LSDM: Kawal Pemilu dan Pilpres 2019 agar Fair dan Aman

Jum'at, 21 September 2018 - 15:31 WIB
LSDM: Kawal Pemilu dan...
LSDM: Kawal Pemilu dan Pilpres 2019 agar Fair dan Aman
A A A
PALEMBANG - Semaraknya perhatian dan dukungan publik atas pilpres 2019 patut disambut gembira. Hal demikian bisa berarti tingginya antusiasme rakyat terhadap sistem demokrasi yang dianut negara ini. Paling tidak hal itu membuang kekhawatiran akan masih adanya kelompok penganut ideologi trans nasional yang anti demokrasi dan ingin mendirikan khilafah atau negara Islam.

Namun saat yang sama juga perlu diwaspadai menyusupnya kelompok ekstrimis dan kaum garis keras untuk masuk serta terlibat dalam kontestasi lalu membajak demokrasi dengan mengganti sistim diam-diam dari dalam. Kewaspadaan itu harus disiagakan karena secara faktual di dunia maya dan dunia nyata, dukungan kelompok ekstrimis terlihat dengan nyata dan telanjang.

Demikian kesimpulan paparan yang disampaikan aktivis pro demokrasi Ahmad Maulana dari kantor Lembaga Studi Demokrasi & Media (LSDM) dalam sebuah diskusi yang digelar di Kota Palembang, Jum'at (21/9/2018).

Maulana menjelaskan, semaraknya dukungan para pihak dalam pilpres sekarang ini harus dibarengi dengan edukasi, harus ada yang mengerem, menengahi, jangan dilepas begitu saja. Yang dikhawatirkan adalah terjadinya benturan langsung atau malah konflik horizontal.

Ia mempelajari pola perdebatan yang muncul sudah melenceng dari yang seharusnya. "Pemilihan umum seharusnya menarik pemilih untuk terlibat atas dasar kepentingan program pembangunan. Keterpanggilan orang sebagai pemilih seharusnya berkait erat dengan kepentingannya sebagai warga negara. Nah sekarang ini yang kita tangkap justru muncul argumen seakan ada keterpanggilan agama dalam pemilu. Seolah tidak mendukung yang satu itu sesat dan mendukung yang satunya berpahala atau membela agama," ujarnya.

Maulana menambahkan, jangan sampai juga pesta demokrasi ini dibajak oleh kepentingan kelompok terlarang untuk merebut kekuasaan guna mengubah ideologi negara. Adalah bahaya membiarkan kelompok ekstrimis menguasai negara, yang akan muncul adalah perpecahan bahkan perang saudara.

Menurutnya, jangan sampai negara ini jadi seperti Suriah, perang berkepanjangan tak ada ujung. Akibat kelompok ekstrimis mendapat kekuasaan. "Karena itu penting bagi aktivis pro demokrasi mengawal agar pemilu berlangsung fair dan aman. Jauhkan pemilu dari isu surga neraka. Hindarkan kampanye dari isu ibadah agama. Sungguh tidak pas jika pilpres dianggap jihad fi sabilillah. Pilpres ini hanya pemilihan rutin belaka. Biasa saja," pungkasnya.
(maf)
Berita Terkait
Sejarah Pemilu di Indonesia...
Sejarah Pemilu di Indonesia dari Masa ke Masa, Info Penting untuk Tugas Sekolah
Penelitian: Partai Perindo...
Penelitian: Partai Perindo Sukses Curi Perhatian Masyarakat pada Pemilu 2019
Megawati Usul Tak Diubah,...
Megawati Usul Tak Diubah, Inilah Nomor Urut Parpol Peserta Pemilu 2019
Survei: 62,2% Pendukung...
Survei: 62,2% Pendukung di 2019 Tetap Loyal Pilih Prabowo di Pilpres 2024
Penyerahan Data Pemilu...
Penyerahan Data Pemilu 2019
Haikal Hassan: Hentikan...
Haikal Hassan: Hentikan Sebut Cebong-Kadrun, Enggak Malu Sama Orang Tua Kita Dulu
Berita Terkini
Revisi UU Polri: Batas...
Revisi UU Polri: Batas Usia dan Syarat Anggota Kompolnas Diusulkan Lebih Fleksibel
KontraS Kritik Tuntutan...
KontraS Kritik Tuntutan 2,5 Tahun Penjara untuk Terdakwa Penyiraman Andrie Yunus
Revisi UU Polri, Menteri...
Revisi UU Polri, Menteri Pigai Usulkan Sejumlah Jabatan Utama Bisa Diisi Sipil
Film Pesta Babi Bergeser...
Film Pesta Babi Bergeser dari Kritik Sosial Jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua
KPK Angkut Moge, Mobil...
KPK Angkut Moge, Mobil Mewah, dan Sepeda usai Geledah Rumah Silmy Karim
Ancam 6 Juta Tenaga...
Ancam 6 Juta Tenaga Kerja, Wacana Kemasan Polos Harus Dibatalkan
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved