Jokowi Disarankan Tidak Terlalu Reaktif Menanggapi Isu PKI
Rabu, 28 November 2018 - 01:35 WIB
Jokowi Disarankan Tidak Terlalu Reaktif Menanggapi Isu PKI
A
A
A
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) disarankan tidak terlalu reaktif menanggapi isu PKI yang dituduhkan pihak-pihak tertentu kepada dirinya. Sebab respons yang terlalu reaktif justru memberi sentimen negatif dan secara tidak langsung melongsorkan citra capres petahana.
"Posisinya sebagai presiden sangat tidak layak, kurang tepat mengeluarkan diksi atau frasa emosional," ujar Direktur Eksekutif Vox Pol Center Pangi Syarwi Chaniago dalam keterangan tertulisnya yang diterima SINDOnews, Selasa (27/11/2018).
Pangi mengaku khawatir pernyataan keras Jokowi diterjemahkan secara keliru oleh perangkat negara yang berada di bawah kendali presiden, untuk “menggebuk” dan “menabok” pihak-pihak yang menurut mereka sebagaimana dimaksud presiden.
"Bisa saja pesan dan makna tabok berpotensi diterjemahkan berbeda aparat (multi-tafsir). Justru akan melebar ke mana-mana, bahkan dikhawatirkan keluar dari substansi seperti dimaksudkan presiden," imbuh Pangi.
Menurut Pangi, situasi ini akan bertambah parah mengingat posisi Jokowi sebagai calon presiden, punya pendukung loyal, bisa juga salah merespons pernyataan tersebut. Respons berlebihan dari pendukung Jokowi, imbuh Pangi, dikhawatirkan justru akan menimbulkan api gesekan di tengah masyarakat dan mempertajam konflik, karena capres yang mereka dukung terus dizholimi dan difitnah.
Sebagai capres petahana, saran dia, semestinya Jokowi percaya diri dan bijak menyusun diksi/frasa dalam menghadapi Pilpres 2019. Sebaiknya fokus pada tagline Kerja, Kerja, Kerja, tanpa harus terpancing reaksioner dan bersikap emosional merespons isu dan peristiwa politik yang dituduhkan belakangan ini.
Ia meyakini, dengan fokus sibuk mempromosikan kinerja, capaian, dan prestasi yang sukses, maka sang penantang secara otomatis bakal kesulitan melawan petahana, dengan syarat pemilih diarahkan untuk menunjukkan prestasi dan kerja nyata Jokowi.
Namun sebaliknya, jika terpancing untuk merespons isu politik murahan, sentimen publik akan cenderung negatif dan tentu akan merugikan Jokowi secara elektoral. Dalam situasi ini petahana justru kena “Jebakan Batman”, terjebak ke dalam arus yang dimainkan pihak lain.
"Dengan kata lain petahana menari di atas tabuh gendang orang lain. Semestinya, petahana yang menciptakan arus sendiri, bukan malah sebaliknya ikut arus sang penantang," pungkas Pangi.
"Posisinya sebagai presiden sangat tidak layak, kurang tepat mengeluarkan diksi atau frasa emosional," ujar Direktur Eksekutif Vox Pol Center Pangi Syarwi Chaniago dalam keterangan tertulisnya yang diterima SINDOnews, Selasa (27/11/2018).
Pangi mengaku khawatir pernyataan keras Jokowi diterjemahkan secara keliru oleh perangkat negara yang berada di bawah kendali presiden, untuk “menggebuk” dan “menabok” pihak-pihak yang menurut mereka sebagaimana dimaksud presiden.
"Bisa saja pesan dan makna tabok berpotensi diterjemahkan berbeda aparat (multi-tafsir). Justru akan melebar ke mana-mana, bahkan dikhawatirkan keluar dari substansi seperti dimaksudkan presiden," imbuh Pangi.
Menurut Pangi, situasi ini akan bertambah parah mengingat posisi Jokowi sebagai calon presiden, punya pendukung loyal, bisa juga salah merespons pernyataan tersebut. Respons berlebihan dari pendukung Jokowi, imbuh Pangi, dikhawatirkan justru akan menimbulkan api gesekan di tengah masyarakat dan mempertajam konflik, karena capres yang mereka dukung terus dizholimi dan difitnah.
Sebagai capres petahana, saran dia, semestinya Jokowi percaya diri dan bijak menyusun diksi/frasa dalam menghadapi Pilpres 2019. Sebaiknya fokus pada tagline Kerja, Kerja, Kerja, tanpa harus terpancing reaksioner dan bersikap emosional merespons isu dan peristiwa politik yang dituduhkan belakangan ini.
Ia meyakini, dengan fokus sibuk mempromosikan kinerja, capaian, dan prestasi yang sukses, maka sang penantang secara otomatis bakal kesulitan melawan petahana, dengan syarat pemilih diarahkan untuk menunjukkan prestasi dan kerja nyata Jokowi.
Namun sebaliknya, jika terpancing untuk merespons isu politik murahan, sentimen publik akan cenderung negatif dan tentu akan merugikan Jokowi secara elektoral. Dalam situasi ini petahana justru kena “Jebakan Batman”, terjebak ke dalam arus yang dimainkan pihak lain.
"Dengan kata lain petahana menari di atas tabuh gendang orang lain. Semestinya, petahana yang menciptakan arus sendiri, bukan malah sebaliknya ikut arus sang penantang," pungkas Pangi.
(thm)