Politisasi Agama Dinilai Bertentangan dengan Nilai-nilai Agama

Kamis, 12 Desember 2019 - 21:51 WIB
Politisasi Agama Dinilai...
Politisasi Agama Dinilai Bertentangan dengan Nilai-nilai Agama
A A A
JAKARTA - Politisasi agama dinilai bisa merusak dan bertentangan dengan ajaran dan nilai-nilai beragama.

Pendapat itu diungkapkan Kepala Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kementerian Agama (Kemenag), Muharam Marzuki dalam Seminar Nasional bertajuk Moderasi Beragama dan Upaya Menangkal Radikalisme yang digelar Al-Wasat Institute bekerjasama dengan Badan Litbang dan Diklat Kemenag di Tara Hotel, Yogyakarta, Kamis (12/12/2019).

Menurut Muharam, nilai-nilai agama seharusnya menjadi kekuatan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. "Namun, agama sering dijadikan alat untuk kepentingan politik, ekonomi, dan sebagainya sehingga merusak ajaran agama dan bertentangan dengan nilai-nilai agama," ujar Muharam dalam keterangan tertulisnya.

Sementara itu, Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag Abdurahman Mas'ud menambahkan, moderasi beragama sangat penting. Apalagi Indonesia sebagai negara kebinekaan, perlu ada pemikiran, sikap dan perbuatan dalam beragama yang moderat.

"Sehingga kita bisa hidup rukun dan damai di bumi Indonesia," katanya.

Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta Abdul Munir Mulkhan mengatakan, sebagai pemeluk agama mayoritas, umat Islam harus percaya diri sehingga tidak perlu merasa khawatir dan terancam dengan tuduhan yang memojokkan.

Peneliti Puslitbang Kemenang Abdul Jamil Wahab menambahkan, hasil penelitian tentang Indek Kerukunan Beragama pada 2019 termasuk tinggi, yakni mencapai 73,83. Namun demikian, masih sering terjadi intoleransi dalam kehidupan keagamaan dan kebangsaan.

"Seperti dalam kasus terorisme, pelarangan ibadah, perusakan rumah ibadah, ujaran kebencian dan lain-lain," lanjut Jamil.

Direktur Alwasath Faozan Amar mengatakan, salah satu tantangan dalam praktik moderasi beragama adalah persaingan politik seperti yang terjadi dalam Pemilu 2019 lalu. Karena itu, perlu adanya keteladanan para elite, para pemimpin formal dan non formal dalam mensikapinya. "Maka ketika 01 dan 02 (Jokowi-Prabowo) bersatu, itulah 03 persatuan Indonesia. Ini sesuatu yang mengembirakan," ujar Faozan.

Ketua Panitia Laili Nailulmuna mengatakan, seminar ini diikuti 60 peserta dari perwakilan ormas keagamaan, organisasi kepemudaan, dan para akademisi.
(dam)
Berita Terkait
Tidak Ada Pertentangan...
Tidak Ada Pertentangan antara Semangat Kebangsaan dan Keagamaan
LKK-UNPAM Perkuat Harmonisasi...
LKK-UNPAM Perkuat Harmonisasi Keagamaan di Era Modern
Diterpa Isu Keagamaan,...
Diterpa Isu Keagamaan, Bupati Cellica Minta Warga Karawang Jaga Kerukunan
Viral Oknum ASN Larang...
Viral Oknum ASN Larang Nonmuslim Ibadah, Pemkot Bekasi Turun Tangan
Dukung Rumah Pastori...
Dukung Rumah Pastori GPdI Eklesia Amban, Kemenag Komitmen Pembangunan Sarana Keagamaan
Jejak Buddha Nusantara,...
Jejak Buddha Nusantara, Komitmen MNSBDI untuk Kerukunan dan Budaya
Berita Terkini
Perindo Perkuat Pemahaman...
Perindo Perkuat Pemahaman dan Kapasitas Anggota DPRD lewat Bimtek Nasional 2026, Dorong Ekonomi Kerakyatan
Febrie Adriansyah Jadi...
Febrie Adriansyah Jadi Tersangka TPPU, Kejagung Paparkan Modusnya
Penyesuaian Tarif PNBP...
Penyesuaian Tarif PNBP Berkeadilan, Tarif Merek UMKM Tetap dan Pendaftaran Hak Cipta Lagu Gratis
Febrie Adriansyah Ditahan...
Febrie Adriansyah Ditahan Tanpa Rompi Pink, PB PMII: Cetak Sejarah
PWNU Jateng dan Konjen...
PWNU Jateng dan Konjen Tiongkok Jalin Kerja Sama Pendidikan, Gus Rozin Ikuti Jejak Gus Dur
Pakar Kebijakan Publik...
Pakar Kebijakan Publik Soroti Ego Sektoral Penegakan Hukum, Sarankan Pelibatan KPK
Infografis
Profil Letjen TNI (Purn)...
Profil Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso yang Dikait-kaitkan dengan Tiyo UGM
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved