Jelang Kontestasi Politik, Banyak Politikus Mendadak Religius
Kamis, 26 April 2018 - 10:11 WIB
Jelang Kontestasi Politik, Banyak Politikus Mendadak Religius
A
A
A
JAKARTA - Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak menyoroti prilaku politikus yang dinilai memanfaatkan agama untuk kepentingan meraih kekuasaan untuk kepentingan politik 2018 dan 2019.
Dahnil mengatakan, kontestasi politik seringkali destruktif terhadap kehidupan sosial masyarakat, khususnya kerukunan umat beragama. Salah satunya disebabkan prilaku "memperalat" agama untuk kepentingan meraih kekuasaan.
Hal itu, kata Dahnil, ditunjukan dengan berpura-pura rajin ke tempat ibadah untuk memeroleh simpati dari pemilih umat beragama. Simbol-simbol Agama yang sama sekali tidak pernah dikenakan, menjelang pemilu biasanya digunakan.
"Misal, mendadak pakai jilbab, mendadak rajin ke masjid, ke gereja, ke pesantren, dan simbol-simbol religius lainnya," kata Dahnil melalui keterangan tertulis yang diterima SINDOnews, Kamis (26/4/2018).
Prilaku mendadak religius tersebut, kata Dahnil, akhirnya menjadikan agama sebagai ruang pertarungan politik. Rumah ibadah menjadi battle ground pemilu, dan merusak kerukunan umat beragama di Indonesia.
Menurut dia, politikus semacam itu tidak menjadikan agama sebagai ahlak atau standar moral berpolitik namun memanfaatkan agama untuk menarik simpati demi kekuasaan.
"Maka, saran saya elite-elite politik tampil dan berpolitiklah dengan otentik, tidak dipenuhi dengan laku-laku mendadak religius yang cenderung menipu. Mari menghadirkan nilai-nilai ahlak dalam agama menjadi standar moral bagi praktik politik bukan memperalat agama sekadar untuk kekuasaan jangka pendek," tutur Dahnil.
Terkait fenomena mendadak religius yang ditunjukkan para politikus, Dahnil mengimbau masyarakat terus merawat akal sehatnya untuk menilai politikus, dan tetap menjaga kerukunan antar umat beragama.
"Jangan sampai upaya adu domba demi syahwat kekuasaan merusak keberagaman Indonesia. Ketika politik memecah belah, maka agama harus mempersatukan. Semoga tahun politik 2018 dan 2019 ini bisa kita lewati dengan penuh kebaikan," ucap Dahnil.
Dahnil mengatakan, kontestasi politik seringkali destruktif terhadap kehidupan sosial masyarakat, khususnya kerukunan umat beragama. Salah satunya disebabkan prilaku "memperalat" agama untuk kepentingan meraih kekuasaan.
Hal itu, kata Dahnil, ditunjukan dengan berpura-pura rajin ke tempat ibadah untuk memeroleh simpati dari pemilih umat beragama. Simbol-simbol Agama yang sama sekali tidak pernah dikenakan, menjelang pemilu biasanya digunakan.
"Misal, mendadak pakai jilbab, mendadak rajin ke masjid, ke gereja, ke pesantren, dan simbol-simbol religius lainnya," kata Dahnil melalui keterangan tertulis yang diterima SINDOnews, Kamis (26/4/2018).
Prilaku mendadak religius tersebut, kata Dahnil, akhirnya menjadikan agama sebagai ruang pertarungan politik. Rumah ibadah menjadi battle ground pemilu, dan merusak kerukunan umat beragama di Indonesia.
Menurut dia, politikus semacam itu tidak menjadikan agama sebagai ahlak atau standar moral berpolitik namun memanfaatkan agama untuk menarik simpati demi kekuasaan.
"Maka, saran saya elite-elite politik tampil dan berpolitiklah dengan otentik, tidak dipenuhi dengan laku-laku mendadak religius yang cenderung menipu. Mari menghadirkan nilai-nilai ahlak dalam agama menjadi standar moral bagi praktik politik bukan memperalat agama sekadar untuk kekuasaan jangka pendek," tutur Dahnil.
Terkait fenomena mendadak religius yang ditunjukkan para politikus, Dahnil mengimbau masyarakat terus merawat akal sehatnya untuk menilai politikus, dan tetap menjaga kerukunan antar umat beragama.
"Jangan sampai upaya adu domba demi syahwat kekuasaan merusak keberagaman Indonesia. Ketika politik memecah belah, maka agama harus mempersatukan. Semoga tahun politik 2018 dan 2019 ini bisa kita lewati dengan penuh kebaikan," ucap Dahnil.
(dam)