Pemekaran Kapuas Raya, Anggota DPR Lasarus: Lebih Cepat Mekar Lebih Baik

Sabtu, 08 Februari 2020 - 05:11 WIB
Pemekaran Kapuas Raya,...
Pemekaran Kapuas Raya, Anggota DPR Lasarus: Lebih Cepat Mekar Lebih Baik
A A A
JAKARTA - Anggota DPR RI dapil Kalimantan Barat, Lasarus mengatakan pemekaran Kapuas Raya bergantung pada upaya pemerintah daerah dalam hal ini Provinsi Kalimantan Barat. Apalagi saat ini moratorium pemekaran masih berlaku di Indonesia.
“Sejauh ini masih moratorium, tergantung bagaimana kuatnya kita mendesak Pemerintah Pusat. Kami di DPR sana tinggal menunggu saja, asal buka kerannya kita langsung gerak,” katanya, Jumat (7/2/2020).

Dia menjelaskan, permasalahan pemekaran sebelumnya ada di kesepakatan daerah, bukan pada kebijakan Pemerintah Pusat. “Kita punya pengalaman pemerintah daerahnya tidak peduli dengan pemekaran. Ini harus dijawab dengan gubernur sekarang, bahwa sekarang kita perlu pemekaran, tidak sama dengan yang dulu,” terangnya.

Namun melihat upaya yang dilakukan Gubernur Kalbar, Sutarmidji kini, menurutnya lebih baik. Semua memang harus lewat peran Pemerintah Daerah yang pro aktif. Apalagi Sutarmidji bersedia menyiapkan anggaran pembuatan gedung perkantoran dan dana operasional provinsi baru. “Saya lihat upaya beliau sudah lumayan,” ungkapnya.

Sementara itu, jika dikaitkan dengan rencana pemindahan ibu kota baru, menurutnya memang lebih baik jika Kapuas Raya mekar duluan. “Kalau bicara lebih baik, tentu lebih baik, tapi ini (pemekaran) kebijakan presiden dan pemekaran itu kan kepentingan daerah. Kalau bicara lebih baik ya tentu lebih baik tanpa harus melihat ada ibu kota baru atau tidak, kita lebih cepat mekar lebih baik,” jelasnya.

Sedang urusan infrastruktur pendukung, seperti menjadikan Pelabuhan Kijing, Mempawah jadi pusat ekspor-impor di Kalimantan, semua perlu studi mendalam. Terutama kebutuhan akan jalur kereta api. Pasalnya, ada banyak pelabuhan besar di Indonesia, namun tidak memiliki angkutan kereta.

“Kita harus studi dulu, banyak pelabuhan besar di daerah lain tapi mereka juga tidak punya kereta api. Jadi harus lihat penting atau tidak. Tapi kalau memang lebih baik ada kereta api ya lebih baik kita bikin. Keperluannya untuk apa dulu, pergerakan orang atau komoditas, jadi tetap harus ada studi,” tutupnya.
(don)
Berita Terkait
Ada 314 Usulan Pemekaran,...
Ada 314 Usulan Pemekaran, Kemendagri: Kita Masih Moratorium
BSKDN Tekankan Kualitas...
BSKDN Tekankan Kualitas Kepemimpinan Kepala Daerah Menentukan Kesejahteraan Masyarakat
Gelar Bimtek, BSKDN...
Gelar Bimtek, BSKDN Kemendagri Harapkan Potensi Daerah Meningkat
Gelar Rakor, Kepala...
Gelar Rakor, Kepala BSKDN Kemendagri Ingin Serap Isu Strategis Daerah
BSKDN Kemendagri Rancang...
BSKDN Kemendagri Rancang Strategi Kebijakan Pembangunan Daerah
Kemendagri Beberkan...
Kemendagri Beberkan Sumber Pendanaan PKK di Daerah
Berita Terkini
KontraS Kritik Tuntutan...
KontraS Kritik Tuntutan 2,5 Tahun Penjara untuk Terdakwa Penyiraman Andrie Yunus
Revisi UU Polri, Menteri...
Revisi UU Polri, Menteri Pigai Usulkan Sejumlah Jabatan Utama Bisa Diisi Sipil
Film Pesta Babi Bergeser...
Film Pesta Babi Bergeser dari Kritik Sosial Jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua
KPK Angkut Moge, Mobil...
KPK Angkut Moge, Mobil Mewah, dan Sepeda usai Geledah Rumah Silmy Karim
Ancam 6 Juta Tenaga...
Ancam 6 Juta Tenaga Kerja, Wacana Kemasan Polos Harus Dibatalkan
DPR Minta KAI Bereskan...
DPR Minta KAI Bereskan Dulu Konektivitas Sebelum Bangun Jalur Kereta Aceh-Lampung
Infografis
5 CEO Terkaya di Jagat...
5 CEO Terkaya di Jagat Raya, Hartanya Tembus Rp8,2 Kuadriliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved