PDIP: 5 Kali Demokrat Gagal Koalisi dengan Jokowi karena SBY Peragu

Jum'at, 27 Juli 2018 - 16:40 WIB
PDIP: 5 Kali Demokrat...
PDIP: 5 Kali Demokrat Gagal Koalisi dengan Jokowi karena SBY Peragu
A A A
JAKARTA - Hubungan elite PDI Perjuangan dan elite Partai Demokrat tengah berada dalam situasi kurang baik. Situasi tersebut tak lepas dari pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menyebut partainya sulit bergabung dengan kubu Presiden Joko Widodo (Jokowi), karena banyak rintangan.

SBY menyebut, rintangan itu salah satunya karena hubungan dirinya dengan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnooputri belum pulih. Namun, pernyataan SBY tersebut dianggap elite PDIP sebagai keluhan musiman dari presiden keenam RI tersebut.

Ketua DPP bidang Kehormatan PDIP, Komaruddin Watubun menganggap aneh pernyataan yang dilontarkan SBY tersebut. Komaruddin bahkan menyebut SBY, sebagai pribadi yang peragu.

"Pak SBY sendiri selalu bilang lima kali, Pak Jokowi mengajak kami di dalam. Setiap bertemu dengan Pak Jokowi, Pak SBY selalu bertanya, Pak Jokowi, apakah kalau Partai Demokrat berada dalam koalisi, partai-partai koalisi bisa menerima kehadiran kami?" kata Komaruddin dalam keterangan persnya, Jumat (27/7/2018).

"Lalu berdasarkan keterangan Pak SBY sendiri, Pak Jokowi menjawab bisa, karena presidennya saya. Jadi kenapa Ibu Mega yang disalahkan. Masalahnya berada di Pak SBY sendiri. Rakyat tahu itu," tambahnya.

Pria yang akrab disapa Bung Komar ini menilai, kegagalan bergabungnya Demokrat, SBY, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Edhie Baskoro Yudhoyono dan Ani Yudhoyono beserta seluruh keluarga besar Partai Demokrat dalam koalisi Jokowi lebih disebabkan oleh keraguan SBY sendiri.

Sebab ketika Jokowi menjawab bisa, karena presidennya dia, SBY menyatakan keraguannya.
Bahkan anehnya kata Komar, SBY justru menolak bergabung. "Terus terang saya karena melihat realitas bahwa hubungan Ibu Megawati dengan saya belum pulih. Jadi masih ada jarak, masih ada hambatan di situ. "Ini pernyataan Pak SBY sendiri lho," ungkap Komar.

Padahal menurut Komar, semua Rakyat Indonesia tahu jika Presiden Jokowi telah mempersatukan semua presiden dan Wakil Presiden terdahulu saat Upacara kemerdekaan ke 72 RI tahun lalu dan kemudian SBY dan Ani Yudhoyono telah bersalaman Megawati dan disaksikan jutaan mata Rakyat Indonesia saat itu.

"Kok sekarang Pak SBY kembali berulah lagi tentang hubungan dengan Ibu Mega belum pulih? Ini SBY di hantui oleh perasaanya sendiri," kata Komar.

Atas dasar hal tersebut, Komar mengaku tak tahu lagi alasan SBY menyebut Megawati menghambat partainya bergabung dengan kubu Jokowi.

Selain itu, Komar mengungkapkan saat Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto ditemui Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Agus Hermanto, partainya menjamin bahwa terbuka jika Demokrat ingin bergabung dengan kubu Jokowi.

"Jadi artinya Pak SBY yang tidak percaya dengan jaminan Pak Jokowi sebagai presiden. Jadi jelas sudah bahwa gagalnya kerjasama tersebut murni karena Pak SBY sendiri dan jangan bawa-bawa nama Ibu Megawati. Beliau itu selalu diam. Mari kita buka data, kapan Ibu Mega mencela Pak SBY, tidak pernah. Maaf ya, sebagai Ketua DPP PDI Perjuangan, dan sekaligus Putra Indonesia Timur, saya sungguh kecewa dengan politik model dikasihani ala Pak SBY ini," ucapnya.

Lebih lanjut pria kelahiran Indonesia timur itu menegaskan, bahwa politik itu seharusnya penuh dengan narasi membangun bangsa dan negara, bukan narasi keluarga atau narasi untuk anaknya. Meskipun demikian, apa yang sudah terjadi biarlah menjadi pelajaran penting, bahwa tugas pemimpin itu bukan mengeluh, melainkan memberi arah.

"Kita maafkan Pak SBY lah, saya sendiri juga seorang Bapak, bisa merasakan mimpi seorang Bapak terhadap anaknya," pungkasnya.
(maf)
Berita Terkait
Hasnaeni si Wanita Emas...
Hasnaeni si Wanita Emas di Antara PDIP dan Demokrat, Hasto Ngaku Tak Kenal
Orang PDIP Sebut Oposan...
Orang PDIP Sebut Oposan Sumbang, Politikus Demokrat Bilang Pejabat Jangan Alergi Kritik
Bisa Usung Kader Sendiri,...
Bisa Usung Kader Sendiri, PDIP Belum Tertarik Bicara Koalisi 2024
Jadi Partai Modern,...
Jadi Partai Modern, PDIP Dinilai Tak Tinggalkan Elan Kerakyatan
Rekam Jejak Suara PDIP...
Rekam Jejak Suara PDIP dari tahun 1999-2019, Pernah Mengalami Penurunan hingga Berhasil Kokoh di Puncak
Aturan Keluarga Satu...
Aturan Keluarga Satu Partai Dinilai Beri Dampak Positif bagi PDIP
Berita Terkini
Laporan Gratifikasi...
Laporan Gratifikasi Menhut Raja Juli Ditolak, KPK Ungkap Alasannya
Polisi Pastikan Emas...
Polisi Pastikan Emas 74 Kg Sitaan dari Rumah Febrie Adriansyah Asli
Don Ritto Bungkam saat...
Don Ritto Bungkam saat Dilimpahkan ke Kejagung, Ini Penampakannya
Febrie Adriansyah Mulai...
Febrie Adriansyah Mulai Diperiksa Kejagung, Hotman Paris: Sebagai Tersangka
Laporan Amplop Menhut...
Laporan Amplop Menhut Raja Juli, KPK: Yang Dilaporkan hanya Berita Acara Pengembalian, Nominalnya Tidak
4 WNI ABK Disandera...
4 WNI ABK Disandera Perompak Somalia, Menteri P2MI Koordinasi dengan Kemlu untuk Pembebasan
Infografis
5 Cara Cepat Menemukan...
5 Cara Cepat Menemukan Lokasi Terdekat dengan Google Maps
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved