Tim Gerak Cepat Haji, dari Indonesia untuk Dunia

Jum'at, 29 September 2017 - 08:21 WIB
Tim Gerak Cepat Haji,...
Tim Gerak Cepat Haji, dari Indonesia untuk Dunia
A A A
MADINAH - Senyum mengembang dan sigap. Itulah cara kerja Tim Gerak Cepat (TGC) yang dibentuk Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab dalam melayani kesehatan jamaah, sebagai solusi keterbatasan tenaga medis baik dokter maupun perawat pada musim haji 2017.

Sifatnya yang mobile (bergerak) ternyata membuat TGC juga bermanfaat bagi jamaah haji dari negara lain. Lokasi perjalanan melempar jumrah wusta, ula, dan aqobah dari dan ke tenda Mina memang sangat jauh.

Ditambah larangan pendirian pos apapun di sepanjang jalan dari Jumarat menuju tenda Mina, membuat TGC memang efektif menjangkau jamaah haji yang berada di jalan layang menuju Mina tersebut. Tim kesehatan seperti TGC sepengetahuan KORAN SINDO memang tidak diberlakukan negara lain.

Karena itu, banyak jamaah haji dari berbagai negara yang kelelahan di jembatan Jumarat menuju Mina tak terjangkau petugas hajinya. Bahkan, askar (tentara) Arab Saudi ikut merasakan tangan dingin perawatan medis TGC.

“Di Pos 2 Jumarat kami sempat menangani tiga askar yang terkena heatstroke. Di tempat mereka jaga memang terbuka, sehingga langsung terpapar panas sinar matahari,” ujar H Dahri, perawat yang tergabung dalam TGC Pos 2, wilayah titik masuk Jumarat di lantai 3, baru-baru ini.

Dari tiga askar tersebut, sambung dia, satu di antaranya terpaksa dirjuk ke Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS). Selain askar, jamaah haji negara lain ketika ditemukan sakit juga mendapat perhatian mereka.

“Bukan hanya melayani jamaah haji Indonesia, kami juga melayani semua tamu Allah SWT dari berbagai negara yang masuk pos kami. Karena hanya Indonesia yang punya pos layanan kesehatan tersebar di tiga pos Jumarat dengan layanan 24 jam selama empat hari,” ungkap Kepala Instalasi Gawat Darurat RSUD HM Djafar Harun Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara tersebut.

Dia menambahkan, pada hari pertama Jumarat banyak jamaah yang sakit. Tapi hari berikitnya jumlah kasus menurun signifikan.

“Seperti Arafah, di Mina kasus yang banyak ditemukan adalah heatstroke/segatan panas dan dehidrasi. Ini dikarekan kelelahan menempuh jarak kurang lebih 5 kilometer. Hari pertama melotar jumrah banyak jamaah haji yang sakit,” kata Dahri.

Selama empat hari yaitu 10–13 Dzulhijah, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membuka layanan kesehatan haji selama 24 jam di Jamarat. Layanan ini bertujuan memberikan layanan kesehatan kepada jamaah haji yang melakukan lempar jumrah selama hari tasyrik berturut turut. Mulai dari lempar aqobah pada 10 Dzulhijah dan dilanjutkan lempar jumrah wustha, ulla, dan aqoba selama tiga hari, yaitu 11-13 Dzulhijah.

“Layanan klinik kesehatan mobile, terutama kepada penemuan kasus dan penanganan emergency. Untuk menjangkau pelayanan selama 24 jam, selama empat hari, telah disusun empat tim. Masing-masing berjaga dan mobile selama empat jam bergiliran. Sehingga masing masing tim mendapat dua kali piket selama 24 jam, sisa waktu untuk istirahat,” kata Kasie Tim Gerak Cepat PPIH Arab Saudi, dr Jery, Sp.PD.

Menurut dia, tim ini gabungan antara Tim Promotif-Preventif dan Tim Gerak Cepat. Dalam operasional kerjanya, mereka menggunakan fasilitas ambulans yang standby di pos dekat terowongan terakhir menuju Jamarat.

Selain itu, lanjut dia, masing masing tim yang terdiri dari dokter, perawat dan tenaga kesehatan lain sebanyak lima orang diharuskan berkeliling secara periodik. Mereka berkeliling sambal mendorong kursi roda yang dilengkapi alat kesehatan serta obat-obatan darurat.

"Ketika diketemukan kasus, maka jamaah sakit segera mendapat penanganan di tempat. Setelah stabil kemudian menggunakan kursi roda, tandu atau ambulans di rujuk ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Mina atau RSAS yang berada di sekitar Jamarat," tutur Jery.

Sedangkan Kepala Pusat (Kapuskes) Haji Eka Jusup Singka bersyukur karena selama musim Armina (Arafah, Muzdalifah, Mina) semua kasus dapat ditemukan dengan cepat dan tertangani baik. Sesuai standar operasional prosedur, sekalipun dengan tenaga kesehatan dan peralatan terbatas. (Baca: Dubes RI Ingin Bangun Kawasan Khusus bagi Jamaah Haji)

"Hal ini terjadi karena dukungan dan kerja sama yang baik dari semua pihak, termasuk Kementerian Agama dan Pemerintah Arab Saudi,” ucapnya.
(kur)
Berita Terkait
Sama-Sama Ibadah ke...
Sama-Sama Ibadah ke Tanah Suci, Apa Bedanya Haji dan Umrah?
Umrah Berkali-kali Saat...
Umrah Berkali-kali Saat Haji: Dianjurkan atau Tidak?
Waroeng Steak & Shake...
Waroeng Steak & Shake Kembali Berangkatkan Ibadah Umrah Puluhan Karyawannya
Tingkatkan Layanan Haji...
Tingkatkan Layanan Haji dan Umrah, Ashuri Gandeng Mecca Construction
Travel Indonesia dan...
Travel Indonesia dan Arab Saudi Kolaborasi Penuhi Kebutuhan Haji dan Umrah
7 Keutamaan Menunaikan...
7 Keutamaan Menunaikan Umrah di Bulan Suci Ramadan
Berita Terkini
DKPP Pecat Ketua Bawaslu...
DKPP Pecat Ketua Bawaslu Kabupaten Tambrauw karena Terbukti Masih Berstatus ASN
KPK Ungkap Tahapan yang...
KPK Ungkap Tahapan yang Harus Dilalui untuk Ekstradisi Tersangka E-KTP Paulus Tannos
Terima Kunjungan Sekjen...
Terima Kunjungan Sekjen ICAPP, PKB Perkuat Jembatan Diplomasi Politik dengan Korsel
Desak DPR Segera Bahas...
Desak DPR Segera Bahas Revisi UU Pemilu, Perindo: Libatkan Partai Nonparlemen
Prediksi Ada Reshuffle,...
Prediksi Ada Reshuffle, Pengamat: Prabowo Butuh Menteri Eksekutor dan Komunikator Ulung
Revisi UU Pemilu Belum...
Revisi UU Pemilu Belum Dibahas, Golkar Usul Prabowo Kumpulkan Ketum Parpol
Infografis
7 Negara Penghafal Alquran...
7 Negara Penghafal Alquran Terbanyak di Dunia, Indonesia Peringkat Berapa?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved