Jokowi Diprediksi Lebih Siap dari Prabowo, Ini Saran Pengamat di Debat Keempat
Kamis, 28 Maret 2019 - 08:41 WIB
Jokowi Diprediksi Lebih Siap dari Prabowo, Ini Saran Pengamat di Debat Keempat
A
A
A
JAKARTA - Calon presiden (Capres) nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi) dan Capres nomor urut 02, Prabowo Subianto akan kembali melakoni debat keempat dengan tema ideologi, pemerintahan, pertahanan-keamanan dan hubungan internasional pada 30 Maret mendatang.
Pengamat Intelijen Nurudin Lazuardi memandang, calon petahana Jokowi akan lebih siap menghadapi debat tersebut. Terlebih, pendampingnya, KH Ma'ruf Amin dalam sejumlah kampanye menyatakan ide tol langit atau infrastruktur komunikasi.
"Dari sisi gagasan, 01 lebih siap. Kita harus melihat ancaman cyber ke depan. Konsep pertahanan rill betul-betul harus dipertahankan, pertarungan ke depan itu ada cyber," ujar Nurudin, Kamis (28/3/2019).
(Baca juga: Soal Persiapan Debat, KPU: Semua Tahapan Sudah Kita Selesaikan)
Nurudin menuturkan tol langit yang disampaikan oleh Kiai Ma’ruf sangat dibutuhkan Indonesia. Sebab menurutnya, selama ini akses informasi milik Indonesia terlalu terbuka. Ia menyebut hal itu terjadi karena selama ini Indonesia masih menyewa satelit milik negara lain.
Lebih lanjut, Nurudin mengatakan Indonesia harus meniru Singapura dalam mempersiapkan serangan cyber. Ia berkata Singapura sudah paham bahwa ancaman masa depan datang dari serangan cyber.
"Kalau melihat Jokowi konsep dasar intelijen sudah dibangun, apakah Prabowo akan masuk ke sana? Saya belum tahu. Dengan latar belakang militer intelijen Prabowo lebih ke lapangan, sementara yang sekarang ini kita butuh intelijen di atas langit," jelasnya.
Sementara itu, Direktur Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno menilai, debat keempat ini menjadi forum yang sangat krusial bagi Prabowo Subianto. Menurutnya, Prabowo harus memanfaatkan forum debat untuk mengklarifikasi secara riil soal tudingan dirinya didukung kelompok radikal.
"Selama ini ada tuduhan 02 melindungi kelompok radikal, ini harus dikonfirmasi, apa benar ada kelompok radikal yang berlindung di 02?" ujar Adi.
Sedangkan tugas Jokowi di debat nanti harus bisa menjelaskan lebih 'clear' tentang pembubaran Ormas HTI. Menurutnya, di luar sisi prosedur hukum yang ditempuh pemerintah dalam membubarkan HTI, langkah Jokowi membubarkan organisasi itu dianggap cukup berani.
"Jokowi agak berani. Dia harus kehilangan simpati dari yang orang-orang yang setuju dengan HTI, ini pilihan ekstrem bagi kelompok radikal dan coba ganti Pancasila. Ini juga penting dijelaskan ke publik. Tapi nyali menggebuk ormas radikal cukup luar biasa," tegasnya.
Lebih dari itu, ia menambahkan Prabowo diuntungkan sebagai purnawirawan dalam tema pertahanan. Akan tetapi, ia juga menilai Jokowi juga memiliki kelebihan karena merupakan petahana.
"Tinggal bagaimana kedua calon menarasikan apa yang akan mereka lakukan ke depan kepada publik," pungkasnya.
Pengamat Intelijen Nurudin Lazuardi memandang, calon petahana Jokowi akan lebih siap menghadapi debat tersebut. Terlebih, pendampingnya, KH Ma'ruf Amin dalam sejumlah kampanye menyatakan ide tol langit atau infrastruktur komunikasi.
"Dari sisi gagasan, 01 lebih siap. Kita harus melihat ancaman cyber ke depan. Konsep pertahanan rill betul-betul harus dipertahankan, pertarungan ke depan itu ada cyber," ujar Nurudin, Kamis (28/3/2019).
(Baca juga: Soal Persiapan Debat, KPU: Semua Tahapan Sudah Kita Selesaikan)
Nurudin menuturkan tol langit yang disampaikan oleh Kiai Ma’ruf sangat dibutuhkan Indonesia. Sebab menurutnya, selama ini akses informasi milik Indonesia terlalu terbuka. Ia menyebut hal itu terjadi karena selama ini Indonesia masih menyewa satelit milik negara lain.
Lebih lanjut, Nurudin mengatakan Indonesia harus meniru Singapura dalam mempersiapkan serangan cyber. Ia berkata Singapura sudah paham bahwa ancaman masa depan datang dari serangan cyber.
"Kalau melihat Jokowi konsep dasar intelijen sudah dibangun, apakah Prabowo akan masuk ke sana? Saya belum tahu. Dengan latar belakang militer intelijen Prabowo lebih ke lapangan, sementara yang sekarang ini kita butuh intelijen di atas langit," jelasnya.
Sementara itu, Direktur Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno menilai, debat keempat ini menjadi forum yang sangat krusial bagi Prabowo Subianto. Menurutnya, Prabowo harus memanfaatkan forum debat untuk mengklarifikasi secara riil soal tudingan dirinya didukung kelompok radikal.
"Selama ini ada tuduhan 02 melindungi kelompok radikal, ini harus dikonfirmasi, apa benar ada kelompok radikal yang berlindung di 02?" ujar Adi.
Sedangkan tugas Jokowi di debat nanti harus bisa menjelaskan lebih 'clear' tentang pembubaran Ormas HTI. Menurutnya, di luar sisi prosedur hukum yang ditempuh pemerintah dalam membubarkan HTI, langkah Jokowi membubarkan organisasi itu dianggap cukup berani.
"Jokowi agak berani. Dia harus kehilangan simpati dari yang orang-orang yang setuju dengan HTI, ini pilihan ekstrem bagi kelompok radikal dan coba ganti Pancasila. Ini juga penting dijelaskan ke publik. Tapi nyali menggebuk ormas radikal cukup luar biasa," tegasnya.
Lebih dari itu, ia menambahkan Prabowo diuntungkan sebagai purnawirawan dalam tema pertahanan. Akan tetapi, ia juga menilai Jokowi juga memiliki kelebihan karena merupakan petahana.
"Tinggal bagaimana kedua calon menarasikan apa yang akan mereka lakukan ke depan kepada publik," pungkasnya.
(kri)