Wawasan Kebangsaan Harus Diamalkan, Jangan Jadi Hafalan

Sabtu, 30 November 2019 - 10:37 WIB
Wawasan Kebangsaan Harus...
Wawasan Kebangsaan Harus Diamalkan, Jangan Jadi Hafalan
A A A
JAKARTA - Munculnya fenomena diskontinuitas generasi saat ini terhadap nilai dan norma tentang masa lalu harus disikapi secara serius. Apalagi jika hal tersebut kemudian dapat menyebabkan lunturnya penghayatan terhadap nilai Pancasila sebagai falsafah bangsa.

Karena itu penguatan wawasan kebangsaan dinilai penting untuk menguatkan ideologi bangsa sekaligus menangkal ideologi radikalisme dan terorisme.

“Ini kesalahan kita, dulu pada masa Orde Baru penanaman wawasan kebangsaan itu lebih kepada hafalan untuk mengingat. Tetapi sekarang dengan adanya media sosial (medsos), penanaman wawasan kebangsaan harus disertai contoh di kehidupan sehari-hari, tanpa contoh itu akan menimbulkan kegamangan di kalangan masyarakat. Hal inilah kemudian membuat anak-anak muda mudah menyerap ideologi-ideologi lain dari medsos,” tutur Sekretaris Jenderal Suluh Kebangsaan, Alissa Wahid di Jakarta, Jumat 29 November 2019.

Untuk mengatasi masuknya ideologi selain Pancasila, kata dia, perlu pendekatan sesuai dengan tingkatannya. Pertama, terorisme ini sudah pasti masuk ekstriemisme dengan kekerasan, itu jelas sangat membahayakan. Kedua, esktremisme tanpa kekerasan yang bertujuan mengubah ideologi negara.

Ketiga ekslusivitas agama dan ultrakonservatifisme yang bisa membahayakan demokrasi meskipun tidak menggunakan cara-cara kekerasan. “Mengatasi ketiga hal ini diperlukan penanganan yang berbeda sesuai dengan kondisinya,” tutur putri pertama Presiden keempat Indonesia, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini.

Sebenarnya, ungkap Alissa, paham ini bukan hal baru atau berasal dari luar tetapi kemudian menjadi muncul dan berbahaya karena interpretasi agamanya yang sempit.

“Contoh seperti al wala wal bara, itu tidak boleh berteman dengan yang berbeda padahal negara kita ini penuh keberagaman. Hal-hal seperti ini yang saat ini diarus-utamakan atau didorong oleh beberapa kelompok keagamaan tertentu hingga menimbulkan perpecahan. Sedangkan wawasan kebangsaan kita justru tidak kita dorong,” tuturnya.

Oleh karena itu, sambung dia, perlu keseimbangan sebagai warga negara dan juga sebagai umat beragama. Seperti di Nahdlatul Ulama (NU), mengenal trilogi ukhuwah bahwa sebagai umat Islam harus berperilaku sehari-hari dengan tiga ukhuwah, yaitu ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basariyah.
Intinya, kata Alissa, beragama tetapi tetap menjunjung keberagaman. Karena yang dihadapi saat ini adalah pemuka agama yang menggunakan agama untuk mengikis rasa kebangsaan maka kemudian yang perlu diajak kerja sama pemuka agama dan tokoh-tokoh masyarakat.

Dia menilai perlu melibatkan berbagai pihak untuk mengatasi hal ini. Ada tujuh kelompok strategis yang penting untuk dilibatkan, yakni birokasi, TNI-Polri, media massa, ekosistem pendidikan, masyarakat sipil termasuk di dalamnya organisasi berbasis agama, sektor private dan para pelaku bisnis, partai politik.

Khusus partai politik (parpol) dinilai penting karena dalam pemilihan langsung terhadap posisi-posisi di pemerintahan, baik pusat dan daerah, sentimen agama ini berbahaya jika kemudian dipakai dalam kontestasi politik.

Menurut dia, parpol melalui parlemen perlu membangun regulasi untuk mengatur itu sehingga tidak ada nantinya politikus yang menggunakan sentimen agama untuk menarik simpati publik.

Alissa menyampaikan saat ini dirinya dan kelompok Gus Durian atau pendukung Gus Dur ikut berperan aktif untuk mengatasi isu-isu kebangsaan di tanah air.

“Di Gus Durian, kami berbasis nilai-nilai yang diteladankan oleh Gus Dur. Pertama spiritualitas, kedua kemanusiaan, ketiga keadilan. Jadi ketika kami menyikapi isu-isu kebangsaan, landasannya tiga hal ini. Kami juga terus menerus melakukan kampanye keberagaman dan kebersatuan. Saat ini Gus Durian juga sedang mengembangkan modul parenting untuk keluarga dalam mencegah ekstremisme berbasis kekerasan. Kami ingin para orang tua bisa melakukan deteksi dini, lalu memberi pembekalan kepada anak-anaknya agar tidak terpapar,” tutur Koordinator Nasional Gus Durian Network Indonesia ini

Alissa juga menyampaikan pentingnya peran pemerintah, khususnya Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebagai garda terdepan mengatasi isu radikal terorisme ini.

Menurut dia, pemerintah harus memiliki strategi nasional dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat. Tugas BNPT memastikan muatan-muatan yang dibawa oleh berbagai elemen masyarakat yang bergerak bersama ini adalah muatan yang tepat. Bukan hanya seminar atau event-event tertentu tetapi benar-benar berhadapan dengan situasi di akar rumputnya.
(dam)
Berita Terkait
Perbedaan Pendapat Harus...
Perbedaan Pendapat Harus Dihargai, Bukan Lantas Dianggap Lawan
Kerukunan Umat Beragama...
Kerukunan Umat Beragama sebagai Pilar Kekuatan Bangsa
Saling Menghargai Tingkatkan...
Saling Menghargai Tingkatkan Kerukunan Umat Beragama saat Nataru
Pelibatan Ormas Islam...
Pelibatan Ormas Islam Dinilai Cara Ampuh Lawan Radikalisme
5 Kekuatan Indonesia...
5 Kekuatan Indonesia Tangkal Perpecahan akibat Radikalisme dan Terorisme
Pimpinan Daerah dan...
Pimpinan Daerah dan Tokoh Agama Diminta Ikut Tangkal Radikalisme
Berita Terkini
Ketum All Cipayung Nusantara...
Ketum All Cipayung Nusantara Berharap Sidang Kasus Ijazah Jokowi Digelar Terbuka
Tersangka Kasus Ijazah...
Tersangka Kasus Ijazah Jokowi Desak Polisi Buat Kepastian Hukum
Pengacara Roy Suryo:...
Pengacara Roy Suryo: Polisi dan Jaksa Ragu-ragu di Kasus Ijazah Jokowi
Kecam Ketimpangan Layanan...
Kecam Ketimpangan Layanan Dialisis, KPCDI Desak Pemerintah Benahi Sistem
Pengacara Jokowi: Ada...
Pengacara Jokowi: Ada Dugaan Manipulasi Bukti Elektronik dalam Kasus Ijazah Jokowi
PKS Sebut Sinergi Pemerintah,...
PKS Sebut Sinergi Pemerintah, Dunia Usaha, hingga Masyarakat Kunci Jaga Stabilitas
Infografis
Profil Letjen TNI Robi...
Profil Letjen TNI Robi Herbawan, Ajudan Prabowo yang Jadi Kabais TNI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved