Jokowi Jangan Setengah Hati Jalankan Presidensialisme dalam Memilih Menteri

Minggu, 18 Agustus 2019 - 13:03 WIB
Jokowi Jangan Setengah...
Jokowi Jangan Setengah Hati Jalankan Presidensialisme dalam Memilih Menteri
A A A
JAKARTA - Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago menilai, sistem presidensialisme sudah sangat kuat. Sehingga, Jokowi sebagai Presiden terpilih jangan setengah hati dalam menjalankan sistem tersebut.

"Presiden gak perlu setengah hati, berupaya memilih menteri yang benar benar punya kompetensi dan profesionalisme ketimbang hanya terjebak pada kompromi politik dan berupaya mengakomodasi semua kepentingan yang ada," kata Pangi kepada SINDOnews, Minggu (18/8/2019).

Pangi menuturkan, ciri presidensialisme setengah hari pertama; kekuasaan presiden mengalami reduksi terutama hak prerogatif dalam mengangkat dan memberhentikan anggota kabinet.

Kedua, kata Pangi, Kabinet yang terbentuk adalah kabinet koalisi pelangi, yaitu menteri-menteri dari unsur partai lebih mendominasi konfigurasi kabinet ketimbang unsur profesional (zaken kabinet).

"Pertimbangan mengangkat menteri lebih dominan gen akomodasi politik. Ketiga; Adanya dua loyalitas para menteri dari parpol, sebagai pembantu presiden wajib memiliki loyalitas terhadap presiden, tapi disisi lain karena direkomendasikan parpol sulit melepaskan loyalitasnya terhadap parpol," ujarnya.

Untuk itu, Jokowi jangan menjadi presidensialisme setengah hati. Posisi presiden secara konstitusional sangat kuat, sehingga tidak perlu “setengah hati” dalam menjalankan amanat dan kepercayaan rakyat. "Dengan demikian, pengangkatan menteri jangan sampai lebih cenderung kepada tawar menawar dan kompromi semata ketimbang faktor kompetensi dan profesionalisme," ucapnya.

Kata Pangi, sekuat apapun upaya intervensi dan tekanan politik tidak akan memberi pengaruh apapun jika presiden secara personal juga kuat. Namun personalitas dan gaya kepemimpinan presiden yang relatif lemah akan membuat presiden cenderung akomodatif, terhadap parpol dan kekuatan politik lainnya.

"Kondisi ini akan membuka potensi terjadinya kompromi-kompromi politik dalam pembentukan kabinet sehingga hak prerogatif presiden nampak tak maksimal dijalankan," tandasnya.
(pur)
Berita Terkait
Pemerintah Diimbau Antisipasi...
Pemerintah Diimbau Antisipasi Gimik Politik Terkait Dana Stimulus UMKM
Survei: 67,8% Publik...
Survei: 67,8% Publik Puas terhadap Kinerja Jokowi-Maruf
Selain Wapres, Jokowi...
Selain Wapres, Jokowi Disarankan Aktifkan Ma'ruf Amin Jadi Penasihat
Jejak Reshuffle Kabinet...
Jejak Reshuffle Kabinet Era Jokowi-Ma'ruf Amin
Staf Khusus Presiden...
Staf Khusus Presiden Surati Camat, Natalius Pigai: Ada Vandalisme Moral
Jokowi Harus Respons...
Jokowi Harus Respons Soal Perombakan Kabinet di Tengah Pandemi Corona
Berita Terkini
Franka Franklin Bicara...
Franka Franklin Bicara tentang Integritas Nadiem
Ini 12 Lokasi Digeledah...
Ini 12 Lokasi Digeledah Polisi Terkait Kasus Korupsi Batu Bara hingga Asabri
Ketua MPR Ungkap Ada...
Ketua MPR Ungkap Ada Ulama Ikut ke Iran: Saya Belum Tahu Namanya
AHY Siap Safari Politik:...
AHY Siap Safari Politik: Demokrat Ingin Bersahabat dengan Semuanya
Gandeng BPJPH, Partai...
Gandeng BPJPH, Partai Perindo Dorong UMKM Binaan Naik Kelas melalui Sertifikasi Halal
Polisi Sita Uang Hampir...
Polisi Sita Uang Hampir Rp60 M dari Kafe di Cipete
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved