alexametrics

Efek Domino Tutupnya Hotel

loading...
A+ A-
Alit Suwirya
Direktur Sebuah Perusahaan Ternama
WABAH Covid-19 yang melanda dunia sangat mempengaruhi dunia pariwisata di Indonesia. Berdasarkan data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), akibat corona, 1.139 hotel di Indonesia sudah stop beroperasi. Tutupnya hotel ini memiliki efek domino yang sangat luas mengingat hotel merupakan salah satu bisnis yang melibatkan banyak pihak dalam menjalankan kegiatan operasionalnya.
Pihak pertama yang paling merasakan imbas dari tutupnya hotel adalah karyawan baik yang berstatus karyawan tetap, outsource dan freelance. Merumahkan karyawan menjadi satu-satunya alternatif yang bisa diambil untuk menyelamatkan operasional perusahaan.

Sektor selanjutnya yang mengalami dampak adalah sektor pertanian. Seperti diketahui produk pertanian di Bandung sangat tinggi diserap oleh hotel yang mengadakan MICE. Produk tersebut dimulai dari beras, sayur, susu murni, hingga buah-buahan akan mengalami penurunan penjualan bila wabah COVID 19 ini menyebabkan tutupnya hotel dalam jangka waktu yang lama Pendapatan Asli Daerah (PAD) kabupaten/kota akan menurun. (Baca juga: PHRI: Terimbas Corona, 1.139 Hotel Stop Operasional)

Salah satu hotel yang dihubungi redaksi yang mendapat penghargaan sebagai pembayar pajak terbanyak di Kota Bandung pada tahun 2019 memutuskan untuk menutup hotelnya pada akhir Maret 2020. Tentu saja keputusan ini membuat pemerintah kota Bandung perlu merevisi target penerimaan pajak dan selanjutnya berpengaruh terhadap rencana pembangunan di kota Bandung.



Perusahaan pendukung perawatan gedung hotel yang melibatkan banyak pihak akibat wabah COVID 19 sangat berpengaruh pada pendapatan vendor tersebut. Sebut saja provider internet, tv kabel, listrik, perawatan AC, laundry dan usaha penunjang lainnya yang akan kehilangan klien selama tutupnya hotel.

Dengan bertambahnya jumlah pengangguran akibat tutupnya hotel bisa diprediksi akan meningkatkan jumlah kriminalitas di Indonesia. Perekonomian akan terpuruk akibat tidak adanya rasa aman dalam bekerja dan berusaha. Saya mengusulkan kepada pemerintah agar warga negara bekerja seperti biasa tanpa takut adanya Corona. Namun, tentu saja dengan tetap menjaga jarak, rajin cuci tangan, dan pakai masker.

Selama ini yang dikhawatirkan pemerintah adalah kapasitas rumah sakit tidak mampu menampung pasien apabila jumlah penderita Covid 19 membludak. Selain dengan sebisa mungkin mengurangi jumlah pasien yang terinfeksi, pemerintah sebaiknya berencana menambah kapasitas rumah sakit dengan membuat RS darurat sesuai dengan prediksi para ahli statistik yang sudah menganalisisnya.

Menteri Erick Tohir pernah menyatakan keheranannya bahwa banyak BUMN di Indonesia punya hotel, sekarang lah saatnya hotel-hotel tersebut yang tersebar di seluruh Indonesia dialihfungsikan menjadi RS Darurat. Perlengkapan seperti ventilator dan APD juga segera dilakukan pengadaan besar-besaran dengan jumlah yang sesuai prediksi para ahli statistik.

Dana pengadaan ini bisa diadakan dengan mengurangi pos anggaran yang tidak mendesak atau dengan menunda beberapa proyek infrastruktur besar. Pemerintah juga bisa meminta bantuan pihak swasta dalam bentuk CSR untuk melengkapi pengadaan alat penunjang di RS darurat tersebut.

Lalu bagaimana dengan penambahan tenaga medis? Seperti kita ketahui tidak mungkin menambah tenaga ahli medis dalam waktu singkat. Untuk itu pemerintah bisa meminta bantuan dari China untuk mengirimkan tenaga medis sehingga bisa memenuhi kebutuhan di RS darurat.

Apabila semua langkah ini bisa dilakukan dengan baik maka semua warga negara tidak mengalami kekhawatiran lagi dalam bekerja karena mereka tahu sudah ada Rumah Sakit yang siap menampung bila mereka terkena virus COVID 19. Begitu juga dengan perekonomian yang akan berjalan seperti biasa yang menghasilkan manfaat ekonomi untuk masyarakat dan pendapatan pajak untuk pemerintah.
*Tulisan ini sebelumnya sudah dimuat di bisnisbandung.com
(poe)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top