Aksi Lempar Kursi Warnai Kongres PAN, Pengamat: Tidak Dewasa
Selasa, 11 Februari 2020 - 16:35 WIB
Aksi Lempar Kursi Warnai Kongres PAN, Pengamat: Tidak Dewasa
A
A
A
JAKARTA - Kongres V Partai Amanat Nasional (PAN) berjalan ricuh. Aksi lempar kursi mewarnai kongres yang berlangsung di Kendari, Sulawesi Tenggara itu. Tidak sedikit peserta kongres yang mengalami luka akibat terkena lemparan kursi.
Menyikapi insiden itu, ahli komunikasi politik, Emrus Sihombing berpendapat bisa jadi aksi saling lempar kursi yang terjadi di Kongres V PAN menunjukkany adanya ketidakdewasaan politik.
"Ketidakdewasaan politik. Peristiwa yang sangat memprihatinkan ini menyampaikan makna kepada publik bahwa secara umum di PAN sedang terjadi ketidakdewasaan berpolitik, dan secara khusus bagi para politisi yang melakukan tindakan saling melempar kursi di ruang kongres," kata Emrus, Selasa (11/2/2020).
Menurut dia, suka atau tidak suka peristiwa ini bisa menimbulkan penilaian publik atau rakyat Indonesia bahwa PAN belum mejadi partai yang dapat menyelesaikan persoalan atau perbedaan politik antar faksi di PAN secara elegan dan dewasa.(Baca juga: Kongres PAN Ricuh Lagi, Kubu Mulfachri Sebut 30 Pendukungnya Luka-Luka )
Dia menilai perilaku saling melempar kursi menunjukkan para politikus di internal PAN masih bertindak yang didominasi oleh emosi. Padahal, fungsi sebuah partai memberikan teladan, pendidikan dan kedewasaan politik kepada masyarakat yang sekaligus merupakan wadah untuk melahirkan pemimpin legislatif dan eksekutif yang mumpuni.
Emrus berpendapat mereka yang terlibat dalam aksi saling melempar kursi belum memenuhi syarat sebagai anggota dan kader sebuah partai modern sekaligus belum layak mejadi pemimpin publik baik sebagai anggota legislatif maupun pimpinan eksekutif.
"Karena itu, pendewasaan politik dan demokrasi di internal PAN harus menjadi agenda yang sangat utama, siapa pun yang terpilih memimpin PAN lima tahun ke depan," tandas Direktur Eksekutif EmrusCorner ini.
Insiden ini dinilai sebagai bukti menurunnya kredibilitas para tokoh di PAN sebagai panutan. Kejadian saling melempar kursi ini sekaligus memperlihatkan kepada masyarakat bahwa kredibilitas para tokoh yang ada di PAN masih belum sepenuhnya menjadi rujukan.
Menurut dia, kongres sebagai wadah pengambilan keputusan tertinggi telah dinodai oleh tindakan yang tidak terpuji dengan saling melempar kursi oleh sebagian orang yang ada di sana.
"Pertanyaan kritis, kenapa itu bisa terjadi? Tentu, orang yang melakukan tersebut sudah tidak menghargai kredibilitas para tokoh yang ada di PAN itu sendiri. Akan lain halnya, bila salah satu atau beberapa tokoh di PAN masih kredibel di mata mereka, maka kejadiaan saling melempar kursi tidak akan terjadi," tuturnya.
Dia berpendapat kredibilitas tokoh di suatu partai politik sangat ditentukan perilaku keseharian para tokoh ketika berelasi dan atau menangani berbagai persoalan di internal partai.
Emrus menilai jika para tokoh menunjukkan kepemimpinan yang di antaranya adil, jujur, mengayomi, sabar, dapat dipercaya, menguasai di bidangnya serta mengedepankan kepentingan partai di atas kepentingan faksi-faksi dan kroninya, maka tokoh tersebut dipastikan akan dihargai dan dihormati oleh semua anggota dan atau kader partai.
"Jadi peristiwa yang terjadi Kongres V PAN tersebut tidak hanya evaluasi bagi para pelakunya, tetapi yang sangat penting merupakan introspeksi mendalam bagi para tokoh yang ada di PAN itu sendiri," tuturnya.
Menyikapi insiden itu, ahli komunikasi politik, Emrus Sihombing berpendapat bisa jadi aksi saling lempar kursi yang terjadi di Kongres V PAN menunjukkany adanya ketidakdewasaan politik.
"Ketidakdewasaan politik. Peristiwa yang sangat memprihatinkan ini menyampaikan makna kepada publik bahwa secara umum di PAN sedang terjadi ketidakdewasaan berpolitik, dan secara khusus bagi para politisi yang melakukan tindakan saling melempar kursi di ruang kongres," kata Emrus, Selasa (11/2/2020).
Menurut dia, suka atau tidak suka peristiwa ini bisa menimbulkan penilaian publik atau rakyat Indonesia bahwa PAN belum mejadi partai yang dapat menyelesaikan persoalan atau perbedaan politik antar faksi di PAN secara elegan dan dewasa.(Baca juga: Kongres PAN Ricuh Lagi, Kubu Mulfachri Sebut 30 Pendukungnya Luka-Luka )
Dia menilai perilaku saling melempar kursi menunjukkan para politikus di internal PAN masih bertindak yang didominasi oleh emosi. Padahal, fungsi sebuah partai memberikan teladan, pendidikan dan kedewasaan politik kepada masyarakat yang sekaligus merupakan wadah untuk melahirkan pemimpin legislatif dan eksekutif yang mumpuni.
Emrus berpendapat mereka yang terlibat dalam aksi saling melempar kursi belum memenuhi syarat sebagai anggota dan kader sebuah partai modern sekaligus belum layak mejadi pemimpin publik baik sebagai anggota legislatif maupun pimpinan eksekutif.
"Karena itu, pendewasaan politik dan demokrasi di internal PAN harus menjadi agenda yang sangat utama, siapa pun yang terpilih memimpin PAN lima tahun ke depan," tandas Direktur Eksekutif EmrusCorner ini.
Insiden ini dinilai sebagai bukti menurunnya kredibilitas para tokoh di PAN sebagai panutan. Kejadian saling melempar kursi ini sekaligus memperlihatkan kepada masyarakat bahwa kredibilitas para tokoh yang ada di PAN masih belum sepenuhnya menjadi rujukan.
Menurut dia, kongres sebagai wadah pengambilan keputusan tertinggi telah dinodai oleh tindakan yang tidak terpuji dengan saling melempar kursi oleh sebagian orang yang ada di sana.
"Pertanyaan kritis, kenapa itu bisa terjadi? Tentu, orang yang melakukan tersebut sudah tidak menghargai kredibilitas para tokoh yang ada di PAN itu sendiri. Akan lain halnya, bila salah satu atau beberapa tokoh di PAN masih kredibel di mata mereka, maka kejadiaan saling melempar kursi tidak akan terjadi," tuturnya.
Dia berpendapat kredibilitas tokoh di suatu partai politik sangat ditentukan perilaku keseharian para tokoh ketika berelasi dan atau menangani berbagai persoalan di internal partai.
Emrus menilai jika para tokoh menunjukkan kepemimpinan yang di antaranya adil, jujur, mengayomi, sabar, dapat dipercaya, menguasai di bidangnya serta mengedepankan kepentingan partai di atas kepentingan faksi-faksi dan kroninya, maka tokoh tersebut dipastikan akan dihargai dan dihormati oleh semua anggota dan atau kader partai.
"Jadi peristiwa yang terjadi Kongres V PAN tersebut tidak hanya evaluasi bagi para pelakunya, tetapi yang sangat penting merupakan introspeksi mendalam bagi para tokoh yang ada di PAN itu sendiri," tuturnya.
(dam)