BPOM Larang Obat Lambung Ranitidin, Ini Alternatifnya

Jum'at, 11 Oktober 2019 - 14:57 WIB
BPOM Larang Obat Lambung...
BPOM Larang Obat Lambung Ranitidin, Ini Alternatifnya
A A A
JAKARTA - Badan Pengawas Obat dan Makan (BPOM) telah melakukan perintah kepada seluruh industri farmasi untuk menarik obat lambung Ranitidin dari pasar. Penarikan ini menindaklanjuti informasi US Food and Drug Administration (US FDA) dan European Medicine Agency (EMA) bahwa terdapat produk Ranitidin yang mengandung cemaran N-Nitrosodimethylamine (NDMA) yang bersifat karsinogenik yang memicu kanker.

Ketua Bidang Advokasi Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, dr Prasetyo Widhi Buwono mengimbau seluruh masyarakat Indonesia tidak perlu khawatir akibat dari penarikan ini. Pasalnya, masih ada obat alternatif lain selain Ranitidin yang diketahui merupakan obat untuk lambung.

“Ranitidin itu biasa digunakan untuk tukak lambung tukak usus, gerd dan asam lambung yang naik ke kerongkongan kalau dilihat dari golongannya itu kan H2 blocker itu kerjanya menghambat atau memblok produksi asam lambung,” ungkap Prasetyo saat konferensi pers di Kantor BPOM, Jakarta, Jumat (11/10/2019).

Prasetyo menjelaskan, selain Ranitidin obat lain yang bisa digunakan sebagai alternatif salah satunya ialah Famotidin dan juga Antasida. “Keduanya, banyak beredar di pasaran. Antasida itu untuk menetralkan asam lambung ada sukralfat itu melapisi lambung jadi lambung yangg luka tidak terkena asam lambung lagi, kemudian ada juga obat yang sudah tersebar luas, Proton Pump Inhibitor dia memblok, dia lebih kuat untuk asam lambung contohnya Omeprazole dan Lansoprazole,” jelasnya.

Alternatif obat untuk penyakit lambung, kata Prasetyo tersedia di seluruh fasilitas kesehatan dan obat-obatan tersebut juga tercover oleh BPJS Kesehatan. “Satu lagi yang perlu ditekankan bahwa semua maagh tadi, tukak lambung tukak usus itu faktor lain berperan juga, untuk mengobati itu menghindari makanan yang merangnsang, untuk mengurangi atau menghindari. Kemudian istirahat cukup dan makan tepat waktu, dan yang dilupakan stres, karena menimbulkan hal yang sama,” tambah Prasetyo.
(kri)
Berita Terkait
BPOM Semarang Musnahkan...
BPOM Semarang Musnahkan Ribuan Dus Obat-obatan Tradisional Ilegal Senilai Rp230 Juta
Pabrik Obat-obatan Ilegal...
Pabrik Obat-obatan Ilegal Digerebek Polisi di Malang, Temuannya Mengejutkan
BPOM Temukan 1,6 Juta...
BPOM Temukan 1,6 Juta Obat Ilegal Senilai Rp4 Miliar di Tanah Air
BPOM Sita Ribuan Obat...
BPOM Sita Ribuan Obat Kuat Pria Berbahaya, Pelaku Telah Beroperasi 4 Tahun
BPOM: Isu Wajib Apoteker...
BPOM: Isu Wajib Apoteker di Minimarket Hoaks, yang Diatur Pengelolaan Obatnya
BPOM Jambi Amankan 3.390...
BPOM Jambi Amankan 3.390 Obat dan Makanan Ilegal Senilai Rp1,1 Miliar
Berita Terkini
Nihayatul Wafiroh: Pakta...
Nihayatul Wafiroh: Pakta Integritas Bukti Keseriusan Perempuan Bangsa Besarkan PKB
Rekam Jejak Komjen Karyoto,...
Rekam Jejak Komjen Karyoto, dari Pemberantasan Korupsi hingga Jaga Stabilitas Keamanan Nasional
Mutasi Kejagung, Dirdik...
Mutasi Kejagung, Dirdik Jampidsus hingga Dirdik III Jamintel Diganti
Mendagri Harapkan Lulusan...
Mendagri Harapkan Lulusan IPDN Jadi Agen Perubahan ASN
Mendagri Tito: Pelibatan...
Mendagri Tito: Pelibatan Sektor Swasta Akan Optimalkan Realisasi Program Perumahan Rakyat
KPK Tahan 3 Tersangka...
KPK Tahan 3 Tersangka Kasus Suap Dana Hibah Pokmas Jawa Timur
Infografis
Pemprov DKI Jakarta...
Pemprov DKI Jakarta Bakal Bangun 11 Rusun Baru, Ini Lokasinya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved