Isra Mikraj: Analisis Isi dan Pesan Salat

Jum'at, 13 April 2018 - 07:29 WIB
Isra Mikraj: Analisis...
Isra Mikraj: Analisis Isi dan Pesan Salat
A A A
Muhbib Abdul Wahab
Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah dan UMJ

ISRA
Mikraj Nabi Mu­hammad SAW dari Masjidilharam ke Masjidilaqsha dan dari Masjidilaqsha menuju Sid­ratil Muntaha membawa pe­san utama berupa kewajiban sa­lat lima waktu dalam sehari se­ma­lam. Dari segi cara pe­n­e­tap­an syariat salat, yaitu dengan meng­audiensikan hamba-Nya, Mu­hammad SAW di Sidratil Mun­taha, salat merupakan iba­dah fisik, mental spiritual, dan mo­ral yang luar biasa signifikan ba­gi kehidupan muslim.

Sedemikian pentingnya sa­lat sehingga Nabi SAW me­n­e­gas­kan bahwa “Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat ada­l­ah salatnya. Apabila sa­lat­nya baik, dia akan mendapatkan ke­ber­un­tung­an dan keselamatan. Apa­bila sa­latnya rusak, dia akan me­nyesal dan merugi.

Jika ada yang kurang da­ri salat wajibnya, Allah SWT me­ngatakan: “Li­hat­lah apakah pa­d­a hamba tersebut me­miliki amal­an salat sunah? Ma­ka salat sunah ter­sebut akan me­nyempurnakan sa­lat wajibnya yang kurang. Begitu ju­ga amalan lai­n­nya seperti itu.” (HR Abu Daud, Ahmad, al-Ha­kim, dan al-Baihaqi).

Apakah salat sudah menjadi stan­dar baik-buruknya kinerja hi­dup muslim? Bagaimana men­ja­dikan salat sebagai iba­dah bermakna: fungsional dan trans­formasional, dalam arti mem­buahkan kepribadian mu­lia, sehingga berfungsi mem­ben­tengi dan menjauhkan diri dari perbuatan keji dan mung­kar (QS al-’Ankabut [29]:45)?

Asum­sinya, jika umat Islam suk­­ses dalam melakukan salat he­bat: salat khusyuk, ber­mak­na, fungsional, dan trans­for­ma­si­o­nal, niscaya perilaku ke­mak­sia­t­an, kemungkaran, kej­a­hat­an, korupsi, dan sebagainya da­pat dieliminasi dan dijauhkan da­ri kehidupan muslim?

Analisis Isi

Salat hebat itu bukan se­ka­dar ritual formal tanpa makna dan pesan substansial. Salat he­bat menghendaki pelakunya me­mahami, menyelami, meng­hayati, dan mengaktualisasi isi dan substansi salat. Gerakan, ba­ca­an, dan amalan dalam salat ti­dak sebatas dijalankan sesuai sya­rat dan rukunnya, tetapi ju­ga harus diterjemahkan dan di­trans­formasikan da­lam ke­hi­dup­an.

Sa­lat hebat itu me­nya­lat­kan ha­ti, pikiran, ge­rak­an, dan sistem ke­hi­dup­an. Rit­ua­li­tas salat di­integrasikan dengan ak­­tivitas kehidupan se­suai de­ngan pesan mo­ral salat itu sendiri. Salat hebat di­sya­rat­kan ber­wu­du, pe­nyu­ci­an diri (hati dan pi­kir­an), pakaian, dan tem­pat sa­lat, agar dapat meng­­gapai pen­dekatan di­ri kepada Allah Yang Ma­hasuci.

Jika di­ana­li­sis, sa­lat wajib lima wak­tu itu ter­nya­ta ber­isi 109 kali tak­bir (ter­ma­suk takbiratul ih­r­am), 17 ra­kaat, 5 kali membaca doa iftitah (pem­bu­ka­an), 17 membaca su­rah al-Fatihah dan surah atau ayat se­lain al-Fatihah, 17 rukuk be­rikut doa­nya, 17 i’tidal (be­r­di­ri tegak dan diam sejenak se­te­lah rukuk, be­rikut doanya, 34 su­jud be­ri­kut doanya, 9 kali ta­hi­yat dan ta­sya­hud, dan 10 kali salam.

Apabila muslim melak­sa­na­kan salat sunah rawatib, dhuha, ta­h­ajjud, tahiyatul masjid, dan lain­nya, maka dapat dipastikan bah­wa frekuensi gerakan dan ba­caan tersebut akan semakin in­tens. Apa isi dan substansi yang dapat dimaknai dari g­e­r­ak­an dan bacaan salat? Analisis isi me­nunjukkan bahwa frekuensi ter­besar dari gerakan dan ba­ca­a­n salat adalah takbir. Esensi tak­bir adalah deklarasi dan pe­ne­guhan hati bahwa Allah itu Ma­habesar.

Deklarasi ini m­e­ngan­dung makna bahwa ha­m­ba harus meng­agungkan-Nya, de­ngan m­e­rendahkan hati dan pi­kir­an­nya dalam beraudiensi de­ngan-Nya. Implikasinya, mu­s­ha­l­li (pe­­la­ku salat) harus m­e­mi­liki akh­lak rendah hati, tidak som­­bong, ti­dak takabur, tidak aro­­gan, dan ti­dak otoriter atau me­­rasa pa­ling berkuasa.

Ge­ra­k­an dan ba­ca­an (doa) sujud me­nem­­­pati po­si­si kedua te­r­ba­nyak (34 kali). Hal ini me­nun­juk­kan ba­h­wa in­te­grasi takbir dan su­jud, sebagai ma­nifestasi pe­­ren­dah­an hati di ha­dapan ilahi, de­ngan mencium “ta­nah” ke­­hi­dup­an, agar benar-benar men­­ja­di hamba-Nya yang tu­n­duk dan patuh kepada-Nya.

S­u­jud da­lam salat itu mem­b­a­ngun lo­ya­litas dan keintiman spi­­ritual su­paya hamba tahu di­ri dan me­nunjukkan to­ta­li­tas ke­taa­t­an ke­p­ada-Nya. Lebih-le­bih da­­l­am s­a­lah sa­tu ba­caan (doa) if­ti­tah, ham­ba di­la­tih mem­­bu­lat­kan te­kad bah­­wa sa­lat­ku, iba­dah­­ku, hi­dup dan ma­­tiku ha­nya ka­re­na meng­harap ri­da Allah, Tu­han semes­ta raya.

Be­be­ra­pa ri­set me­nun­juk­­kan bah­wa ane­ka ge­rak­an dan ba­­caan da­lam salat m­e­ru­pa­kan pe­me­nuh­an ke­butuhan jas­ma­ni dan rohani ham­ba. Gerakan ­tak­bir, ber­diri tegak lurus, ru­­kuk, i’tidal, su­jud, duduk ta­hi­yat, dan salam dengan me­noleh ke kanan dan ke kiri me-ru­pa­kan re­pre­sen­ta­si “olahraga dan olah ji­wa” yang se­hat dan ber­mas­la­hat bagi ro­ta­si dan rutinitas ke­hi­dupan. Tan­pa salat, manusia bi­sa jadi ti­dak sehat jasmani dan r­o­ha­ni. Bahkan salat hebat itu se­ja­t­i­nya membuat hati dan pi­kir­an menjadi damai dan b­a­ha­gia la­hir dan batin.

Pesan Salat

Gerakan dan bacaan salat sa­­r­at dengan pesan moral. Da­lam sa­lat berjamaah terdapat pe­san kuat bahwa jamaah salat ha­rus ber­satu karena harus meng­­ingat Allah (dzikrullah) de­ngan meng­hadap pada kib­lat yang sa­ma, yaitu Kakbah (Bai­tullah). Sa­lat jamaah juga me­ngandung pe­san spiritual dan sosial be­ru­pa pentingnya ke­bersamaan, ke­taatan ke­pa­da imam salat, ke­su­cian hati dan pikiran, ke­di­si­p­lin­an, dan ke­seteraan. Siapa pun yang me­l­aksanakan salat ber­ja­maah sejatinya di hadapan Allah itu sama, tidak ada diskriminasi.

Selain merupakan tazkiyat an-nafs (penyucian diri), salat ju­ga sarat dengan pesan pend­i­dik­an mental spiritual dan mo­ral. Melalui salat, mushalli di­edu­­ka­sikan untuk menjadi ham­­ba yang memiliki kecer­das­­an romantis dalam bentuk pen­­de­katan diri dengan Allah.

Ke­­cer­dasan romantis me­ru­pa­kan kun­ci kedekatan dan ko­mu­­ni­ka­si hamba dengan-Nya, se­suai de­ngan komitmen teo­lo­gis yang dinyatakan dalam su­rah al-Fatihah : “Hanya ke­pa­da Eng­ka­u­lah kami ber­iba­dah/me­nyem­bah dan hanya ke­pa­da Engkau pu­la­lah kami mo­hon pertolongan. Tun­jukilah ka­mi jalan yang lurus (be­nar).” (QS al-Fatihah [1]: 5-6).

Gerakan salat menunjukkan rit­me, irama, dan dinamika ke­hi­dupan yang sangat pro­por­sio­nal dan fenomenal, karena te­­r­buk­­ti semua gerakan itu me­nye­hat­kan dan membahagiakan. Ge­rakan rukuk, misalnya, da­pat memberikan peregangan sa­raf dan otot-otot pada lutut, ping­gul, punggung, dan leher, se­hingga memberikan efek r­e­lak­sasi.

Gerakan sujud me­m­buat kerja jantung rileks dan ri­ngan dalam memompakan da­rah ke semua jaringan dan aliran da­rah dalam tubuh. Oleh ka­re­na itu, Nabi SAW sangat me­ri­n­d­u­­kan gerakan sujud, dan mem­buat sujudnya lama, karena saat su­jud itulah Nabi SAW me­ra­sa­kan ketenteraman dan ke­da­mai­an hati di hadapan Tuhan. Sa­lat menjadi jembatan spi­ri­tual yang menghubungkan cin­ta hamba dengan Sang Khalik.

Bacaan dan doa dalam salat ju­ga menutrisi hati dan pikiran mu­s­halli dengan penguatan iman, peneguhan tauhid, pe­man­tapan disiplin waktu, pe­nguat­an ketaatan, totalitas peng­abdian, dan penyuburan harapan-harapan pascasalat. Se­mua doa dalam salat men­cer­min­kan optimisme hamba un­tuk memperoleh ampunan (magh­firah), kasih sayang, re­z­e­ki, keberkahan, dan kemuliaan hi­dup. Walhasil, salat hebat ideal­nya menjadi standar dan to­lok ukur kebaikan pribadi dan ke­luruhan akhlak hamba.

Di atas semua itu, ritualitas tak­bir, rukuk, i’tidal, sujud, dan d­u­duk tahiyat dan tasyahud itu ha­rus diakhiri dengan salam yang mengandung pesan pe­r­da­mai­an. Salam di akhir salat yang di­s­imbolisasi dengan menoleh ke kanan dan ke kiri me­nun­juk­kan bahwa kesalehan personal da­ri salat harus ditindaklanjuti de­ngan kesalehan sosial dan mo­ral. Mushalli yang hebat dan suk­ses pasti menjadi pelopor ke­­selamatan, kedamaian, dan ke­rukunan hidup ber­ma­sya­ra­kat, berbangsa, dan bernegara.

Pemimpin dan pejabat yang suk­ses melaksanakan salat he­bat idealnya tidak akan pernah ko­r­upsi, pembohongan publik de­ngan pencitraan palsu, pe­nya­lahgunaan kekuasaan, dan peng­khianatan terhadap ke­pen­tingan nasionalisme dan rak­y­at.

Karena itu, laksanakan dan disiplinkan diri dengan sa­lat hebat secara konsisten, agar ke­hidupan berubah menjadi le­bih baik dan bermartabat. Salat he­bat itu fungsional dan trans­for­masional bagi mushalli da­lam mewujudkan pribadi ber­akh­lak mulia, melayani, meng­ins­pirasi, dan memajukan per­adab­an bangsa.
(maf)
Berita Terkait
Bakal Dilaporkan ke...
Bakal Dilaporkan ke Polisi, Saiful Mujani: Yang Ideal, Opini Dibalas Opini
Pancasila Sakti
Pancasila Sakti
Opini Guru Besar Anti-TWK
Opini Guru Besar Anti-TWK
Menghapus Asimetris...
Menghapus Asimetris Relasi di Hari Buruh
Pertempuran Sungai Nil,...
Pertempuran Sungai Nil, Perebutan Energi Sumber Daya Alam
Akhir Ramadan, Sportifitas...
Akhir Ramadan, Sportifitas dan Optimisme
Berita Terkini
Minta Masukan RUU Pemilu,...
Minta Masukan RUU Pemilu, DPR Bakal Kunjungi Parpol Parlemen dan Nonparlemen
Prabowo Kenang Hari...
Prabowo Kenang Hari Lahir Soekarno Lewat Potret Sang Proklamator
Kasus Dadan Cs, Saut...
Kasus Dadan Cs, Saut Situmorang: Semua hingga Eselon Terkecil Harus Bertanggung Jawab
Pigai Usul Jabatan Utama...
Pigai Usul Jabatan Utama Polri Bisa Diisi Sipil, Sahroni: Urusin HAM Saja
Revisi UU Polri: Batas...
Revisi UU Polri: Batas Usia dan Syarat Anggota Kompolnas Diusulkan Lebih Fleksibel
KontraS Kritik Tuntutan...
KontraS Kritik Tuntutan 2,5 Tahun Penjara untuk Terdakwa Penyiraman Andrie Yunus
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved