Semua Parpol Merapat ke Pemerintah Bisa Ciptakan Super Presidensialisme

Rabu, 14 Agustus 2019 - 20:03 WIB
Semua Parpol Merapat...
Semua Parpol Merapat ke Pemerintah Bisa Ciptakan Super Presidensialisme
A A A
JAKARTA - Kekuatan partai Koalisi Indonesia Kerja (KIK) saat ini sudah cukup dominan dengan jumlah partai politik (parpol) koalisi sebenyak lima parpol parlemen, yakni PDIP, Golkar, Nasdem, PKB, dan PPP, serta lima parpol nonparlemen yakni Perindo, Hanura, PBB, PSI, dan PKPI.

Namun, jumlah tersebut masih berpotensi tambah dengan adanya sejumlah parpol yang sebelumnya tergabung dalam Koalisi Adil Makmur (KAM) pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang mengisyaratkan bergabung. Partai Demokrat, salah satunya, bahkan telah menyatakan keinginannya untuk bergabung ke Pemerintah Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

Pakar Hukum Tata Negara Margarito Kamis mengatakan, kecenderungan yang sedang terjadi di Indonesia saat ini yaitu upaya untuk menciptakan super presidensialisme. ”Bukan sekadar presidensial, apalagi hari ini, kalau tinggal PKS sendiri di luar, negara ini (bakal) didefinisikan oleh pemerintah. Jangan hanya bicara tentag checks and balances segala macam, omong kosong,” ujar Margarito dalam Dialog Kenegaraan dengan tema “Langkah Demokrasi RI setelah Usia 74” di Media Center, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (14/8/2019).

Menurutnya, ketika seluruh kekuatan politik merapat ke pemerintah, kecuali PKS yang sudah terang-terangan akan mengambil posisi oposisi maka itu artinya para elite nasional saat ini sedang menciptakan super presidensialisme. ”Sebenarnya dengan kecendrungan yang mutakhir ini, kalau kita desain kelembagaan, ketatanegaraan dan politik kita seperti sekarang ini, Anda sedang menciptakan super presidensialisme, bukan presiden saja,” paparnya.

Pada titik itu, katanya, Margarito mengaku setuju dengan gagasan PDIP untuk menghidupkan kembali GBHN. Sebab, jika tanpa GBHN maka yang mendefinisikan jalannya bangsa dan negara ini dalah Presiden tunggal.

”Anda suka atau tidak suka, senang atau tidak senang, presidenlah yang mendefinisikan bagaimana bangsa ini harus diarahkan dan seterusnya, bukan rakyat melalui wakil-wakilnya. Jadi apakah itu yang mau kita pertahankan? Menurut saya tidak,” katanya.
(pur)
Berita Terkait
Selain Wapres, Jokowi...
Selain Wapres, Jokowi Disarankan Aktifkan Ma'ruf Amin Jadi Penasihat
Jejak Reshuffle Kabinet...
Jejak Reshuffle Kabinet Era Jokowi-Ma'ruf Amin
Pemerintah Diimbau Antisipasi...
Pemerintah Diimbau Antisipasi Gimik Politik Terkait Dana Stimulus UMKM
Istana Buka Kemungkinan...
Istana Buka Kemungkinan Reshuffle Kabinet Sebelum 2020 Berakhir
Penilaian 6 Menteri...
Penilaian 6 Menteri Baru di Mata Jokowi
Reshuffle Kabinet, PKS...
Reshuffle Kabinet, PKS Sarankan Jokowi Libatkan KPK Pilih Calon Menteri
Berita Terkini
Stafsus Menag: Kunjungan...
Stafsus Menag: Kunjungan Presiden Jerman ke Istiqlal Perkuat Diplomasi Agama RI-Jerman
KPK Rincikan Penyitaan...
KPK Rincikan Penyitaan Uang dari Geledah Rumah Silmy Karim
GP Ansor Rombak Kepengurusan,...
GP Ansor Rombak Kepengurusan, Sejumlah Tokoh Muda NU Masuk Struktur
Menjaga Kampus Tetap...
Menjaga Kampus Tetap Relevan Tanpa Menjadi 'Pabrik'
Pemilik Blueray Cargo...
Pemilik Blueray Cargo Ngaku Setor Rp30 Miliar ke Dedi Congor
Akvindo: Tembakau Alternatif...
Akvindo: Tembakau Alternatif Kurangi Paparan Asap Rokok
Infografis
5 Rudal Paling Mematikan...
5 Rudal Paling Mematikan di Dunia, Satan II Rusia Bisa Hancurkan Banyak Kota Sekaligus
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved