Meneropong Masa Depan Koalisi Prabowo-PAN-PKS

Rabu, 08 Agustus 2018 - 10:35 WIB
Meneropong Masa Depan...
Meneropong Masa Depan Koalisi Prabowo-PAN-PKS
A A A
JAKARTA - Prabowo Subianto sedang galau memilih calon wakil presiden (cawapres). Betapa tidak, hingga dua hari jelang penutupan masa pendaftaran pasangan capres-cawapres untuk Pilpres 2019, komunikasi politik antara dirinya dengan sejumlah partai politik (parpol) belum final.

Sejauh ini, Prabowo intensif melakukan komunikasi politik dengan tiga parpol. Di antaranya, Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Keduanya kawan lama. Berkoalisi sejak Pilpres 2014. Lalu dengan Partai Demokrat. Pendatang baru yang dianggap jadi penentu nasib pencapresan Prabowo.

Perkara cawapres adalah soal utama yang mengganjal terbentuknya koalisi Prabowo. Mantan danjen Kopassus itu dihadapkan dengan tiga nama. Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dari Partai Demokrat, Salim Segaf Al-Jufri dari PKS, dan Ustad Abdul Somad (UAS). Dua nama terakhir merupakan hasil rekomendasi Ijtima ulama.

Sebagai kawan lama, PAN dan PKS punya proposal. PAN setuju bila Prabowo berpasangan dengan UAS. Selain populer dan diterima umat, UAS berasal dari kalangan non parpol. Dianggap lebih netral.

Sementara PKS, bersikeras menyandingkan sang Ketua Majelis Syuro Partai, Salim Segaf Al-Jufri sebagai cawapres. Di antara tiga nama kandidat cawapres itu, nama AHY dan Salim Segaf menguat.

Kini Prabowo dihadapkan dengan dua pilihan sulit. Prabowo mau pilih siapa? Memilih AHY dengan segala kebaruan dan dukungan trah politik Cikeas, atau memilih Salim Segaf, sosok senior dari salah satu partai kawan koalisi lama.

Peneliti Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris memprediksi, Prabowo akan menjatuhkan pilihan cawapresnya kepada AHY. Ada beberapa alasan yang diungkap Syamsuddin. Pertama, terkait elektabilitas AHY yang lebih tinggi daripada Salim Segaf.

Dari berbagai hasil survei yang diluncurkan lembaga survei politik beberpa bulan terakhir, elektabilitas AHY sebagai cawapres selalu masuk lima besar. Elektabilitas tinggi AHY bisa memberi insentif elektoral bagi Prabowo.

Kedua, AHY unggul di segmen pemilih milenial. Data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4) yang dirilis Kementerian Dalam Negeri menyebutkan, sekitar 44% atau hampir separuh pemilih di Pemilu 2019 adalah anak muda. Sementara BPS memprediksi ada 86 juta penduduk usia 20-39 tahun di tahun 2019.

Meski tak semua generasi milenial akan memilih AHY, jumlah pemilih tersebut patut dipertimbangkan dan direbut hatinya oleh Prabowo. Ketiga, dari segi usia, perpaduan Prabowo dan AHY bisa saling melengkapi.

"Prabowo sudah tua, AHY masih muda. Kalau dengan Salim Segaf kan sama-sama tua," ujar Syamsuddin saat berbincang dengan SINDOnews, Rabu (8/8/2018).

Alasan lain yang sangat mendasar adalah perkara logistik. Syamsuddin menduga, Prabowo yang sudah beberapa kali mengincar posisi RI 1 itu sedang kesulitan logistik. Menurutnya, jaminan logistik itu kini ada di kantong Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bukan pada Salim Segaf atau PKS bahkan PAN.

Syamsuddin menambahkan, perkara komitmen logistik ini juga menjelaskan mengapa Prabowo memilih menunda mengumumkan siapa cawapresnya hingga detik-detik akhir masa pendaftaran. "Saya yakin dengan bekoalisi dengan SBY, Pak Prabowo mendapat dukungan logistik itu, asalkan AHY menjadi cawapresnya," ucap Syamsuddin.

Dia menilai, PKS dan PAN pasti patah hati bila Prabowo pindah ke lain hati. Masa iya, sembilan kader terbaik PKS tak ada yang layak dampingi Prabowo? Apalagi Gerindra-PAN-PKS merupakan koalisi tiga sekawan di Pilkada Serentak 2018.

Ibarat sudah lama berpacaran, PKS dan PAN tentu tak rela bila pilihan akhir Prabowo jatuh pada cawapres yang diajukan Partai Demokrat. Namun, patah hati ini diyakini tidak akan membuat PKS dan PAN kabur dari rumah koalisi. Sebab kedua partai sudah lama sehati dengan Prabowo.

Meski ada sejumlah pernyataan elite PKS yang menyebut partainya akan abstain di Pilpres 2019, Syamsuddin mengatakan hal itu bukan sikap resmi partai. Nasib koalisi kini tergantung kepiawaian Prabowo meyakinkan dua kawan lamanya.

"Ini mungkin hanya tinggal negosiasi kekuasaan," kata Syamsuddin.
(kri)
Berita Terkait
Setelah PAN dan Gerindra,...
Setelah PAN dan Gerindra, PKS Perkuat Koalisi Andi Utta-Edy Manaf
PAN dan PKS Dukung Prabowo...
PAN dan PKS Dukung Prabowo di Pilpres 2029, Bahlil: Kalau Kita Mah Bukan Sinyal Lagi
Gaet Tokoh Muda hingga...
Gaet Tokoh Muda hingga Artis, Parpol Mulai Pikat Milenial untuk 2024
Gerindra Masih Berusaha...
Gerindra Masih Berusaha Rayu PAN, Ingatkan Pilpres 2014 dan 2019
Mars dan Hymne Baru...
Mars dan Hymne Baru PKS Bergema di Markas Gerindra, Begini Respons Prabowo
Prabowo Didorong Gerindra...
Prabowo Didorong Gerindra Maju Pilpres 2029, Ini Kata PKS
Berita Terkini
Kubu Roy Suryo Tepis...
Kubu Roy Suryo Tepis Berkas Kasus Pencemaran Nama Baik Terkait Ijazah Jokowi Sudah P21
Roy Suryo Bandingkan...
Roy Suryo Bandingkan Lamanya Penanganan Kasus Ijazah Jokowi dengan Jessica dan Ferdy Sambo
DKPP Pecat Ketua Bawaslu...
DKPP Pecat Ketua Bawaslu Kabupaten Tambrauw karena Terbukti Masih Berstatus ASN
KPK Ungkap Tahapan yang...
KPK Ungkap Tahapan yang Harus Dilalui untuk Ekstradisi Tersangka E-KTP Paulus Tannos
Terima Kunjungan Sekjen...
Terima Kunjungan Sekjen ICAPP, PKB Perkuat Jembatan Diplomasi Politik dengan Korsel
Desak DPR Segera Bahas...
Desak DPR Segera Bahas Revisi UU Pemilu, Perindo: Libatkan Partai Nonparlemen
Infografis
Daftar Lengkap Pelatih...
Daftar Lengkap Pelatih Timnas Indonesia dari Masa ke Masa
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved