Nama JK dan Amien Rais Muncul karena Pilpres Tak Kompetitif
Selasa, 03 Juli 2018 - 10:45 WIB
Nama JK dan Amien Rais Muncul karena Pilpres Tak Kompetitif
A
A
A
JAKARTA - Mendekati pendaftaran pasangan calon presiden dan wakil presiden pada Agustus mendatang, menuver elite politik kian gencar.
Hal itu ditandai dengan pernyataan elite yang menegaskan intensitas pembahasan koalisi Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2018 akan dilakukan selepas pilkada serentak.
Benar saja, sebelum pemungutan suara Pilkada digelar, pertemuan antara Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan putranya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pun dilakukan. Meski pertemuan ini diklaim sebagai pertemuan silaturahmi biasa, namun memunculkan isu dan sinyal adanya kemungkinan koalisi menuju pilpres.
Direktur Wain Advisory Indonesia, Sulthan Muhammad Yus menganggap, minimnya tokoh dan elite politik yang memiliki kapasitas serta secara terang-terangan mencapreskan diri menambah faktor penguat munculnya duet JK-AHY.
"Poros Cikeas ingin mengulang kembali success story duet SBY-JK pada Pilpres 2004 silam," ujar Sulthan kepada SINDOnews, Selasa (3/7/2018). (Baca juga: Wacana Duet JK-AHY Bikin Politik Menuju Pilpres Dinamis )
Sulthan menambahkan, modal dan pengalaman politik JK yang kuat dirasa cocok untuk berpadu dengan AHY yang mewakili unsur muda.
Menurut dia, bagaimana pun jumlah pemilih muda usia 17-40 tahun masih mendominasi daftar pemilih tetap (DPT) pemilu Tanah Air.
Pengamat politik asal UniversiasJakarta ini menganggap, dalam politik segala kemungkinan bisa terjadi, termasuk ikut mencuatnya kembali nama Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais yang juga digadang-gadang akan menjadi capres alternatif. (Baca juga: Amien Rais Digadang Nyapres, PAN: Suatu Kehormatan )
Sulthan mengatakan, kesuksesan Mahathir Mohamad memenangkan kontestasi politik di Malaysia ditenggarai ikut mendorong politikus senior Indonesia untuk turun kembali ke gelanggang.
"Banyak elite parpol yang terang-terangan memasang target sebagai cawapres Jokowi membuat peta Pilpres 2019 menjadi kurang kompetitif," ungkapnya.
Lulusan Hukum Tata Negara UGM ini menilai, hadirnya "figur tua" masih mendominasi pertarungan menuju istana memang hal yang lumrah. Namun, secara meyakinkan demokrasi dan politik Indonesia mengalami kemunduran.
Alih-alih tuntutan agar parpol sukses melahirkan regenerasi kepemimpinan yang terjadi justru partai politik gagal menciptakan arus regenerasi kepemimpinan nasional, sehingga partai politik perlu evaluasi secara menyeluruh.
"Andaikan nama-nama capres 2019 masih didominasi muka lama dan figur tua maka peradaban politik Indonesia melawan tren kepemimpinan dunia yang mulai beralih ke pemimpin muda dan itu adalah sinyal kemunduran," tuturnya.
Hal itu ditandai dengan pernyataan elite yang menegaskan intensitas pembahasan koalisi Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2018 akan dilakukan selepas pilkada serentak.
Benar saja, sebelum pemungutan suara Pilkada digelar, pertemuan antara Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan putranya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pun dilakukan. Meski pertemuan ini diklaim sebagai pertemuan silaturahmi biasa, namun memunculkan isu dan sinyal adanya kemungkinan koalisi menuju pilpres.
Direktur Wain Advisory Indonesia, Sulthan Muhammad Yus menganggap, minimnya tokoh dan elite politik yang memiliki kapasitas serta secara terang-terangan mencapreskan diri menambah faktor penguat munculnya duet JK-AHY.
"Poros Cikeas ingin mengulang kembali success story duet SBY-JK pada Pilpres 2004 silam," ujar Sulthan kepada SINDOnews, Selasa (3/7/2018). (Baca juga: Wacana Duet JK-AHY Bikin Politik Menuju Pilpres Dinamis )
Sulthan menambahkan, modal dan pengalaman politik JK yang kuat dirasa cocok untuk berpadu dengan AHY yang mewakili unsur muda.
Menurut dia, bagaimana pun jumlah pemilih muda usia 17-40 tahun masih mendominasi daftar pemilih tetap (DPT) pemilu Tanah Air.
Pengamat politik asal UniversiasJakarta ini menganggap, dalam politik segala kemungkinan bisa terjadi, termasuk ikut mencuatnya kembali nama Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais yang juga digadang-gadang akan menjadi capres alternatif. (Baca juga: Amien Rais Digadang Nyapres, PAN: Suatu Kehormatan )
Sulthan mengatakan, kesuksesan Mahathir Mohamad memenangkan kontestasi politik di Malaysia ditenggarai ikut mendorong politikus senior Indonesia untuk turun kembali ke gelanggang.
"Banyak elite parpol yang terang-terangan memasang target sebagai cawapres Jokowi membuat peta Pilpres 2019 menjadi kurang kompetitif," ungkapnya.
Lulusan Hukum Tata Negara UGM ini menilai, hadirnya "figur tua" masih mendominasi pertarungan menuju istana memang hal yang lumrah. Namun, secara meyakinkan demokrasi dan politik Indonesia mengalami kemunduran.
Alih-alih tuntutan agar parpol sukses melahirkan regenerasi kepemimpinan yang terjadi justru partai politik gagal menciptakan arus regenerasi kepemimpinan nasional, sehingga partai politik perlu evaluasi secara menyeluruh.
"Andaikan nama-nama capres 2019 masih didominasi muka lama dan figur tua maka peradaban politik Indonesia melawan tren kepemimpinan dunia yang mulai beralih ke pemimpin muda dan itu adalah sinyal kemunduran," tuturnya.
(dam)