Jadi Target Pembunuh Bayaran, Yunarto Wijaya Tak Dendam

Rabu, 12 Juni 2019 - 21:58 WIB
Jadi Target Pembunuh...
Jadi Target Pembunuh Bayaran, Yunarto Wijaya Tak Dendam
A A A
JAKARTA - Enam tersangka kasus ancaman pembunuhan terhadap empat tokoh nasional dan petinggi lembaga survei yang direncanakan saat kerusuhan 22 Mei 2019 telah ditahan Kepolisian. Irfansyah, salah satu pelaku yang berperan sebagai eksekutor mengaku diperintah Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen untuk mengeksekusi Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya.

Irfansyah dijanjikan mendapatkan bayaran sebesar Rp 5 juta jika misi tersebut sukses. Terkait ancaman, Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya mengaku sudah memaafkan pelaku yang berusaha membunuhnya itu.

"Saya pribadi dan keluarga sudah memaafkan dan tak memiliki dendam apapun baik kepada perencana maupun eksekutor," ujar Yunarto kepada SINDOnews, Rabu (12/6/2019).

Dia mengaku, kasus itu membuatnya belajar kembali tentang apa itu kasih. "Memaafkan orang yang memusuhi kita membuat saya merasa lebih bisa mensyukuri dan menikmati kehidupan yang diberikan- Sang Empunya," katanya.

Dia pun menyampaikan terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya untuk langkah-langkah pengamanan yang dilakukan Polri dan TNI, yang berhasil membuat situasi menjadi kondusif. "Mari kita percayakan proses hukum berjalan tanpa diiringi oleh tekanan dan ujaran kebencian dari pihak manapun," ujarnya.

Dia melanjutkan, kejadian itu harus dilihat bukan dalam konteks keselamatan orang-orang yang ditarget. "Tapi bagaimana demokrasi kita yang telah tercemar.Tercemar ujaran kebencian yang tidak bisa 'membunuh' perbedaan. Tercemar dengan aneka rupa kebohongan yang anti terhadap keberagaman," ungkapnya.

Dia menambahkan, permainan politik identitas dalam perhelatan demokrasi harus diakui sering terjadi di berbagai negara, meski bukan sesuatu yang diharapkan. "Tapi, ketika dilumuri dengan berbagai ujaran kebencian dan hoaks, hasil akhirnya adalah terkoyaknya modal sosial kita sebagai bangsa," paparnya.

Hal tersebut, menurut dia, bukan sekadar untuk disesali, tapi seyogyanya menjadi pembelajaran bersama agar tak lagi terulang di waktu-waktu yang akan datang. "Karena itu, jangan lelah untuk terus mencintai Indonesia. Memperkuat persatuan dan merawat kebinekaan dalam satu tarikan nafas sebagai manusia Indonesia," pungkasnya.
(pur)
Berita Terkait
Pimpinan Tertinggi Khilafatul...
Pimpinan Tertinggi Khilafatul Muslimin Ditetapkan Tersangka
Selain Abdul Qadir Baraja,...
Selain Abdul Qadir Baraja, Polri Buka Kemungkinan Tetapkan Tersangka Lain
Laporkan Saiful Mujani...
Laporkan Saiful Mujani ke Bareskrim, MPSI: Perbuatan Melawan Hukum dan Kategori Makar
Pakar Sebut Pemahaman...
Pakar Sebut Pemahaman Khilafatul Muslimin Atas Alquran dan Hadis Sempit
Pakar Hukum Minta Bareskrim...
Pakar Hukum Minta Bareskrim Selidiki Pernyataan Saiful Mujani Apakah Ada Unsur Makar
Makar dan Penertiban...
Makar dan Penertiban Kognitif
Berita Terkini
Nadiem Makarim Menangis...
Nadiem Makarim Menangis hingga Beri Tanda Tangan ke Mitra Go Jek saat Tiba di PN Tipikor
Sampaikan Amanah Prabowo,...
Sampaikan Amanah Prabowo, Wamenhaj Salurkan Bantuan untuk Jemaah Haji asal Aceh yang Terlilit Utang
PKS Targetkan 2 Kali...
PKS Targetkan 2 Kali Lipat Legislator Muda di Senayan pada 2029
Histeria Ojol dan Kerentanan...
Histeria Ojol dan Kerentanan Ekstrem Pekerja 'Gig Economy'
Nadiem Makarim Hadapi...
Nadiem Makarim Hadapi Sidang Putusan Kasus Chromebook Hari Ini
MK Putuskan Pembayaran...
MK Putuskan Pembayaran Dana Pensiun Sukarela Bisa Dilakukan Sekaligus atau Berkala
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved