Dinilai Menghambat, Terawan Diminta Segera Revisi Permenkes 9/2020

Senin, 06 April 2020 - 14:17 WIB
Dinilai Menghambat,...
Dinilai Menghambat, Terawan Diminta Segera Revisi Permenkes 9/2020
A A A
JAKARTA - Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) Indonesia menilai, strategi pemerintah dalam menangani wabah virus corona (COVID-19) belum signifikan. Salah satunya, dengan terbitnya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Direktur Advokasi dan Jaringan PSHK Fajri Nusryamsi menilai, regulasi yang dikeluarkan Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto itu malah justru mempersulit birokrasi penetapan kebijakan penanganan COVID-19.

Menurutnya, Permenkes No 9/2020 itu berpotensi memperlambat penanganan Covid-19 yang diupayakan pemerintah. (Baca juga: Permenkes PSBB, Jokowi Minta Komunikasi Pusat-Daerah Diintensifkan)

"Alih-alih mempercepat, justru peraturan tersebut malah menambah rentang birokrasi dan cenderung keluar dari mandat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Karantina Wilayah. Sehingga berpotensi semakin lambatnya penanganan COVID-19 oleh pemerintah," kata Fajri kepada SINDOnews, Senin (6/4/2020).

Terkait adanya hal itu, Fajri berharap, pemerintah dan DPR segera melakukan berbagai perubahan jitu sehingga wabah corona bisa teratasi. Ia pun menyampaikan ada tiga tuntutan PSHK terhadap pemerintah dan DPR dalam penanganan pandemi ini.

Pertama, PSHK meminta agar Menkes segera merevisi Permenkes 9/2020 dengan memangkas birokrasi dalam penetapan PSBB. Caranya yaitu dengan menjadikan usulan pemerintah daerah untuk penetapan PSBB lebih sederhana, dengan menjadikan data jumlah dan persebaran kasus corona diambil dari data nasional.

"Selain itu, menjadikan Gugus Tugas sebagai forum koordinasi dan pengambilan keputusan wilayah mana saja yang layak diberlakukan PSBB, atau bahkan karantina wilayah," kata dia.

Tuntutan berikutnya yakni, Presiden harus melakukan restrukturisasi dalam Gugus Tugas dengan menempatkan presiden/wakil presiden atau Menkes sebagai Ketua Gugus Tugas demi efektivitas dan akuntabilitas kerja Gugus Tugas dalam pengambilan kebijakan.

"Di samping itu, menyesuaikan dengan status Kedaruratan Kesehatan yang sudah ditetapkan melalui Keppres 11 Tahun 2020 dan bukan darurat bencana," tegasnya.

Terakhir kata Fajri, DPR harus segera menghentikan seluruh agenda legislasi kecuali pembahasan, Perppu 1 Tahun 2020 dan lebih fokus untuk melakukan pengawasan terhadap kebijakan-kebijakan percepatan penanganan corona.

"Kemudian, DPR juga harus mendesak pemerintah segera mengajukan usul revisi APBN 2020 untuk direalokasikan kepada penanganan COVID-19," ujarnya.
(maf)
Berita Terkait
Kementerian Kesehatan...
Kementerian Kesehatan Setujui Penerapan PSBB di Makassar
Kemenkes Umumkan Covid-19...
Kemenkes Umumkan Covid-19 Varian Baru Masuk Indonesia
Pakar Kesehatan: Penularan...
Pakar Kesehatan: Penularan COVID-19 Paling Tinggi di Kementerian
Kemenkes Optimistis...
Kemenkes Optimistis Kebutuhan Vaksin di Indonesia Bakal Terpenuhi
Kemenkes Ungkap Bahaya...
Kemenkes Ungkap Bahaya Penularan Antraks, Bisa Sebabkan Meningitis hingga Kematian
Kemenkes Restui Pekanbaru...
Kemenkes Restui Pekanbaru Berlakukan PSBB
Berita Terkini
Partai Perindo Dorong...
Partai Perindo Dorong Aturan Pemilu Harus Adil dan Setara: Nomor Urut Parpol Dikocok Ulang
Pigai Usul Jabatan Utama...
Pigai Usul Jabatan Utama Polri Bisa Diisi Sipil, Pakar Hukum: Bisa Timbulkan Persoalan
Wali Kota Agustina Bawa...
Wali Kota Agustina Bawa Inovasi Semarang ke Panggung Nasional, Tawarkan Solusi Ketahanan Pangan Kota Masa Depan
Sari Yuliati Terpilih...
Sari Yuliati Terpilih sebagai Ketum PPK Kosgoro 1957 Periode 2026-2031
Prabowo Berulang Kali...
Prabowo Berulang Kali Ingatkan Jajarannya, Tugas Berat adalah Melawan Korupsi
Kasus dr Tifa dan Roy...
Kasus dr Tifa dan Roy Suryo P-21, Akankah Polemik Ijazah Berakhir di Pengadilan?
Infografis
9 Poin Penegasan Rektor...
9 Poin Penegasan Rektor UGM terkait Ijazah Jokowi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved