Langkah Bawaslu-Polri Terkait Daerah Rawan Pilkada Diapresiasi

Jum'at, 01 Desember 2017 - 16:31 WIB
Langkah Bawaslu-Polri...
Langkah Bawaslu-Polri Terkait Daerah Rawan Pilkada Diapresiasi
A A A
JAKARTA - Langkah Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan Polri yang telah mengumumkan Indeks Kerawanan Pemilu (IKP) Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018 diapresiasi Partai Persatuan Pembangun (PPP).

Ketua Umum PPP M Romahurmuziy (Romi) mengatakan hal itu, sebab IKP Pilkada 2018 dianggap sebagai langkah antisipatif.

"Ini adalah langkah antisipatif setelah melihat perkiraan keadaan. Bahwa apa yang terjadi di DKI juga rawan terulang di beberapa tempat," kata Romi, Jumat (1/12/2017).

Romi mengungkapkan, jumlah pemilih yang terlibat mencapai 87 persen dari pemilih pada Pemilu 2014 lalu walaupun Pilkada serentak 2018 hanya di lakukan di 171 daerah.

"Karena lima provinsi penyumbang suara terbesar ikut pilkada. Jawa Barat, Jateng, Jatim, Sumut, Sulsel. Sehingga kerawanan itu pada titik kontestasi, di mana kontestasi pemilih pemilih terbesar turut serta," ungkapnya.

Anggota Komisi XI DPR ini pun khawatir, besarnya jumlah pemilih dalam Pilkada 2018 tidak sebanding dengan jumlah aparat keamanan yang ada, terutama Kepolisian.

Contohnya kata Romi, dalam kasus Pilkada DKI Jakarta, Polda Metro Jaya harus meminta bantuan dari Polda Jawa Barat dan Jawa Tengah untuk pengamanan.

"Besok tidak bisa, karena pengamanan ibu kota tidak bisa ditarik dari Jakarta. Jabar, Jateng, Jatim ada Pilkada sendiri-sendiri," ungkapnya.

Sehingga, perbantuan aparat Kepolisian menjadi sulit. Maka itu, semua pihak yang terlibat langsung maupun tidak dalam Pilkada diminta untuk menjaga situasi yang kondusif dengan berkompetisi dengan sehat.

Kata dia, semua pihak harus meletakkan pilkada sebagai sebuah perayaan demokrasi. "Bukan tempatnya menjadikan pilkada sarana mencaci, menjatuhkan lawan segala cara dan kita tidak boleh menggunakan pilkada sebagai ajang meningkatkan eskalasi ketegangan di antara saudara sebangsa setanah air," ujarnya.

Dia juga meminta masyarakat tidak asal mengkonsumsi informasi di media sosial. Pasalnya, banyak informasi di media sosial yang validitasnya dipertanyakan.

"Karena saat ini ada ratusan ribu bahkan jutaan situs yang diproduksi untuk mereproduksi hoax. Atau berita palsu," katanya.
(maf)
Berita Terkait
Walhi Dorong Komisi...
Walhi Dorong Komisi Percepatan Reformasi Polri Bentuk Badan Pengawas Eksternal Independen
Bawaslu Pimpin Global...
Bawaslu Pimpin Global Network on Electoral Justice hingga 2023
Jadwal Pemilu 2024 Belum...
Jadwal Pemilu 2024 Belum Juga Ditetapkan, Ini Sikap Bawaslu
Tahapan Pilkada Dimulai,...
Tahapan Pilkada Dimulai, Bawaslu Aktifkan Panwas Kecamatan dan Desa
Sekjen Baru Demokrat...
Sekjen Baru Demokrat Dinilai Mampu Terjemahkan Visi dan Misi AHY
Bawaslu Diminta Berhati-hati...
Bawaslu Diminta Berhati-hati Merekrut Komisioner Daerah
Berita Terkini
Ketum All Cipayung Nusantara...
Ketum All Cipayung Nusantara Berharap Sidang Kasus Ijazah Jokowi Digelar Terbuka
Tersangka Kasus Ijazah...
Tersangka Kasus Ijazah Jokowi Desak Polisi Buat Kepastian Hukum
Pengacara Roy Suryo:...
Pengacara Roy Suryo: Polisi dan Jaksa Ragu-ragu di Kasus Ijazah Jokowi
Kecam Ketimpangan Layanan...
Kecam Ketimpangan Layanan Dialisis, KPCDI Desak Pemerintah Benahi Sistem
Pengacara Jokowi: Ada...
Pengacara Jokowi: Ada Dugaan Manipulasi Bukti Elektronik dalam Kasus Ijazah Jokowi
PKS Sebut Sinergi Pemerintah,...
PKS Sebut Sinergi Pemerintah, Dunia Usaha, hingga Masyarakat Kunci Jaga Stabilitas
Infografis
8 Kepolisian Terbaik...
8 Kepolisian Terbaik di Dunia 2025, Apakah Polri Masuk?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved