Gejolak Harga Komoditas

Jum'at, 31 Agustus 2018 - 07:11 WIB
Gejolak Harga Komoditas
Gejolak Harga Komoditas
A A A
Fluktuasi harga komoditas dunia memberikan sentimen beragam terhadap perekonomian negara-negara di dunia. Tak hanya pasar uang, pasar saham pun ber­ge­jolak dalam kurun sebulan terakhir. Harga komoditas tambang seperti emas, nikel, bauksit, dan batu bara serta harga minyak yang menunjukkan tren meningkat memberikan dampak bermacam-macam pada pergerakan pasar di sebuah negara.

Pada September 2018 ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan bergerak dalam ren­tang konsolidasi di tengah aksi jual investor asing. IHSG diperkirakan masih terlihat akan berada dalam rentang konsolidasi seraya me­nan­ti aliran dana asing kembali masuk ke pasar saham Indonesia.

Hal yang sama juga terjadi untuk nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, khususnya dolar AS. Rupiah diperkirakan akan stabil pada kisaran Rp14.200-14.300 per dolar AS. Harga komoditas khususnya batu bara memang atraktif sejak April 2018 lalu. Harga batu bara bahkan mencetak rekor tertingginya sejak awal November 2016 di level USD114,1/ton pada 7 Juni 2018 silam.

Meningkatnya volume permintaan yang tinggi pada tahun ini, khususnya di Asia, menjadi penyebab meroketnya harga komoditas sumber energi utama dunia ini. Padahal batu bara sempat dikhawatirkan sudah tidak akan populer lagi mengingat sifatnya yang tidak ramah lingkungan.

Negara-negara Asia masih membutuhkan pasokan batu bara da­lam jumlah besar. China misalnya mengimpor 104,5 juta ton batu bara pada periode Januari-Mei 2018. Jumlah ini meningkat 10,2% dari periode yang sama pada 2017. Sementara itu India mengimpor 77,4 juta ton pada 5 bulan pertama tahun ini atau naik 3,3% secara tahunan.

Selain dua negara itu, Jepang juga mencatat kenaikan impor sebesar 5,4 juta ton menjadi 77,4 juta ton pada lima bulan pertama 2018. Ada pun Korea Selatan mengimpor 51,7 juta ton atau naik tipis 500.000 ton secara year on year (yoy).

Hal inilah sebenarnya yang menjadi peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor batu bara dan menambah devisa negara dari sektor pertambangan. Sayangnya Indonesia hanya mampu meningkatkan ekspor sebesar 4% saja. Hal ini sebagai imbas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan aturan volume domestic market obligation (DMO) yang lebih besar. Karenanya perusahaan-perusahaan batu bara di dalam negeri tidak mampu untuk meningkatkan kinerja ekspornya.

Selain bursa efek dan nilai tukar, harga komoditas utama yang diperdagangkan di dunia juga menjadi salah satu faktor yang dapat di­pergunakan sebagai indikator makroekonomi. Selain telah men­jadi kebutuhan pokok, komoditas juga digolongkan sebagai in­ves­tasi dalam pasar berjangka, yaitu pasar komoditas.

Oleh karena itu komoditas menjadi pilihan dalam portofolio para investor. Dalam hubungannya dengan nilai tukar, komoditas sebagai barang konsumsi akan memberikan pengaruh terhadap nilai tukar melalui jumlah demand dan supply dari komoditas tersebut.

Harga komoditas yang stabil atau cenderung naik tentu akan baik untuk ekonomi nasional. Hal ini karena akan mendorong ekspor sehingga akan mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional. Meski demikian, idealnya Indonesia tidak terlalu bergantung pada sektor komoditas ini. Sebab harga komoditas cenderung tinggi volatilitasnya sehingga dapat jatuh tiba-tiba dan membuat negara merugi.

Tentu saja harapannya adalah harga komoditas terus membaik demi mendorong ekspor dan konsumsi masyarakat. Sektor komoditas masih akan terbantu dengan perbaikan harga batu bara dan sawit yang masih akan membaik. Paling tidak pada level yang menguntungkan buat kalangan industri.

Harga komoditas di pasar dunia menjadi sentimen positif bagi perekonomian nasional. Meski dari sisi konsumsi domestik nasional pertumbuhan tidak terlalu baik, setidaknya ada katalisator yang membuat perekonomian nasional tetap seksi, yakni aktivitas ekspor komoditas.

Tren kenaikan harga sejumlah komoditas asal In­do­nesia yang diekspor, khususnya yang bersumber dari komoditas sum­ber daya alam seperti karet, kelapa sawit, batu bara, dan ko­mo­ditas tambang lain, memberikan sentimen positif bagi penghasilan masyarakat, terutama yang tinggal di kawasan penghasil komoditas seperti Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan.
(nag)
Berita Terkait
Korona dan Kebangkitan...
Korona dan Kebangkitan Produk Dalam Negeri
Reaktivasi Rumah Ibadah...
Reaktivasi Rumah Ibadah Tak Cukup Regulasi
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Sudah Saatnya Harga...
Sudah Saatnya Harga BBM Turun
Bahan Pangan Aman, Distribusi...
Bahan Pangan Aman, Distribusi Bisa Tersendat
Mengandalkan Sektor...
Mengandalkan Sektor Konsumsi
Berita Terkini
Bonjowi Minta PTUN Jakarta...
Bonjowi Minta PTUN Jakarta Tolak Gugatan UGM Soal Keberatan Putusan Komisi Informasi Pusat
2 Pengusaha Penyuap...
2 Pengusaha Penyuap Noel Ebenezer Cs Divonis 1,5 Tahun Penjara, Lebih Rendah dari Tuntutan Jaksa
Kawal Anggaran Negara,...
Kawal Anggaran Negara, Pengamat Dukung Kejagung Usut Tuntas BGN hingga ke Daerah
KPK: Silmy Karim Kantongi...
KPK: Silmy Karim Kantongi Rp100 Juta per Pekan dari Pemerasan Izin Tinggal WNA
Nanik S Deyang Ungkap...
Nanik S Deyang Ungkap Mayjen Trenggono Segera Mundur dari TNI usai Jadi Wakil Kepala BGN
Tutup P3N 27, Gubernur...
Tutup P3N 27, Gubernur Lemhannas Tegaskan Pemimpin Nasional Harus Berintegritas, Adaptif, dan Visioner
Infografis
10 Negara Menaikkan...
10 Negara Menaikkan Harga BBM Akibat Perang AS-Iran, Banyak Tetangga RI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved