Bupati Jombang Gunakan Uang Suap untuk Kepentingan Pilkada 2018

Minggu, 04 Februari 2018 - 19:01 WIB
Bupati Jombang Gunakan...
Bupati Jombang Gunakan Uang Suap untuk Kepentingan Pilkada 2018
A A A
JAKARTA - Tersangka ‎Bupati Jombang, Jawa Timur, sekaligus Ketua DPD Golkar Jawa Timur ‎Nyono Suharli Wihandoko‎ mempergunakan Rp50 juta untuk kepentingan pilkada 2018 dari total Rp275 juta yang sudah diterimanya.

Wakil Ketua KPK Laode Muhamad Syarif membeberkan, tersangka pemberi suap Plt Kepala Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang Inna Silestyowati mengumpulkan total Rp509 juta dari dua sumber.

Salah satunya berasal dari hasil pungli untuk pengurusan izin operasional rumah sakit swasta di Jombang dengan angka Rp75 juta. Inna lantas memberikan Rp75 juta ke Bupati Jombang, Jawa Timur ‎Nyono Suharli Wihandoko pada 1 Februari 2018.

"Diduga sekitar Rp50 juta telah dipergunakan NSW (Nyono) untuk membayar iklan di sebuah harian (koran) terkait rencananya maju dalam pilkada Bupati Jombang 2018," ujar Syarif saat konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Minggu (4/2/2018) sore.

Sebelum itu, tutur Syarif, Nyono sudah menerima Rp200 juta dari Inna pada Desember 2017. Uang ini jatah 5% dari Rp434 juta hasil kutipan dana jasa pelayanan kesehatan/dana kapitasi ‎34 puskeskesmas di Jombang yang dikumpulkan tersangka Inna sejak Juni 2017. Untuk penyerahan Rp200 juta yang sudah terjadi tersebut untuk kepentingan Inna ditetapkan Bupati menjadi Kepala Dinas Kesehatan defenitif.

Syarif membeberkan, Nyono memang merupakan calon petahana yang maju dalam pilkada Kabupaten Jombang 2018. ‎Untuk dana Rp200 juta yang sudah diterima Nyono tersebut sedang ditelusuri lebih lanjut oleh KPK apakah juga dipergunakan untuk kepentingan logistik pilkada Nyono.

"Sekali lagi KPK sangat menyesalkan peristiwa dugaan suap terhadap kepala daerah yang masih terus berulang," imbuhnya.

‎Mantan Senior Adviser on Justice and Environmental Governance di Partnership for Governance Reform (Kemitraan) ini mengungkapkan, yang sangat memprihatinkan adalah sumber uang diduga berasal dari kutipan pungutan liar perizinan dan jasa pelayanan kesehatan/dana kapitasi. Seharusnya kesemuanya itu menjadi hak masyarakat jika dimanfaatkan dengan baik dan benar.

"Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP)," tandasnya.
(pur)
Berita Terkait
Ditangkap KPK, Ini Tiga...
Ditangkap KPK, Ini Tiga Kontroversi Bupati Penajam Paser Utara
Ini Sejumlah Pihak yang...
Ini Sejumlah Pihak yang Terjerat OTT KPK di Semarang dan Jakarta
OTT Hanya Dua Kali dalam...
OTT Hanya Dua Kali dalam 6 Bulan, KPK: Penjahatnya Lebih Pintar
KPK Gelar OTT di Medan...
KPK Gelar OTT di Medan Sumatera Utara
Breaking News: KPK Gelar...
Breaking News: KPK Gelar OTT Jakarta dan Bekasi, Pejabat Negara Ditangkap
OTT di Jakarta dan Semarang,...
OTT di Jakarta dan Semarang, KPK Amankan Pejabat Perkeretaapian
Berita Terkini
Mantan Wakapolri Oegroseno...
Mantan Wakapolri Oegroseno Dipanggil soal Dugaan Korupsi Lahan, Kortastipikor: Masih Penyelidikan
Menteri PU Dody Hanggodo...
Menteri PU Dody Hanggodo Respons Isu Kena Reshuffle: Ampun Bos Ampun
TNI Habema Bergerak...
TNI Habema Bergerak Lebih Cepat, Ancaman Kelompok Bersenjata di Intan Jaya Dicegah
Prabowo: Gaji Hakim...
Prabowo: Gaji Hakim Naik Hampir 300%, Lebih Tinggi dari Singapura
Sebelum Ditangkap KPK,...
Sebelum Ditangkap KPK, Bupati Lombok Barat Sempat Nobar Piala Dunia 2026
Perang Berkepanjangan...
Perang Berkepanjangan AS Vs Iran, Indonesia Wajib Perkuat Ketahanan Nasional dan Diplomasi Strategis
Infografis
IRGC Siapkan Jebakan...
IRGC Siapkan Jebakan Maut untuk Armada Amerika Serikat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved