Pasokan kebutuhan pokok
Selasa, 17 Juli 2012 - 08:31 WIB
Pasokan kebutuhan pokok
A
A
A
Bulan suci Ramadan tinggal beberapa hari lagi. Harga-harga kebutuhan pokok terus merangkak naik.
Kenaikan harga tersebut sudah menjadi tradisi setiap tahun yang biasanya bertengger di level 5 persen hingga 10 persen. Bagi pemerintah, kenaikan harga itu masih dalam batas yang bisa ditoleransi, mengingat lonjakan harga tersebut lebih disebabkan kenaikan permintaan yang mencapai hingga 20 persen.
Karena itu, pemerintah lebih berkonsentrasi menjaga ketersediaan stok dan kelancaran pendistribusian kebutuhan pokok hingga pasar-pasar tradisional. Rakyat tentu sudah mengantisipasi kenaikan tersebut, selama masih dalam batas kewajaran.
Karena kenaikan harga kebutuhan pokok sudah diterima rakyat sebagai salah satu ritual tahunan dalam rangka menyambut bulan suci dan hari raya. Namun jika nantinya kenaikan harga makin liar, tentunya rakyat akan menjerit.
Lalu, bagaimana sebenarnya kondisi pasokan kebutuhan pokok menghadapi bulan Ramadan tahun ini? Kementerian Perdagangan menjamin stok bahan pokok tersedia selama bulan puasa hingga Lebaran.
Sebagaimana diungkapkan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan Gunaryo, masyarakat tidak perlu khawatir akan kekurangan bahan pokok meski di sejumlah pasar tradisional di daerah sedang dikabarkan mulai langka berbagai bahan pokok yang memicu kenaikan harga.
Kementerian Perdagangan mengakui kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok tidak bisa ditahan lagi. Mulai daging sapi, telur, hingga daging ayam sudah di atas 5 persen, namun harga beras relatif terkendali di tengah kenaikan kebutuhan pokok lainnya.
“Kenaikan harga itu cukup signifikan tetapi hanya terjadi di beberapa tempat,” ungkap Gunaryo dalam jumpa pers kemarin.
Mengantisipasi kenaikan harga tersebut, Kementerian Perdagangan meminta pemerintah daerah membentuk posko bahan pokok dan mengintensifkan pemantauan harga.
Selain itu, pemerintah juga mencanangkan menggelar pasar murah untuk menahan lonjakan harga. Operasi pasar secara berangsur diharapkan mulai digelar minggu ini, sedangkan pasar murah diadakan pada wilayah-wilayah tertentu dengan menjual berbagai komoditi yang sedang dibutuhkan masyarakat.
Kita berharap kesiapan pemerintah mengamankan pasokan kebutuhan pokok sepanjang bulan puasa hingga Lebaran tidak meleset dari rencana. Pihak Kementerian Perdagangan optimistis strategi yang telah disusun bersama pihak terkait akan menjamin ketersediaan pasokan dan distribusi kebutuhan pokok dalam sebulan ke depan.
Gunaryo mengaku telah berkoordinasi secara intensif kepada pemangku kepentingan, di antaranya pemerintah daerah, produsen, pemasok, hingga para distributor.
Selain itu,Kementerian Perdagangan sudah meminta Bulog menggelar operasi pasar bila sewaktu-waktu harga beras melonjak. Terlepas dari strategi pemerintah dalam mengantisipasi melonjaknya harga kebutuhan pokok selama bulan puasa hingga Lebaran, secara teori kenaikan harga memang sulit dihindari.
Dengan mengacu pada teori ekspektasi, pengamat ekonomi Bustanul Arifin menjelaskan bahwa menjelang bulan suci Ramadan ada harapan produsen dan pedagang atas kenaikan harga, karena konsumen tetap akan membeli kebutuhan pokok berapa pun harganya.
Sebenarnya,kondisi tersebut tidak perlu terjadi seandainya tetap ada pengawasan yang ketat dari lembaga yang dibentuk khusus untuk pemantauan harga. Meski demikian, kita berharap kenaikan harga kebutuhan pokok tetap dalam pantauan pemerintah.
Strategi mengatasi kenaikan harga dengan melibatkan lembaga terkait dapat berjalan maksimal, misalnya kaitan dengan Kementerian Perhubungan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang bisa menghambat proses distribusi bisa diatasi secepat mungkin bila terjadi sumbatan.
Sebab sudah bukan rahasia lagi,persoalan koordinasi antarinstansi di lingkungan pemerintahan selama ini sesuatu yang sangat mahal alias sulit diwujudkan.
Kenaikan harga tersebut sudah menjadi tradisi setiap tahun yang biasanya bertengger di level 5 persen hingga 10 persen. Bagi pemerintah, kenaikan harga itu masih dalam batas yang bisa ditoleransi, mengingat lonjakan harga tersebut lebih disebabkan kenaikan permintaan yang mencapai hingga 20 persen.
Karena itu, pemerintah lebih berkonsentrasi menjaga ketersediaan stok dan kelancaran pendistribusian kebutuhan pokok hingga pasar-pasar tradisional. Rakyat tentu sudah mengantisipasi kenaikan tersebut, selama masih dalam batas kewajaran.
Karena kenaikan harga kebutuhan pokok sudah diterima rakyat sebagai salah satu ritual tahunan dalam rangka menyambut bulan suci dan hari raya. Namun jika nantinya kenaikan harga makin liar, tentunya rakyat akan menjerit.
Lalu, bagaimana sebenarnya kondisi pasokan kebutuhan pokok menghadapi bulan Ramadan tahun ini? Kementerian Perdagangan menjamin stok bahan pokok tersedia selama bulan puasa hingga Lebaran.
Sebagaimana diungkapkan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan Gunaryo, masyarakat tidak perlu khawatir akan kekurangan bahan pokok meski di sejumlah pasar tradisional di daerah sedang dikabarkan mulai langka berbagai bahan pokok yang memicu kenaikan harga.
Kementerian Perdagangan mengakui kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok tidak bisa ditahan lagi. Mulai daging sapi, telur, hingga daging ayam sudah di atas 5 persen, namun harga beras relatif terkendali di tengah kenaikan kebutuhan pokok lainnya.
“Kenaikan harga itu cukup signifikan tetapi hanya terjadi di beberapa tempat,” ungkap Gunaryo dalam jumpa pers kemarin.
Mengantisipasi kenaikan harga tersebut, Kementerian Perdagangan meminta pemerintah daerah membentuk posko bahan pokok dan mengintensifkan pemantauan harga.
Selain itu, pemerintah juga mencanangkan menggelar pasar murah untuk menahan lonjakan harga. Operasi pasar secara berangsur diharapkan mulai digelar minggu ini, sedangkan pasar murah diadakan pada wilayah-wilayah tertentu dengan menjual berbagai komoditi yang sedang dibutuhkan masyarakat.
Kita berharap kesiapan pemerintah mengamankan pasokan kebutuhan pokok sepanjang bulan puasa hingga Lebaran tidak meleset dari rencana. Pihak Kementerian Perdagangan optimistis strategi yang telah disusun bersama pihak terkait akan menjamin ketersediaan pasokan dan distribusi kebutuhan pokok dalam sebulan ke depan.
Gunaryo mengaku telah berkoordinasi secara intensif kepada pemangku kepentingan, di antaranya pemerintah daerah, produsen, pemasok, hingga para distributor.
Selain itu,Kementerian Perdagangan sudah meminta Bulog menggelar operasi pasar bila sewaktu-waktu harga beras melonjak. Terlepas dari strategi pemerintah dalam mengantisipasi melonjaknya harga kebutuhan pokok selama bulan puasa hingga Lebaran, secara teori kenaikan harga memang sulit dihindari.
Dengan mengacu pada teori ekspektasi, pengamat ekonomi Bustanul Arifin menjelaskan bahwa menjelang bulan suci Ramadan ada harapan produsen dan pedagang atas kenaikan harga, karena konsumen tetap akan membeli kebutuhan pokok berapa pun harganya.
Sebenarnya,kondisi tersebut tidak perlu terjadi seandainya tetap ada pengawasan yang ketat dari lembaga yang dibentuk khusus untuk pemantauan harga. Meski demikian, kita berharap kenaikan harga kebutuhan pokok tetap dalam pantauan pemerintah.
Strategi mengatasi kenaikan harga dengan melibatkan lembaga terkait dapat berjalan maksimal, misalnya kaitan dengan Kementerian Perhubungan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang bisa menghambat proses distribusi bisa diatasi secepat mungkin bila terjadi sumbatan.
Sebab sudah bukan rahasia lagi,persoalan koordinasi antarinstansi di lingkungan pemerintahan selama ini sesuatu yang sangat mahal alias sulit diwujudkan.
(lns)