AD/ART Golkar Utamakan Musyawarah Mufakat dalam Memilih Pemimpin

Selasa, 19 November 2019 - 21:47 WIB
AD/ART Golkar Utamakan...
AD/ART Golkar Utamakan Musyawarah Mufakat dalam Memilih Pemimpin
A A A
JAKARTA - Sebanyak 33 DPD 1 Partai Golkar mengusulkan agar pemilihan ketua umum dilakukan secara musyawarah mufakat. Usulan yang disampaikan dalam Rapimnas Golkar tersebut sudah melalui proses panjang karena telah dibahas dalam rapat pleno masing-masing DPD tersebut.

Menanggapi usulan tersebut, anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Golkar Christina Aryani mendukung usulan tersebut. “Jika (dukungan) dilakukan melalui pleno berarti dukungan itu diberikan setelah menempuh prosedur organisasi sehingga sahih dan dapat dipertanggung jawabakan kebenarannya. Kami mendukung aspirasi mayoritas DPD dan ormas yang meminta agar pemilihan ketua umum Golkar dilakukan secara musyawarah mufakat,” kata Christina, Selasa (19/11/2019).

Christina menyebut, pada dasarnya musyawarah mufakat bukan barang baru. Hal ini diatur dalam Anggaran Dasar (AD) partai sebagai salah satu mekanisme pengambilan keputusan. Jika musyawarah tidak berhasil dilakukan, baru kemudian dilakukan voting.

Wakil rakyat dari Dapil DKI Jakarta 2 ini merujuk pada pasal 38 ayat 2 dan 3 Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (ART) Partai Golkar yang mengutamakan, pengambilan keputusan pada dasarnya dilakukan secara musyawarah untuk mufakat dan apabila musyawarah untuk mufakat tidak tercapai maka keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak;

”Dalam hal musyawarah mengambil keputusan tentang pemilihan pimpinan, sekurang-kurangnya disetujui oleh lebih dari setengah jumlah peserta yang hadir sebagaimana dimaksud pada ayat 1,” ujarnya.

Dukungan pemilihan ketua umum secara musyawarah mufakat juga datang dari tokoh-tokoh senior di Golkar seperti Akbar Tanjung, Jusuf Kalla (JK), Abu Rizal Bakrie hingga Agung Laksono.

“Ya saya dengar betul Dewan Pembina menyampaikan agar munas dilakukan secara musyawarah mufakat. Ini terkait dengan jam terbang dan pengalaman, dewan pembina pastinya ingin yang terbaik untuk Partai Golkar,” katanya.

Christina menilai, prinsip musyawarah mufakat itu berbeda dengan voting. Apabila dilakukan pemilihan secara voting, maka kemungkinan terjadi perpecahan dalam Munas Golkar nanti sangat terbuka.

“Dampak yang paling besar akan dirasakan oleh pendukung kandidat, ketika diselenggarakan pertarungan terbuka. Efek win or lose itu akan terasa sekali. Apa konsekuensinya? Tentunya pendukung dari kandidat yang kalah tidak bisa berharap terlalu banyak,” ungkapnya.

Untuk itu, dirinya berharap Munas Golkar berjalan dengan lancar dan kondusif. Masing-masing pihak mengutamakan kepentingan partai. ”Pada esensinya kita semua adalah anggota keluarga yang sama, keluarga besar Partai Golkar. Jika hasil terbaik bisa dicapai dengan musyawarah mufakat, rasanya kurang rasional juga untuk tidak menempuhnya,” ucap Christina.
(cip)
Berita Terkait
Munas XI Partai Golkar...
Munas XI Partai Golkar Digugat karena Diduga Melanggar Anggaran Dasar
Munas Golkar Digugat,...
Munas Golkar Digugat, Adies Kadir: Kami Hadapi Sesuai Aturan AD/ART
Munas XI Golkar Tetapkan...
Munas XI Golkar Tetapkan Bahlil Formatur Tunggal
Airlangga Minta Pengurus...
Airlangga Minta Pengurus dan Senior Golkar Terus Jaga Kekompakan
Ketua DPD Golkar se-Indonesia...
Ketua DPD Golkar se-Indonesia Ngumpul di Bali, Airlangga Didukung Jadi Ketum Lagi
Jokowi Kenakan Kemeja...
Jokowi Kenakan Kemeja Kuning Hadiri Munas XI Golkar, Sinyal Jadi Ketua Dewan Pembina?
Berita Terkini
Mahasiswa Soroti Pemborosan...
Mahasiswa Soroti Pemborosan APBN, Qodari: Prabowo Berhasil Hemat Rp300 Triliun
Polri Gelar Nobar Piala...
Polri Gelar Nobar Piala Dunia 2026, Pakar Hukum: Mendekatkan Polisi dengan Masyarakat
Ditahan KPK, Asrul Azis...
Ditahan KPK, Asrul Azis Tersangka Baru Kasus Kuota Haji Ajukan Praperadilan ke PN Jaksel
Tepis Ada Pembagian...
Tepis Ada Pembagian Keuntungan Program MBG ke Presiden, Kepala BGN: Hoaks
PP Himmah: Waspada Aksi...
PP Himmah: Waspada Aksi Reformasi Jilid II Dimanfaatkan Hambat Program Pemerintah
Kejagung: Sony Sanjaya...
Kejagung: Sony Sanjaya Tak Bisa Jadi Justice Collaborator Jika Menjadi Pelaku Utama
Infografis
Menelusuri Jejak 6 Kartel...
Menelusuri Jejak 6 Kartel Paling Kejam dalam Sejarah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved