Prospek Wisata Halal Indonesia
A
A
A
NEGARA-negara di dunia saat ini tengah bersaing menggenjot sektor pariwisata untuk memperoleh devisa. Khusus Indonesia, sektor pariwisata beberapa tahun belakangan memang menjadi andalan utama untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi.
Presiden Joko Widodo bahkan telah menetapkan pariwisata sebagai leading sector dan prioritas utama dalam perekonomian. Ini beralasan karena pariwisata pada dasarnya mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi secara merata di seluruh wilayah Tanah Air, baik di bagian Barat, tengah maupun Timur.
Pariwisata jadi primadona baru pendorong perekonomian karena pertumbuhannya mencapai 22%. Ini empat kali lipat jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi kita yang hanya mencapai 5,3%. Tidak sulit bagi Indonesia untuk mendatangkan devisa dari pariwisata. Apalagi, beragam destinasi unik yang keindahannya sudah dikenal dunia dimiliki oleh negara kepulauan ini.
Pariwisata Indonesia juga kian mendapat kepercayaan dunia. Baru-baru ini Indonesia dinobatkan sebagai 10 besar destinasi terbaik versi Lonely Planet. Lembaga ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara terbaik untuk dikunjungi pada 2019. Indonesia satu-satunya negara ASEAN yang masuk dalam daftar 10 besar. Menurut Lonely Planet dengan lebih dari 17.000 pulau dengan keragaman budaya, kuliner, dan agama, Indonesia menawarkan kaleidoskop pengalaman.
Namun, ada potensi wisata baru yang menarik perhatian karena pertumbuhannya sangat pesat belakangan ini. Potensi tersebut adalah wisata halal. Sejumlah negara di dunia saat ini berlomba memberikan layanan wisata halal terbaik. Indonesia saat ini tercatat sebagai salah satu destinasi favorit untuk wisatawan muslim mancanegara.
Indonesia termasuk terdepan dalam industri wisata halal ini. Menurut Mastercard CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI), tahun ini Indonesia dan Uni Emirat Arab berada di posisi kedua destinasi wisata halal terfavorit yakni dengan skor 72. Adapun posisi teratas masih ditempati oleh Malaysia dengan skor 81. Total negara atau destinasi yang dinilai sebanyak 130. Berdasarkan studi GMTI 2018, negara dengan destinasi wisata halal terbaik atau terfavorit dan masuk “Top 9” secara berurutan adalah Malaysia; Indonesia dan Uni Emirat Arab; Turki; Arab Saudi; Singapura; Qatar; Bahrain; Oman; dan Maroko.
Indonesia menargetkan meraih posisi pertama atau yang terbaik pada 2019. Saat ini pariwisata halal terus dikembangkan oleh banyak negara karena pangsa pasarnya yang cukup besar. Pada 2017 lalu diperkirakan total kedatangan wisatawan muslim secara global mencapai 131 juta jiwa. Angka ini naik dari 121 juta pada 2016. Diperkirakan jumlah ini akan terus meningkat hingga mencapai 156 juta pada 2020, atau mewakili 10% dari segmen wisata secara keseluruhan.
Indonesia saat ini memiliki 10 Destinasi Prioritas Pengembangan Pariwisata Halal, antara lain Aceh, Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.
Melihat pasar yang sangat besar tersebut, artinya ini peluang baik bagi Indonesia. Kita berpeluang besar menduduki peringkat pertama atau terfavorit dalam destinasi wisata halal global. Keberadaan kita sebagai negara muslim terbesar harus dimanfaatkan untuk menggaet turis untuk datang berwisata.
Misi untuk menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata halal nomor satu dunia tentu memerlukan banyak kesiapan, salah satunya adalah pembangunan infrastruktur yang dapat mendukung terciptanya aksesibilitas dan konektivitas yang nyaman bagi para wisman yang berkunjung ke Indonesia. Selain itu, pemerintah daerah juga perlu mendukung target pemerintah pusat dengan memperbaiki fasilitas yang ada.
Untuk mencapai target menjadi destinasi wisata halal terbaik tahun depan, peningkatan kualitas layanan terhadap wisatawan muslim mutlak terus dilakukan. Tentu tidak cukup hanya dengan mengandalkan Pemerintah Pusat atau Kemenpar saja, tetapi diperlukan juga sinergi antar pemangku kepentingan di sektor pariwisata.
Antara lain pemerintah daerah, akademisi, pelaku industri pariwisata, media, dan komunitas seperti MUI, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI), dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) agar tujuan mengembangkan Pariwisata Halal Indonesia dapat terlaksana dengan baik dan maksimal.
Presiden Joko Widodo bahkan telah menetapkan pariwisata sebagai leading sector dan prioritas utama dalam perekonomian. Ini beralasan karena pariwisata pada dasarnya mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi secara merata di seluruh wilayah Tanah Air, baik di bagian Barat, tengah maupun Timur.
Pariwisata jadi primadona baru pendorong perekonomian karena pertumbuhannya mencapai 22%. Ini empat kali lipat jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi kita yang hanya mencapai 5,3%. Tidak sulit bagi Indonesia untuk mendatangkan devisa dari pariwisata. Apalagi, beragam destinasi unik yang keindahannya sudah dikenal dunia dimiliki oleh negara kepulauan ini.
Pariwisata Indonesia juga kian mendapat kepercayaan dunia. Baru-baru ini Indonesia dinobatkan sebagai 10 besar destinasi terbaik versi Lonely Planet. Lembaga ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara terbaik untuk dikunjungi pada 2019. Indonesia satu-satunya negara ASEAN yang masuk dalam daftar 10 besar. Menurut Lonely Planet dengan lebih dari 17.000 pulau dengan keragaman budaya, kuliner, dan agama, Indonesia menawarkan kaleidoskop pengalaman.
Namun, ada potensi wisata baru yang menarik perhatian karena pertumbuhannya sangat pesat belakangan ini. Potensi tersebut adalah wisata halal. Sejumlah negara di dunia saat ini berlomba memberikan layanan wisata halal terbaik. Indonesia saat ini tercatat sebagai salah satu destinasi favorit untuk wisatawan muslim mancanegara.
Indonesia termasuk terdepan dalam industri wisata halal ini. Menurut Mastercard CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI), tahun ini Indonesia dan Uni Emirat Arab berada di posisi kedua destinasi wisata halal terfavorit yakni dengan skor 72. Adapun posisi teratas masih ditempati oleh Malaysia dengan skor 81. Total negara atau destinasi yang dinilai sebanyak 130. Berdasarkan studi GMTI 2018, negara dengan destinasi wisata halal terbaik atau terfavorit dan masuk “Top 9” secara berurutan adalah Malaysia; Indonesia dan Uni Emirat Arab; Turki; Arab Saudi; Singapura; Qatar; Bahrain; Oman; dan Maroko.
Indonesia menargetkan meraih posisi pertama atau yang terbaik pada 2019. Saat ini pariwisata halal terus dikembangkan oleh banyak negara karena pangsa pasarnya yang cukup besar. Pada 2017 lalu diperkirakan total kedatangan wisatawan muslim secara global mencapai 131 juta jiwa. Angka ini naik dari 121 juta pada 2016. Diperkirakan jumlah ini akan terus meningkat hingga mencapai 156 juta pada 2020, atau mewakili 10% dari segmen wisata secara keseluruhan.
Indonesia saat ini memiliki 10 Destinasi Prioritas Pengembangan Pariwisata Halal, antara lain Aceh, Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.
Melihat pasar yang sangat besar tersebut, artinya ini peluang baik bagi Indonesia. Kita berpeluang besar menduduki peringkat pertama atau terfavorit dalam destinasi wisata halal global. Keberadaan kita sebagai negara muslim terbesar harus dimanfaatkan untuk menggaet turis untuk datang berwisata.
Misi untuk menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata halal nomor satu dunia tentu memerlukan banyak kesiapan, salah satunya adalah pembangunan infrastruktur yang dapat mendukung terciptanya aksesibilitas dan konektivitas yang nyaman bagi para wisman yang berkunjung ke Indonesia. Selain itu, pemerintah daerah juga perlu mendukung target pemerintah pusat dengan memperbaiki fasilitas yang ada.
Untuk mencapai target menjadi destinasi wisata halal terbaik tahun depan, peningkatan kualitas layanan terhadap wisatawan muslim mutlak terus dilakukan. Tentu tidak cukup hanya dengan mengandalkan Pemerintah Pusat atau Kemenpar saja, tetapi diperlukan juga sinergi antar pemangku kepentingan di sektor pariwisata.
Antara lain pemerintah daerah, akademisi, pelaku industri pariwisata, media, dan komunitas seperti MUI, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI), dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) agar tujuan mengembangkan Pariwisata Halal Indonesia dapat terlaksana dengan baik dan maksimal.
(thm)