Kubu Prabowo-Sandi Sebut Penggawa Orba Banyak di Kubu Jokowi-Ma'ruf
Sabtu, 01 Desember 2018 - 07:15 WIB
Kubu Prabowo-Sandi Sebut Penggawa Orba Banyak di Kubu Jokowi-Ma'ruf
A
A
A
JAKARTA - Belum lama ini Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Ahmad Basarah menyebut korupsi bermula dari rezim orde baru (Orba), Soeharto. Sebab, kata Basarah, saat itu keluar keputusan TAP MPR Nomor 11 Tahun 1998 yang mencanangkan program pemberantasan korupsi.
Menanggapi hal tersebut, Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Faldo Maldini mengatakan pihaknya enggan menyalahkan masa lalu. Sebab, kata dia, masa lalu seharusnya menjadi pelajaran dan mengambil hikmahnya.
"Kita fokus ke tawaran saja," ujar Faldo Maldini kepada SINDOnews, Jumat (30/11/2018). (Baca: Prabowo Bilang Korupsi Sudah Stadium 4, PDIP Salahkan Orde Baru)
Dia lantas mempertanyakan apa yang sudah diperbuat Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla selama ini dalam pemberantasan korupsi. Sebab, kata Faldo, operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) justru semakin banyak di era Pemerintahan Jokowi-JK.
"Kalau OTT makin banyak, artinya pejabat korup makin banyak pula, makanya ketergantungan kita pada KPK besar. Jangan sampai, tim 01 (Jokowi-Ma'ruf, red) nanti nyalahin VOC juga yang menyebabkan korupsi," kata Wakil Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (PAN) ini.
Namun, diakuinya bahwa kekuasaan Orba memang absolut, kekuatan civil society juga belum kuat saat itu. "Penguasa hari ini juga absolute, rapor merah Komnas HAM dan angka kebebasan pers menurun menurut PBB. Jadi, pastinya corrupt juga. Sama-sama absolut dua-duanya," tegasnya.
Dia pun menilai tidak tepat jika Koalisi Prabowo-Sandi disematkan Orba sepenuhnya. "Hitung saja di sana (Jokowi-Ma'ruf) berapa banyak penggawa Orba yang berlindung, kayaknya lebih banyak di sana," tandasnya.
Maka itu, dia mengajak menjadikan masa lalu sebagai pelajaran untuk mendorong perubahan. "Selamanya terima democracy the only game in town, ya sudah kita saling hormati saja. Kalau ada yang keluar dari situ, kita lawan. Termasuk, orang-orang yang senang teriak Orba ini dan itu. Orba itu perilaku, bukan perorangan," pungkasnya.
Menanggapi hal tersebut, Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Faldo Maldini mengatakan pihaknya enggan menyalahkan masa lalu. Sebab, kata dia, masa lalu seharusnya menjadi pelajaran dan mengambil hikmahnya.
"Kita fokus ke tawaran saja," ujar Faldo Maldini kepada SINDOnews, Jumat (30/11/2018). (Baca: Prabowo Bilang Korupsi Sudah Stadium 4, PDIP Salahkan Orde Baru)
Dia lantas mempertanyakan apa yang sudah diperbuat Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla selama ini dalam pemberantasan korupsi. Sebab, kata Faldo, operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) justru semakin banyak di era Pemerintahan Jokowi-JK.
"Kalau OTT makin banyak, artinya pejabat korup makin banyak pula, makanya ketergantungan kita pada KPK besar. Jangan sampai, tim 01 (Jokowi-Ma'ruf, red) nanti nyalahin VOC juga yang menyebabkan korupsi," kata Wakil Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (PAN) ini.
Namun, diakuinya bahwa kekuasaan Orba memang absolut, kekuatan civil society juga belum kuat saat itu. "Penguasa hari ini juga absolute, rapor merah Komnas HAM dan angka kebebasan pers menurun menurut PBB. Jadi, pastinya corrupt juga. Sama-sama absolut dua-duanya," tegasnya.
Dia pun menilai tidak tepat jika Koalisi Prabowo-Sandi disematkan Orba sepenuhnya. "Hitung saja di sana (Jokowi-Ma'ruf) berapa banyak penggawa Orba yang berlindung, kayaknya lebih banyak di sana," tandasnya.
Maka itu, dia mengajak menjadikan masa lalu sebagai pelajaran untuk mendorong perubahan. "Selamanya terima democracy the only game in town, ya sudah kita saling hormati saja. Kalau ada yang keluar dari situ, kita lawan. Termasuk, orang-orang yang senang teriak Orba ini dan itu. Orba itu perilaku, bukan perorangan," pungkasnya.
(kri)