Perkawinan Anak Menjadi Isu Krusial pada IYMWF Fatayat NU

Jum'at, 26 Oktober 2018 - 02:06 WIB
Perkawinan Anak Menjadi...
Perkawinan Anak Menjadi Isu Krusial pada IYMWF Fatayat NU
A A A
JAKARTA - Penyelenggaraan International Young Muslim Women Forum (IYMWF) oleh Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama (PP Fatayat NU) di Hotel Aryaduta, Jakarta, diisi sejumlah pembicara.

Total ada 13 pembicara yang terbagi dalam empat sesi. Topik pertama, Creative Ways on Peace Building Efforts, diisi oleh Badriyah Fayumi (Direktur Mahasina Pesantren), Rozana Isa (Direktur Eksekutif Sisters in Islam Malaysia), Hilda Rolobessy (PW Fatayat NU Ambon), dan Parasto Yari dari Afghanistan.

Tema Islam Nusantara menjadi sentral poin pada sesi ini. Sejumlah titik penting yang disampaikan adalah seputar bagaimana Islam memandang perempuan terkait peranan publiknya. Di samping itu, perempuan memiliki andil besar dalam mencipta perdamaian. Hilda Rolobessy, Sekretaris Fatayat NU Ambon adalah salah seorang tokoh perempuan yang memfasilitasi konflik Ambon tahun 2011.

Topik kedua, Creative Ways on Inclusive Education menghadirkan Nisa Feliciafaris (Dekan Fakultas Pendidikan Universitas Sampoerna), Baiq Mulianah (Pesantren NU Al Mansyuriyah NTB), Natasha Hill (Football United Australia), dan Nurul Saadah Andriani (Institusi SAPDA).

Baiq Mulianah menerapkan sistem pendidikan gratis bagi anak-anak suku Sasak yang bersedia belajar di pesantren hingga lulus SMA. Ini adalah salah satu usaha mengurangi potensi merariq kodek, praktik perkawinan anak atas alasan adat istiadat.

"Kebanyakan yang melatarbelakangi merariq adalah faktor kemiskinan, mitos masyarakat dan budaya. Merariq adalah melarikan anak gadis orang dan dia dilarang pulang sebelum dinikahkan," katanya.

Seperti diketahui, NTB adalah salah satu provinsi dengan angka perkawinan anak yang cukup tinggi. Tercatat masih lebih dari 45% dari perkawinan anak di Indonesia terjadi di pulau seribu masjid ini.

Sementara itu, merariq yang sudah mengakar sulit dihentikan karena hal ini diapresiasi sebagai simbol kearifN lokal, perjuangan dan tanggungjawab. Alhasil, semua pihak termasuk akademisi pendidikan merasa terpanggil untuk melakukan terobosan pendidikan inklusi seperti banyak hal yang dilakukan oleh Baiq Mulianah.

Topik ketiga membincang Creative Ways to Strengthen Women's Leadership dengan pembicara Tammy Kenyatta (Political Officer US Embassy Jakarta), Chusnunia Chalim (Wagub Terpilih Provinsi Lampung), Abida Rafique (ARF Pakistan). Kegiatan ini akan berlangsung sampai tanggal 28 Oktoberfest nanti.
(mhd)
Berita Terkait
Selamat untuk Nahdlatul...
Selamat untuk Nahdlatul Ulama!
Jembatan Peradaban Nahdlatul...
Jembatan Peradaban Nahdlatul Ulama
Visi Nahdlatul Ulama...
Visi Nahdlatul Ulama Abad Kedua
Nahdlatul Ulama dan...
Nahdlatul Ulama dan Kesejahteraan Sosial
Kemesraan Muhammadiyah-Nahdlatul...
Kemesraan Muhammadiyah-Nahdlatul Ulama, Bagaimana Memahaminya?
Nahdlatul Ulama Akan...
Nahdlatul Ulama Akan Bangun Peradaban dari Lautan
Berita Terkini
BNPB: Karhutla Landa...
BNPB: Karhutla Landa Tiga Daerah, Terparah di Banjarbaru Kalsel
Verifikasi Laporan Gratifikasi...
Verifikasi Laporan Gratifikasi Raja Juli Rampung, KPK: Kini Didalami di Tahap Penindakan
KDKMP Bakal Jadi Pusat...
KDKMP Bakal Jadi Pusat Ekonomi Desa, Mendes: 80% Penghasilan Dikembalikan ke Masyarakat
Tuntas Verifikasi Laporan...
Tuntas Verifikasi Laporan Gratifikasi Raja Juli, KPK: Hasil Hanya Disampaikan ke Pelapor
Kejagung Tunjuk 9 Eks...
Kejagung Tunjuk 9 Eks Jaksa KPK Tangani Kasus Febrie, Pakar: Harus Jawab Harapan Masyarakat
Wakili 11,7 Juta Suara...
Wakili 11,7 Juta Suara Rakyat, GKSR Minta Parpol Non-Parlemen Dilibatkan Bahas Revisi UU Pemilu
Infografis
11 Kombes Pol Pecah...
11 Kombes Pol Pecah Bintang usai Dapat Promosi Jabatan pada Juni 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved