Jelang kenaikan BBM, SBY kabur ke China

Kamis, 22 Maret 2012 - 13:13 WIB
Jelang kenaikan BBM,...
Jelang kenaikan BBM, SBY kabur ke China
A A A
Sindonews.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai melarikan diri dari tanggung jawabnya sebagai kepala negara untuk mengumumkan keputusan kontroversial mengenai kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) pada tanggal 1 April 2012 mendatang.

Hal tersebut dikarenakan mulai hari ini Presiden SBY akan berkunjung ke China untuk melakukan kunjungan sampai dengan dua minggu ke depan yang artinya melewati tanggal pada saat pengumuman kenaikan BBM terjadi.

”Dengan kepergian presiden ke luar negeri, Presiden terkesan buang badan dengan menyerahkan pengumuman kenaikan BBM kepada para menteri,” kata sekertaris fraksi partai Hanura, Saleh Hussein, saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (22/3/2012).

Padahal, menurut Saleh, pengumuman kebijakan yang menyangkut kepentingan rakyat Indonesia tersebut sudah seharusnya dilakukan oleh kepala negara. Namun, presiden saat ini nampaknya menyerahkan tanggung jawab tersebut kepada para menterinya.

”Tentu mugkin ini merupakan sudah merupakan suatu tugas tersendiri dari kepala negara. Namun, ternyata presiden malah memberikan tanggung jawab ini ke menterinya untuk menghadapi daerah yang rata-rata menolak kenaikan harga BBM ini,” jelas Saleh. (wbs)
()
Berita Terkini
Vesak Festival 2026,...
Vesak Festival 2026, Stafsus Menag Doakan Presiden Prabowo Diberi Kekuatan Memimpin Bangsa
Relawan Sebut Prabowo...
Relawan Sebut Prabowo Sedang Memimpin Perang Besar Melawan Mafia Ekonomi dan SDA
Ajakan Tobat Ekologis...
Ajakan Tobat Ekologis Menteri Jumhur Sangat Tepat dan Relevan
KPK Sebut Penerimaan...
KPK Sebut Penerimaan Murid Baru Masih Dibayangi Pungli
Ditetapkan Tersangka...
Ditetapkan Tersangka oleh KPK, Bupati Cilacap Syamsul Ajukan Praperadilan
Langkah Berani Kejagung...
Langkah Berani Kejagung Sentuh Korupsi MBG Jadi Sinyal Kuat Penegakan Hukum Tanpa Impunitas
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved