Setelah Rekonsiliasi, PKS Ingin Gerindra dan PAN Tetap Oposisi
Sabtu, 19 Oktober 2019 - 14:21 WIB
Setelah Rekonsiliasi, PKS Ingin Gerindra dan PAN Tetap Oposisi
A
A
A
JAKARTA - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menginginkan Gerindra dan PAN ikut dalam bagian oposisi tersebut. PKS telah memutuskan untuk menjadi pihak oposisi dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) jilid II.
(Baca juga: Partai Golkar Harap Jokowi Pilih Menteri yang Siap Hadapi Tantangan Global)
Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera mengungkapkan, sejak awal pihaknya berharap koalisi Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno di Pemilu 2019 harus menjadi pihak penyeimbang pemerintahan Jokowi.
"Sejak awal kami serukan koalisi Prabowo-Sandi pendukungnya lebih baik menjadi oposisi," ujar Mardani dalam diskusi Polemik MNC Trijaya Network bertajuk Teka-teki Menteri dan Koalisi, di d'consulate, Jakarta, Sabtu (19/10/2019).
(Baca juga: Menlu Berterima Kasih Dapat Penghargaan Apresiasi Perempuan Hebat 2019)
Mardani juga menyebut, program dan konsep koalisi Prabowo-Sandi berbeda dengan program dari Jokowi-Ma'ruf Amin. Maka bila digabungkan tidak ditemukan titik terang.
"Karena konsep atau proposal pembangunan Prabowo-Sandi berbeda dengan koalisi Jokowi," jelasnya.
(Baca juga: DKI Jakarta Diminta untuk Gratiskan Biaya Transportasi)
Para elite Gerindra dan PAN sendiri beberapa kali sudah melakukan pertemuan dengan Jokowi pasca-pemilu 2019. Hal itu dianggap sinyal bergabungnya kedua partai itu masuk koalisi Jokowi.
Namun PKS, kata Mardani memaknai pertemuan itu merupakan sebagai bentuk proses rekonsiliasi setelah panasnya pesta demokrasi lima tahunan tersebut. Sehingga, PKS masih menginginkan Gerindra dan PAN berperan sebagai oposisi.
"Jadi rekonsiliasi tak ada urusan gabungnya dalam koalisi. Inti sederhananya opisisi ini sehat dan mulia," tuturnya.
(Baca juga: Partai Golkar Harap Jokowi Pilih Menteri yang Siap Hadapi Tantangan Global)
Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera mengungkapkan, sejak awal pihaknya berharap koalisi Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno di Pemilu 2019 harus menjadi pihak penyeimbang pemerintahan Jokowi.
"Sejak awal kami serukan koalisi Prabowo-Sandi pendukungnya lebih baik menjadi oposisi," ujar Mardani dalam diskusi Polemik MNC Trijaya Network bertajuk Teka-teki Menteri dan Koalisi, di d'consulate, Jakarta, Sabtu (19/10/2019).
(Baca juga: Menlu Berterima Kasih Dapat Penghargaan Apresiasi Perempuan Hebat 2019)
Mardani juga menyebut, program dan konsep koalisi Prabowo-Sandi berbeda dengan program dari Jokowi-Ma'ruf Amin. Maka bila digabungkan tidak ditemukan titik terang.
"Karena konsep atau proposal pembangunan Prabowo-Sandi berbeda dengan koalisi Jokowi," jelasnya.
(Baca juga: DKI Jakarta Diminta untuk Gratiskan Biaya Transportasi)
Para elite Gerindra dan PAN sendiri beberapa kali sudah melakukan pertemuan dengan Jokowi pasca-pemilu 2019. Hal itu dianggap sinyal bergabungnya kedua partai itu masuk koalisi Jokowi.
Namun PKS, kata Mardani memaknai pertemuan itu merupakan sebagai bentuk proses rekonsiliasi setelah panasnya pesta demokrasi lima tahunan tersebut. Sehingga, PKS masih menginginkan Gerindra dan PAN berperan sebagai oposisi.
"Jadi rekonsiliasi tak ada urusan gabungnya dalam koalisi. Inti sederhananya opisisi ini sehat dan mulia," tuturnya.
(maf)