Pidato di Korsel, Megawati Terisak Kenang Pesan Bung Karno

Kamis, 29 Agustus 2019 - 12:07 WIB
Pidato di Korsel, Megawati...
Pidato di Korsel, Megawati Terisak Kenang Pesan Bung Karno
A A A
JAKARTA - Demilitarized (DMZ) International Forum on the Peace Economy di Seoul, Korea Selatan menjadi momentum bagi Presiden kelima Indonesia, Megawati Soekarnoputri untuk mengenang kembali pesan yang disampaikan Presiden pertama, Soekarno tentang perdamaian di Korea.

Putri Proklamator itu sempat menangis saat menyampaikan pesan dari Bung Karno. Megawati juga membeberkan sejarah panjang Indonesia dalam proses perdamaian Korea Selatan dan Korea Utara. Megawati kemudian mendorong musyawarah mufakat untuk perdamaian dua Korea itu.

Dia menjelaskan, 63 tahun lalu, tepatnya tahun 1965 ada satu peristiwa bersejarah yang tidak pernah hilang dari hati dan ingatannya. Saat itu di Jakarta, pemimpin Korea Utara Kim Il-sung bertemu dengan pemimpin Indonesia, Soekarno.

Sebagai putri Bung Karno, Megawati menegaskan selalu berupaya membantu dalam perjuangan menyatukan Korea di Semenanjung Korea. Dia mengutip pesan Soekarno saat itu kepadanya.

"Berdirilah tidak untuk memilih Korea Selatan atau Korea Utara. Pilihlah jalan perdamaian. Pegang teguh ideologi Pancasila yang akan menuntunmu ke jalan perdamaian," kata Megawati dengan suara perlahan karena tampak berusaha menahan tangis, Kamis 28 Agustus 2019.

"Jalan ini akan mempertemukanmu dengan pemimpin dan rakyat kedua negara, yang sama-sama berjuang untuk perdamaian dan kedaulatan Korea. Dan memang itulah yang terjadi hingga saat sekarang," tambah Megawati mengenang pesan Soekarno.

Saat menjabat sebagai Presiden Indonesia, dirinya bertemu pemimpin Korsel saat itu, Presiden Kim Dae Jung yang secara tidak resmi meminta Megawati menjadi special envoy Korea Selatan untuk Korea Utara. Masa itu adalah dalam Pemerintahan Kim Jong-il di Korea Utara.

Ketika itu Megawati sering berkunjung ke Korea Selatan maupun ke Korea Utara. "Kepada Yang Mulia Kim Jong-il, saya berusaha meyakinkan beliau bahwa sudah tiba waktunya untuk berusaha menyatukan dua Korea menjadi Korea," kata Megawati.

Seingat Megawati, Kim Dae-jung sudah mendatangi Korea Utara. Sedangkan Kim Jong-il hingga wafat belum mendatangi Korea Selatan. Setelah itu, sayangnya ada jeda yang cukup lama, beberapa pergantian kepemimpinan terjadi.

"Baru setelah Yang Mulia Presiden Moon Jae-in, hubungan ini terbentuk kembali. Maksud saya menceritakan sepenggal sejarah yang cukup rumit ini adalah sampai kapan kedua negara ini akhirnya terwujud menjadi sebuah negara Korea yang bersatu," ujar Megawati.
(dam)
Berita Terkait
Hubungan PDIP dan Jokowi...
Hubungan PDIP dan Jokowi Memanas Lagi, Puan Maharani Angkat Bicara
PDIP: Hubungan Megawati...
PDIP: Hubungan Megawati dengan Jokowi Tidak Ada Sekat
Jadi Partai Modern,...
Jadi Partai Modern, PDIP Dinilai Tak Tinggalkan Elan Kerakyatan
Aturan Keluarga Satu...
Aturan Keluarga Satu Partai Dinilai Beri Dampak Positif bagi PDIP
PDIP Akan Ekspose Prestasi...
PDIP Akan Ekspose Prestasi Kepemimpinan 3 Pilar Partai ke Publik
Romo Benny Sebut PDIP...
Romo Benny Sebut PDIP Partai Modern yang Kekuatannya pada Struktur Organisasi
Berita Terkini
Franka Franklin Bicara...
Franka Franklin Bicara tentang Integritas Nadiem
Ini 12 Lokasi Digeledah...
Ini 12 Lokasi Digeledah Polisi Terkait Kasus Korupsi Batu Bara hingga Asabri
Ketua MPR Ungkap Ada...
Ketua MPR Ungkap Ada Ulama Ikut ke Iran: Saya Belum Tahu Namanya
AHY Siap Safari Politik:...
AHY Siap Safari Politik: Demokrat Ingin Bersahabat dengan Semuanya
Gandeng BPJPH, Partai...
Gandeng BPJPH, Partai Perindo Dorong UMKM Binaan Naik Kelas melalui Sertifikasi Halal
Polisi Sita Uang Hampir...
Polisi Sita Uang Hampir Rp60 M dari Kafe di Cipete
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved