Jangan Lengah, Sinyal Resesi Semakin Kuat

Sabtu, 07 September 2019 - 08:30 WIB
Jangan Lengah, Sinyal...
Jangan Lengah, Sinyal Resesi Semakin Kuat
A A A
Sinyal resesi ekonomi dunia semakin kuat, ditandai pelambatan ekonomi dunia tanpa solusi. Beberapa negara kini sudah menyandang status resesi yang bisa saja menular ke negara lain. Sejumlah lembaga internasional, di antaranya World Bank (Bank Dunia), Asian Development Bank (ADB), Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), European Central Bank (ECB) dan International Monetary Fund (IMF) telah memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun ini melemah. Peluang rebound pada tahun depan pun dinyatakan masih berat karena dampak dari trade war (perang dagang) Amerika Serikat (AS) versus China, kasus Brexit di Inggris, hingga geopolitik seperti aksi demo di Hong Kong dan tensi perseteruan AS melawan Korea Utara masih panas.

Saat ini, sebagaimana dibeberkan Kepala Ekonomi PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Ryan Kiryanto, sejumlah negara sudah mengalami perlambatan ekonomi yang ekstrem, bahkan negatif, di antaranya Turki, Venezuela, dan Brasil. Di kawasan Asia, pelambatan pertumbuhan ekonomi sudah dialami China, Singapura, Malaysia, Thailand, dan India.

Bagaimana dengan AS yang dikabarkan perekonomiannya semakin melambat belakangan ini? Probabilitas resesi ekonomi di Negeri Paman Sam masih dalam kategori 25%. Mengacu pada 12 indikator makroekonomi yang terbaru, terlihat baru dua indikator yang merah, empat kuning, dan enam hijau. Meski demikian, jangan sampai kita lengah karena bila terjadi resesi ekonomi dipastikan berdampak ke Indonesia.

Tidak bisa dimungkiri bahwa keadaan ekonomi AS adalah salah satu kunci akan munculnya resesi ekonomi dunia. Karena itu, kebijakan Presiden Donald Trump seputar perang dagang antara AS dan China, currency war, dan kebijakan The Fed sangat menentukan.Sebelumnya, IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini hanya 3,2%. Prediksi lembaga internasional tersebut lebih rendah dari proyeksi periode April 2019 sebesar 3,3%. Tahun depan IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia 3,5%, lebih rendah dari prediksi sebelumnya, 3,6%.

Lalu, sejauh mana pengaruhnya pada pertumbuhan ekonomi Indonesia? Untuk saat ini, mengutip pendapat Direktur Riset CORE Indonesia, Piter Abdullah, Indonesia masih cukup aman dari ancaman bila terjadi resesi. Setidaknya tecermin dari pertumbuhan ekonomi yang masih bisa bertengger pada kisaran 5% dan ditopang oleh pasar domestik yang masih berotot. Jadi, tantangan pemerintah sebenarnya bukan bagaimana cara menghindari resesi, tetapi bagaimana memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi atau di atas 5%.

Meski sejumlah ekonom sepakat menilai Indonesia masih dalam kategori aman walau ekonomi dunia semakin melambat yang menjurus munculnya resesi ekonomi, namun kita tetap harus waspada. Hal itu mengacu pada pertumbuhan ekonomi dalam dua triwulan tahun ini yang menunjukkan penurunan, meskipun angkanya sangat tipis.

Pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2019 tercatat 5,07%, lalu menipis pada kuartal kedua 2019 yang tercetak 5,05%. Hal itu tidak terlepas dari faktor eksternal di mana negara-negara mitra dagang utama Indonesia mengalami pelambatan ekonomi seperti AS dan China.

Bagaimana prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan? Melihat kondisi perekonomian dunia dewasa ini, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati lebih berhati-hati dalam menanggapi sejumlah pertanyaan terkait sinyal resesi yang semakin kencang. Dinamika pertumbuhan ekonomi global yang masih morat-marit mulai direspons serius, terlihat dari kebijakan fiskal sejumlah negara yang mulai diutak-atik dalam mengantisipasi pelambatan ekonomi, setidaknya seperti dialami Argentina, Brasil, Jerman dan sejumlah negara Eropa lainnya.

Perlambatan ekonomi dunia sebagai sinyal kuat bakal terjadinya resesi ekonomi dunia perlu diwaspadai apalagi sudah di depan mata. Karena itu, lebih baik sedia payung sebelum hujan. Artinya, sebelum terjadi resesi pemerintah sudah punya kebijakan pengaman.

Bersyukur pemerintah menyadari itu, mengawali pekan ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menggelar rapat terbatas guna mengantisipasi perkembangan perekonomian dunia yang kian melempem. Arahan orang nomor satu di negeri ini dalam rapat yang dihadiri para pembantu Presiden, terutama terkait bidang ekonomi, dan Gubernur Bank Indonesia (BI), Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tersebut menegaskan, "Indonesia harus sedia payung sebelum hujan, yaitu mengantisipasi kemungkinan terjadinya resesi". Presiden Jokowi meminta kementerian dan lembaga terkait harus bersiap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi bila terjadi resesi. Jangan lengah.
(rhs)
Berita Terkait
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Berita Terkini
PP 20 Tahun 2026: Langkah...
PP 20 Tahun 2026: Langkah Besar Menuju Keadilan Pajak bagi UMKM Orang Pribadi
Evita: Kebijakan Bebas...
Evita: Kebijakan Bebas Visa Kunjungan Buka Lapangan Kerja dan Gerakkan UMKM
Mutasi Polri Juni 2026:...
Mutasi Polri Juni 2026: Kombes Aris Supriyono Jabat Kabid Propam Polda Metro Jaya
Mensesneg Ungkap Pemicu...
Mensesneg Ungkap Pemicu Maraknya PHK di Indonesia
Pengadilan Negeri Jakarta...
Pengadilan Negeri Jakarta Timur Larang Siaran Langsung Sidang Dokter Tifa terkait Ijazah Jokowi
Mensesneg Jelaskan Maksud...
Mensesneg Jelaskan Maksud Prabowo terkait 4 Kali Kalah Pemilu Tak Ganggu Pemegang Mandat
Infografis
Rusia Peringatkan Jangan...
Rusia Peringatkan Jangan Uji Kesabarannya untuk Gunakan Nuklir
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved