Demokrat-Gerindra Gabung Pemerintah, Bentuk Kabinet Zaken Hanya Ilusi
Minggu, 13 Oktober 2019 - 15:42 WIB
Demokrat-Gerindra Gabung Pemerintah, Bentuk Kabinet Zaken Hanya Ilusi
A
A
A
JAKARTA - Wacana bergabungnya Partai Gerindra dan Partai Demokrat ke dalam pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma'ruf Amin ikut mengubah dinamika politik yang berkembang di masyarakat, tentang masa depan oposisi atau barisan penyeimbang.
Direktur Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin menganggap, ke depan harapan untuk membentuk zaken kabinet yang diinginkan Presiden Jokowi dinilai hanya ilusi.
"Yang ada hanyalah kompromi dan mengakomodir partai-partai oposisi masuk koalisi. Akibatnya tak akan ada kekuatan oposisi yang kuat," kata Ujang saat dihubungi SINDOnews, Minggu (13/10/2019).
(Baca juga: SBY-Prabowo Bertemu Jokowi, Indikasi Gerindra-Demokrat Masuk Kabinet)
Sedangkan, kata Ujang, bangsa ini butuh pemerintahan yang kuat, sekaligus juga oposisi yang tangguh. Jika demokrat dan Gerindra masuk koalisi Jokowi, maka tak akan ada partai oposisi yang kuat dan tangguh.
(Baca juga: Perawatan Mahal Selebritas Facial Vampire hingga Bakar Rambut)
Menurutnya, kekuasaannya akan cenderung disalahgunakan dan itu berbahaya. Kata Lord Acton, lanjut Ujang, power tends to corrupt yakni kekuasaan itu akan cenderung korup atau disalahgunakan.
"But absolute power, corrupt absolutely. Dan kekuasaan yang absolut kecenderungan penyalahgunaannya pun akan mutlak," tutur dia.
Menurut dia, setidaknya Orde Baru bisa menjadi pembelajaran semua elite bangsa ini bahwa, karena tidak ada partai oposisi, sehingga tak ada yang mengontrol jalannya pemerintahan.
"Kekuasaannya bisa disalahgunakan. Jangan sampe Orde Reformasi ini, kembali ke Orde Baru. Tidak ada checks and balances," tandasnya.
Direktur Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin menganggap, ke depan harapan untuk membentuk zaken kabinet yang diinginkan Presiden Jokowi dinilai hanya ilusi.
"Yang ada hanyalah kompromi dan mengakomodir partai-partai oposisi masuk koalisi. Akibatnya tak akan ada kekuatan oposisi yang kuat," kata Ujang saat dihubungi SINDOnews, Minggu (13/10/2019).
(Baca juga: SBY-Prabowo Bertemu Jokowi, Indikasi Gerindra-Demokrat Masuk Kabinet)
Sedangkan, kata Ujang, bangsa ini butuh pemerintahan yang kuat, sekaligus juga oposisi yang tangguh. Jika demokrat dan Gerindra masuk koalisi Jokowi, maka tak akan ada partai oposisi yang kuat dan tangguh.
(Baca juga: Perawatan Mahal Selebritas Facial Vampire hingga Bakar Rambut)
Menurutnya, kekuasaannya akan cenderung disalahgunakan dan itu berbahaya. Kata Lord Acton, lanjut Ujang, power tends to corrupt yakni kekuasaan itu akan cenderung korup atau disalahgunakan.
"But absolute power, corrupt absolutely. Dan kekuasaan yang absolut kecenderungan penyalahgunaannya pun akan mutlak," tutur dia.
Menurut dia, setidaknya Orde Baru bisa menjadi pembelajaran semua elite bangsa ini bahwa, karena tidak ada partai oposisi, sehingga tak ada yang mengontrol jalannya pemerintahan.
"Kekuasaannya bisa disalahgunakan. Jangan sampe Orde Reformasi ini, kembali ke Orde Baru. Tidak ada checks and balances," tandasnya.
(maf)