SBY : Jangan dengarkan orang pesimis
Kamis, 19 Januari 2012 - 18:53 WIB
SBY : Jangan dengarkan orang pesimis
A
A
A
Sindonews.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan, pada 2009 lalu, dunia memprediksi kondisi Indonesia akan semakin buruk dan berpotensi menjadi bangsa yang gagal. Namun semua itu dibantah dengan kenyataan ekonomi dan politik Indonesia yang semakin stabil.
"Dulu saat negara kita dalam masa-masa yang sulit, kita sering dicemooh dan diramalkan yang buruk-buruk oleh dunia. Antara lain karena krisis, kita akan terkena balkanisasi," kata SBY dalam rapat kerja pemerintah 2012 di Hall C1, Jakarta Internasional Expo, Arena Pekan Raya Jakarta Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (19/1/2012).
Ditambahkan SBY, saat dunia Internasional mencemooh dan memandang sinis Indonesia, dirinya justru menantang semua ramalan itu dan mengatakan Indonesia mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa besar.
"Saya ingin saudara mengingat pertemuan akhir 2009. Dulu saya sampaikan, siapa bilang Indonesia tidak bisa. Saat Indonesia tidak menentu, termasuk kecemasan negara maju sekarang ini, maka kita harus memiliki keyakinan diri dengan kerja keras kita," tambahnya.
Seperti penegakkan Hak Asasi Manusia (HAM), menggelar Pemilihan Umum (Pemilu) langsung, menyelesaikan konflik Aceh dan pemberantasan korupsi. Pihak asing, tambah SBY, selalu melihat pesimis kemampuan Pemerintah Indonesia dalam menyelesaikan urusan dalam negerinya. Karena itu lah, saatnya tunjukan pada dunia bahwa Indonesia mempunyai kemampuan dalam menyelesaikan segala persoalan yang terjadi.
"Kita bertekad memajukan HAM diragukan, menggelar pemilu langsung mereka anggap hanya mimpi. Penyelesaian konflik Aceh dianggap wacana, pemberantasan korupsi hanya wacana dan bertahan dari krisis global hanya isapan jempol. Tapi kita bertahan dengan gigih dan akhirnya kita bisa mencapai seperti sekarang ini," ungkapnya bangga.
Di penghujung masa jabatannya, SBY mengaku tidak akan bicara panjang lebar dan muluk-muluk. Semua kebijakan yang dinilai baik harus dilanjutkan dan yang buruk harus lebih diperbaiki. Intinya, kata dia, bekerja lebih gigih dan lebih baik lagi dari yang sudah dicapai.
"Kita memerlukan strategi untuk memajukan bangsa ini, caranya kita kerahkan dan satukan potensi dan sumber daya alam di seluruh indonesia yang selama ini belum digali. Kita juga harus berpikir lebih cerdas dan bekerja lebih keras. Kita harus mengatasi debotlenecking dan peningkatan sasaran pembangunan," terangnya.
Untuk menjadi bangsa yang kuat, menurut SBY kuncinya adalah dengan menjaga stabilitas politik, kerukunan sosial, manajemen di kabupaten kota baik, kepemimpinan baik dan kemitraan. Semua pihak, tambahnya, harus diajak seperti kata pepatah berat di pikul ringan sama dijinjing.
"Saya kira saudara sudah tahu, tapi kewajiban saya untuk mengingatkan kembali. Era kita sekarang ini, saatnya kita bersatu, bangkit dan maju. Melihat di Amerika, Afrika dan Timur Tengah (Timteng), maka saat ditanya yang menolong kita tidak lain hanya kita sendiri. Bukan mitra lain, PBB, saya minta jangan dengarkan orang yang pesimis," tukasnya. (san)
"Dulu saat negara kita dalam masa-masa yang sulit, kita sering dicemooh dan diramalkan yang buruk-buruk oleh dunia. Antara lain karena krisis, kita akan terkena balkanisasi," kata SBY dalam rapat kerja pemerintah 2012 di Hall C1, Jakarta Internasional Expo, Arena Pekan Raya Jakarta Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (19/1/2012).
Ditambahkan SBY, saat dunia Internasional mencemooh dan memandang sinis Indonesia, dirinya justru menantang semua ramalan itu dan mengatakan Indonesia mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa besar.
"Saya ingin saudara mengingat pertemuan akhir 2009. Dulu saya sampaikan, siapa bilang Indonesia tidak bisa. Saat Indonesia tidak menentu, termasuk kecemasan negara maju sekarang ini, maka kita harus memiliki keyakinan diri dengan kerja keras kita," tambahnya.
Seperti penegakkan Hak Asasi Manusia (HAM), menggelar Pemilihan Umum (Pemilu) langsung, menyelesaikan konflik Aceh dan pemberantasan korupsi. Pihak asing, tambah SBY, selalu melihat pesimis kemampuan Pemerintah Indonesia dalam menyelesaikan urusan dalam negerinya. Karena itu lah, saatnya tunjukan pada dunia bahwa Indonesia mempunyai kemampuan dalam menyelesaikan segala persoalan yang terjadi.
"Kita bertekad memajukan HAM diragukan, menggelar pemilu langsung mereka anggap hanya mimpi. Penyelesaian konflik Aceh dianggap wacana, pemberantasan korupsi hanya wacana dan bertahan dari krisis global hanya isapan jempol. Tapi kita bertahan dengan gigih dan akhirnya kita bisa mencapai seperti sekarang ini," ungkapnya bangga.
Di penghujung masa jabatannya, SBY mengaku tidak akan bicara panjang lebar dan muluk-muluk. Semua kebijakan yang dinilai baik harus dilanjutkan dan yang buruk harus lebih diperbaiki. Intinya, kata dia, bekerja lebih gigih dan lebih baik lagi dari yang sudah dicapai.
"Kita memerlukan strategi untuk memajukan bangsa ini, caranya kita kerahkan dan satukan potensi dan sumber daya alam di seluruh indonesia yang selama ini belum digali. Kita juga harus berpikir lebih cerdas dan bekerja lebih keras. Kita harus mengatasi debotlenecking dan peningkatan sasaran pembangunan," terangnya.
Untuk menjadi bangsa yang kuat, menurut SBY kuncinya adalah dengan menjaga stabilitas politik, kerukunan sosial, manajemen di kabupaten kota baik, kepemimpinan baik dan kemitraan. Semua pihak, tambahnya, harus diajak seperti kata pepatah berat di pikul ringan sama dijinjing.
"Saya kira saudara sudah tahu, tapi kewajiban saya untuk mengingatkan kembali. Era kita sekarang ini, saatnya kita bersatu, bangkit dan maju. Melihat di Amerika, Afrika dan Timur Tengah (Timteng), maka saat ditanya yang menolong kita tidak lain hanya kita sendiri. Bukan mitra lain, PBB, saya minta jangan dengarkan orang yang pesimis," tukasnya. (san)
()