam percakapan telepon antara Toto dengan Amran terkait pemberian sejumlah uang yang dilakukan oleh Toto yang tak lain merupakan karyawannya sendiri.
"Orang (Toto) tanpa sepengetahuan saya mengeluarkan uang Rp2 miliar untuk Pilkada ke Amran. Saya cek di pembukuan keuangan perusahaan tidak ada. Saya minta diaudit, ternyata ada. Pengeluaran uang untuk bonus karyawan yang dia kasih ke Amran. Ternyata dia bohongi saya," paparnya.
Hartati mengaku heran dengan tindakan anak buahnya itu, yang berani tanpa sepengetahuan dirinya mengeluarkan uang untuk Amran.
"Keluarkan uang Rp2 miliar tidak permisi, tidak bilang. Tapi di BAP dia
(Toto) bilang saya oke menyetujui pencairan dana itu. Oke darimana? Mana
buktinya saya keluarkan uang itu?" kata Hartati.
Sebelumnya, Amran melalui kuasa hukumnya Amat Ente mengatakan, anggota Dewan Pembina Partai Dewan Pembina Partai Demokrat yang telah memberikan sejumlah uang kepada Bupati Buol Amran Batalipu. Amat menjelaskan, pemberian uang sebesar Rp2 miliar tersebut diberikan untuk dana kampanye Bupati Buol dan bukan untuk pengurusan HGU.
"Kalau hasil pemeriksaan, Pak Amran terima uang itu untuk bantuan Pilkada (Buol) dari Hartati," katanya di Gedung KPK, Jakarta, Kamis 12 Juli 2012 lalu.
(mhd)