Kekuatan dirgantara harus diwujudkan
Minggu, 29 Juli 2012 - 17:49 WIB
Kekuatan dirgantara harus diwujudkan
A
A
A
Sindonews.com - Pembangunan kekuatan dirgantara yang didukung sumber daya manusia (SDM) dan teknologi alat utama sistem senjata (alutsista) canggih harus mampu diwujudkan karena berpengaruh pada banyak aspek kepentingan nasional di kancah global. Kekuatan angkatan udara juga sangat menentukan dalam kaitannya kesiapan menghadapi ancaman pertahanan.
Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan, TNI Angkatan Udara merupakan tulang punggung kekuatan dirgantara nasional yang harus dikelola dengan baik sebagai bagian dari komponen kekuatan nasional di bidang pertahanan militer.
"Kekuatan dirgantara kita harus dapat membantu upaya komponen kekuatan negara lainnya seperti diplomasi, ekonomi, dan informasi untuk menghadapi berbagai tantangan dan ancaman dalam membela kepentingan nasional di kancah global antar negara," ujarnya saat peringatan ke-65 hari bakti TNI Angkatan Udara di AAU Yogyakarta, Minggu (29/7/2012).
KSAU menegaskan, kekuatan Angkatan Udara sangat penting karena sekarang ini terjadi pergeseran karakter ancaman. "Angkatan Udara sangat berperan dalam perang modern karena perang modern bentuknya mengandalkan teknologi tinggi,” urainya.
Karenanya TNI Angkatan Udara membuat perencanaan pengadaan alutsista seperti berupa pesawat-pesawat dan radar yang canggih tanpa menabrak kebijakan MEF. Untuk pesawat tempur misalnya, sekarang ini teknologi tercanggih ada pada pesawat F-22 Raptors milik Amerika Serikat karena pesawat itu memiliki kemampuan untuk tidak terlacak radar (stealth). Pesawat dengan kemampuan yang tak jauh beda adalah F-35 yang digunakan beberapa negara sekutu Amerika Serikat.
"Kita belum ke sana, tapi untuk pesawat antiradar ini kita sekarang sedang membuatnya bekerjasama dengan Korea Selatan, yaitu KFX/IFX. Itu pesawat generasi 4,5," beber Imam.
Dirinya berharap pada realisasi kebijakan MEF melalui rencana strategis lima tahunan bisa memodernisasi kekuatan alutsista TNI Angkatan Udara secara bertahap. Terkait realisasi program MEF tersebut pula pada 28 Agustus mendatang akan tiba di tanah air empat unit pesawat tempur ringan Super Tucano. Empat unit lainnya akan menyusul dalam kurun tiga bulan setelahnya. Pesawat ini akan berhome base di Sakdron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh, menggantikan pesawat OV-10F/Bronco.
Namun demikian, Imam mengungkapkan bahwa untuk dapat membangun sebuah angkatan udara yang kuat tidak gampang karena juga diperlukan SDM yang handal. "Juga didukung sumber dana atau anggaran yang tidak sedikit dan pengetahuan akan teknologi tinggi dan modernisasi," sebutnya.
Hal-hal itu sekarang ini masih menjadi tantangan tersendiri dalam membangun kekuatan kedirgantaraan, khususnya TNI Angkatan Udara.
Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan, TNI Angkatan Udara merupakan tulang punggung kekuatan dirgantara nasional yang harus dikelola dengan baik sebagai bagian dari komponen kekuatan nasional di bidang pertahanan militer.
"Kekuatan dirgantara kita harus dapat membantu upaya komponen kekuatan negara lainnya seperti diplomasi, ekonomi, dan informasi untuk menghadapi berbagai tantangan dan ancaman dalam membela kepentingan nasional di kancah global antar negara," ujarnya saat peringatan ke-65 hari bakti TNI Angkatan Udara di AAU Yogyakarta, Minggu (29/7/2012).
KSAU menegaskan, kekuatan Angkatan Udara sangat penting karena sekarang ini terjadi pergeseran karakter ancaman. "Angkatan Udara sangat berperan dalam perang modern karena perang modern bentuknya mengandalkan teknologi tinggi,” urainya.
Karenanya TNI Angkatan Udara membuat perencanaan pengadaan alutsista seperti berupa pesawat-pesawat dan radar yang canggih tanpa menabrak kebijakan MEF. Untuk pesawat tempur misalnya, sekarang ini teknologi tercanggih ada pada pesawat F-22 Raptors milik Amerika Serikat karena pesawat itu memiliki kemampuan untuk tidak terlacak radar (stealth). Pesawat dengan kemampuan yang tak jauh beda adalah F-35 yang digunakan beberapa negara sekutu Amerika Serikat.
"Kita belum ke sana, tapi untuk pesawat antiradar ini kita sekarang sedang membuatnya bekerjasama dengan Korea Selatan, yaitu KFX/IFX. Itu pesawat generasi 4,5," beber Imam.
Dirinya berharap pada realisasi kebijakan MEF melalui rencana strategis lima tahunan bisa memodernisasi kekuatan alutsista TNI Angkatan Udara secara bertahap. Terkait realisasi program MEF tersebut pula pada 28 Agustus mendatang akan tiba di tanah air empat unit pesawat tempur ringan Super Tucano. Empat unit lainnya akan menyusul dalam kurun tiga bulan setelahnya. Pesawat ini akan berhome base di Sakdron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh, menggantikan pesawat OV-10F/Bronco.
Namun demikian, Imam mengungkapkan bahwa untuk dapat membangun sebuah angkatan udara yang kuat tidak gampang karena juga diperlukan SDM yang handal. "Juga didukung sumber dana atau anggaran yang tidak sedikit dan pengetahuan akan teknologi tinggi dan modernisasi," sebutnya.
Hal-hal itu sekarang ini masih menjadi tantangan tersendiri dalam membangun kekuatan kedirgantaraan, khususnya TNI Angkatan Udara.
(hyk)