Keterbelahan Masyarakat Kota di Era Disrupsi

Kamis, 05 September 2019 - 08:30 WIB
Keterbelahan Masyarakat Kota di Era Disrupsi
Keterbelahan Masyarakat Kota di Era Disrupsi
A A A
Tantan Hermansah
Pengajar Sosiologi Perkotaan UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta;
Ketua Program S2 KPI; Sekjen P2MI)

SEPERTI gempa kata-kata, banyak orang dan para pihak membicarakan dengan latah frasa “disrupsi”. Sebuah kosakata baru yang kemudian karena popularitasnya luar biasa di kalangan akademisi, kemudian langsung dinobatkan menjadi penghuni Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI): “disrupsi”. Padahal, aslinya dari bahasa Inggris: “disruption”.

Mengapa istilah ini demikian membius banyak kalangan? Apa yang membuat frasa ini demikian pantas masuk menjadi bagian dari kebudayaan kita? Apa dampak mendasar bagi masyarakat ketika kata ini memang merepresentasikan realitas? Bagaimana realitas sebenarnya pada orang kota?

Sebelum membahasnya lebih jauh, mari kita mulai dari ihwal yang paling awal, yakni makna kata. “Disrupsi” atau “disruption” diartikan sebagai “hal tercabut dari akarnya” (KBBI). Beberapa ilmuwan kemudian memberikan pemaknaan sebagai “inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru”, serta sejumlah pemaknaan lainnya.

Dalam perspektif sosiologis, disrupsi merupakan fase di mana terjadinya sistem perubahan sosial secara lebih radikal. Banyak tata sosial lama yang tergantikan dengan sistem baru. Relasi-relasi sosial budaya mengalami perubahan mulai dari bentuk, media, bahkan waktu dan bahasa. Lalu, dari keadaan tersebut pun akhirnya menghasilkan nilai-nilai baru yang diciptakan oleh masing-masing entitas mengikuti polanya.

Penggunaan kata “disrupsi” hari ini dirasakan cukup tepat karena beberapa alasan berikut: Pertama, hari ini masyarakat memang dihadapkan kepada situasi budaya yang mengalami reorientasi, atau dekonstruksi. Reorientasi artinya arah yang selama ini dianggap benar, kemudian ditanyakan ulang, bahkan diarahkan ulang ke titik lokus yang berbeda dari sebelumnya. Sedangkan dekonstruksi maksudnya dalam beberapa hal, bahkan arah yang selama ini dijalani, diputus sama sekali dan kemudian diganti dengan arah baru yang berbeda sama sekali.

Contoh kehadiran transportasi online (daring). Moda ini telah mengalami reorientasi dan dekonstruksi. Reorientasi dengan cara tidak menghilangkan sama sekali moda ini, tetapi memperkaya dengan fitur hasil sebuah karya inovasi. Sedangkan dekonstruksi muncul pada persoalan payment atau tata pembayaran. Jika sebelumnya opang (ojek pangkalan) mematok tarif yang tidak jelas, pada ojek daring hal ini dihapuskan. Dengan bahasa lain, dari tadinya sistem tarif tertutup menjadi sistem tarif terbuka.

Kedua, banyak pihak yang sudah menyadari situasi ini, namun lambat meresponsnya sehingga dengan kelambatan itu banyak pihak yang terkorbankan. Contoh menarik, ketika sebagian konsumen ojek daring terbantu, subjek opang justru merasa terganggu. Bahkan di beberapa titik ada tulisan spanduk bertuliskan larangan bagi ojek daring untuk beroperasi.

Ketiga, arahnya sendiri dari budaya manusia baru ini tetap misterius sehingga prediksinya pun sulit dibangun. Pertanyaan bagaimana masa depan dunia, para pihak mana yang akan menentukan arah dan jalannya, siapa yang akan mendapatkan keuntungan atau menjadi korban, dan seterusnya. Karena, di era ini penentu suatu arus dalam sebuah sistem tidak hanya mereka yang memiliki modal besar, tetapi juga mereka yang punya talenta meski dari kalangan biasa.

Akibat dari tiga alasan di atas, maka human being yang hidup di muka bumi hidup dalam gelombang ketidakpastian. Contoh, beberapa institusi bisnis sekarang sudah mengabaikan aspek formalistik pendidikan. Gelar dan lulusan mana telah dinihilkan sedemikian rupa. Meski, di sisi lain justru ketidakpastian itu adalah peluang baru bagi para pihak yang mampu memboncenginya.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1564 seconds (11.97#12.26)