Pengamat: Ada Tiga Dampak Hoaks Bagi Demokrasi
Sabtu, 30 Maret 2019 - 02:46 WIB
Pengamat: Ada Tiga Dampak Hoaks Bagi Demokrasi
A
A
A
JAKARTA - Pengamat politik dari IndoStrategi, Arif Nurul Imam menilai hoaks menjadi ancaman dalam membangun demokrasi. Sayangnya hoaks kini menjadi tren termasuk dalam kontestasi elektoral.
“Hoaks menjadi masalah bagi proses demokratisasi, karena memiliki dampak negatif bagi proses konsolidasi demokrasi,” ungkap Arif Nurul Imam dalam diskusi yang mengangkat tema “Hoax Mengancam Demokrasi” yang digelar Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah pada Jumat (29/3/2019).
Menurut Arif, hoaks memiliki tiga dampak buruk. Pertama, dampak yang paling ringan setidaknya akan meminggirkan gagasan-gagasan subtansial di arena kontestasi politik karena para kontestan maupun pendukung hanya sibuk memperbincangkan hoaks.
“Sementara itu, isu-isu publik serta visi-misi kontestan politik justru tenggelam karena publik terpusat pada isu hoaks,”ujarnya. Selain itu, lanjut dia, hoaks menjadi ancaman demokrasi karena berita tidak benar bisa memengaruhi persepsi dan opini publik sehingga berpengaruh terhadap preferensi politik sehingga salah memilih sosok pemimpin.
Akibatnya, kata dia, Pemilu tidak melahirkan pemimpin yang berkualitas.
“Ketiga, hoaks juga berdampak terjadinya segregasi sosial sehingga merusak solidaritas dan etos gotong royong sebagai modal sosial membangun demokrasi,” ujarnya.
Arif melanjutkan, karena bahayanya hoaks bagi masa depan demokrasi maka harus dihentikan. "Setidaknya ada beberapa cara selain penegakan hukum, juga mesti ada gerakan melawan hoaks, literasi politik, dan komitmen para aktor politik untuk tidak memakai hoaks sebagai strategi politik dalam pemenangan elektoral,” ucapnya.
Diskusi yang digelar di Gedung Dakwah Muhammadiyah ini, juga menghadirkan narasumber Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Sunanto, Komisioner KPU RI Pramono U. Thantowi, Komisioner Bawaslu RI Afif Afifudin, dan peneliti Perludem Khairusnisa Agustyati.
“Hoaks menjadi masalah bagi proses demokratisasi, karena memiliki dampak negatif bagi proses konsolidasi demokrasi,” ungkap Arif Nurul Imam dalam diskusi yang mengangkat tema “Hoax Mengancam Demokrasi” yang digelar Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah pada Jumat (29/3/2019).
Menurut Arif, hoaks memiliki tiga dampak buruk. Pertama, dampak yang paling ringan setidaknya akan meminggirkan gagasan-gagasan subtansial di arena kontestasi politik karena para kontestan maupun pendukung hanya sibuk memperbincangkan hoaks.
“Sementara itu, isu-isu publik serta visi-misi kontestan politik justru tenggelam karena publik terpusat pada isu hoaks,”ujarnya. Selain itu, lanjut dia, hoaks menjadi ancaman demokrasi karena berita tidak benar bisa memengaruhi persepsi dan opini publik sehingga berpengaruh terhadap preferensi politik sehingga salah memilih sosok pemimpin.
Akibatnya, kata dia, Pemilu tidak melahirkan pemimpin yang berkualitas.
“Ketiga, hoaks juga berdampak terjadinya segregasi sosial sehingga merusak solidaritas dan etos gotong royong sebagai modal sosial membangun demokrasi,” ujarnya.
Arif melanjutkan, karena bahayanya hoaks bagi masa depan demokrasi maka harus dihentikan. "Setidaknya ada beberapa cara selain penegakan hukum, juga mesti ada gerakan melawan hoaks, literasi politik, dan komitmen para aktor politik untuk tidak memakai hoaks sebagai strategi politik dalam pemenangan elektoral,” ucapnya.
Diskusi yang digelar di Gedung Dakwah Muhammadiyah ini, juga menghadirkan narasumber Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Sunanto, Komisioner KPU RI Pramono U. Thantowi, Komisioner Bawaslu RI Afif Afifudin, dan peneliti Perludem Khairusnisa Agustyati.
(whb)