Kualitas guru masih rendah
Senin, 06 Agustus 2012 - 09:43 WIB
Kualitas guru masih rendah
A
A
A
Sindonews.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan keprihatinannya atas hasil uji kompetensi guru (UKG). Hasil ini menunjukkan bahwa kualitas guru di Indonesia masih rendah. Hasil UKG hanya mencapai nilai 44,5 atau masih di bawah rata-rata nasional.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mengatakan, total guru yang mengikuti UKG mencapai 243.619 orang. Sedangkan skor yang didapat rata-rata 44,55. Kemudian nilai maksimal pun tidak ada yang mencapai 100, hanya 91,12. Nilai ini tidak jauh beda dengan rata-rata nilai uji kompetensi awal (UKA) beberapa waktu yakni 42. “Ini sangat memprihatinkan sekali,” tandas Nuh di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Minggu 5 Agustus 2012.
Dia menyatakan, hasil yang menjadi perhatian utama adalah UKG guru Bahasa Indonesia jenjang sekolah menengah pertama yang mendapat skor paling rendah yaitu 42. Hal ini menjadikan keprihatinan sebab dibandingkan dengan guru IPA, IPS, dan Matematika, Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi bangsa. Karena itu, menurut Nuh, Kemendikbud akan melakukan pembinaan secara berkelanjutan dan bekerja sama dengan Badan Bahasa Kemendikbud untuk melatih para guru Bahasa Indonesia ini.
Mantan Menkominfo ini mengungkapkan, nilai ratarata 44,5 ini tersebar di 316 kabupaten/kota dari total 408 kabupaten/kota. Salah satu daerah itu adalah Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Sulawesi Utara). Sedangkan daerah yang mendapat nilai di atas rata-rata ada 92 kabupaten/kota seperti Kabupaten Purworejo (Jawa Tengah), dan Wonosobo (Jawa Tengah).
Nuh mengatakan, kualitas guru yang rendah ini yang menyebabkan menjamurnya tempat kursus, les privat, atau bimbingan belajar yang diburu oleh siswa untuk mengejar kekurangan serapan ilmu dari para guru yang kemampuan ilmunya masih di bawah ratarata tersebut. “Kita bisa bayangkan jika murid ingin dapat nilai 70, tetapi kemampuan gurunya masih di bawah 70. Mau pakai apa untuk mengurangi kekurangan itu selain dengan kursus di luar?” tanyanya.
Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Sulistiyo menyatakan, pihaknya mempersilakan Kemendikbud melansir rendahnya kemampuan guru dengan cara apa pun. Namun, PGRI tetap bersikukuh bahwa hasil UKG belum dapat menggambarkan kompetensi guru yang komprehensif. Dia mengungkapkan, banyak guru yang baru mengerjakan beberapa butir soal lalu koneksinya terputus dan kemudian ditetapkan melalui sistem yang mendapatkan nilai akhir jelek. Selain itu, ujarnya, ada beberapa soal yang tidak ada jawabannya dan harus diisi seadanya agar dapat dinilai.
“Jadi tak pantas UKG itu disebut ajang uji kompetensi guru,” tandasnya.
Sulistiyo pun meminta pertanggungjawaban Kemendikbud atas soal yang tertukar, soal yang tidak sama dengan kisi-kisi, dan soal yang perlu distandarkan dengan jenjang dan jenis mata pelajaran yang diampu sang guru. Anggota DPD ini juga meminta soal harus diuji publik dulu sebelum diujikan.
Dia sangat menyesalkan kementerian sudah melansir hasil UKG gelombang pertama. Menurut Sulistiyo, hasil dari proses yang belum dapat dipertanggungjawabkan dapat dikatakan akan menyesatkan.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mengatakan, total guru yang mengikuti UKG mencapai 243.619 orang. Sedangkan skor yang didapat rata-rata 44,55. Kemudian nilai maksimal pun tidak ada yang mencapai 100, hanya 91,12. Nilai ini tidak jauh beda dengan rata-rata nilai uji kompetensi awal (UKA) beberapa waktu yakni 42. “Ini sangat memprihatinkan sekali,” tandas Nuh di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Minggu 5 Agustus 2012.
Dia menyatakan, hasil yang menjadi perhatian utama adalah UKG guru Bahasa Indonesia jenjang sekolah menengah pertama yang mendapat skor paling rendah yaitu 42. Hal ini menjadikan keprihatinan sebab dibandingkan dengan guru IPA, IPS, dan Matematika, Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi bangsa. Karena itu, menurut Nuh, Kemendikbud akan melakukan pembinaan secara berkelanjutan dan bekerja sama dengan Badan Bahasa Kemendikbud untuk melatih para guru Bahasa Indonesia ini.
Mantan Menkominfo ini mengungkapkan, nilai ratarata 44,5 ini tersebar di 316 kabupaten/kota dari total 408 kabupaten/kota. Salah satu daerah itu adalah Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Sulawesi Utara). Sedangkan daerah yang mendapat nilai di atas rata-rata ada 92 kabupaten/kota seperti Kabupaten Purworejo (Jawa Tengah), dan Wonosobo (Jawa Tengah).
Nuh mengatakan, kualitas guru yang rendah ini yang menyebabkan menjamurnya tempat kursus, les privat, atau bimbingan belajar yang diburu oleh siswa untuk mengejar kekurangan serapan ilmu dari para guru yang kemampuan ilmunya masih di bawah ratarata tersebut. “Kita bisa bayangkan jika murid ingin dapat nilai 70, tetapi kemampuan gurunya masih di bawah 70. Mau pakai apa untuk mengurangi kekurangan itu selain dengan kursus di luar?” tanyanya.
Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Sulistiyo menyatakan, pihaknya mempersilakan Kemendikbud melansir rendahnya kemampuan guru dengan cara apa pun. Namun, PGRI tetap bersikukuh bahwa hasil UKG belum dapat menggambarkan kompetensi guru yang komprehensif. Dia mengungkapkan, banyak guru yang baru mengerjakan beberapa butir soal lalu koneksinya terputus dan kemudian ditetapkan melalui sistem yang mendapatkan nilai akhir jelek. Selain itu, ujarnya, ada beberapa soal yang tidak ada jawabannya dan harus diisi seadanya agar dapat dinilai.
“Jadi tak pantas UKG itu disebut ajang uji kompetensi guru,” tandasnya.
Sulistiyo pun meminta pertanggungjawaban Kemendikbud atas soal yang tertukar, soal yang tidak sama dengan kisi-kisi, dan soal yang perlu distandarkan dengan jenjang dan jenis mata pelajaran yang diampu sang guru. Anggota DPD ini juga meminta soal harus diuji publik dulu sebelum diujikan.
Dia sangat menyesalkan kementerian sudah melansir hasil UKG gelombang pertama. Menurut Sulistiyo, hasil dari proses yang belum dapat dipertanggungjawabkan dapat dikatakan akan menyesatkan.
(lil)