Bantu Rohingya, Relawan Kucing-kucingan dengan Militer Myanmar
Senin, 11 September 2017 - 20:52 WIB
Bantu Rohingya, Relawan Kucing-kucingan dengan Militer Myanmar
A
A
A
JAKARTA - Tim relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengaku menjadi yang pertama kali berhasil masuk dan mendistribusikan bantuan kemanusiaan bagi etnis Rohingya yang menjadi korban kejahatan kemanusiaan di Rakhine State, Myanmar.
Mohamad Faisol Amrullah, relawan ACT yang baru saja kembali dari melaksanakan misi kemanusiaan di Myanmar mengungkapkan, militer setempat melakukan blokade dan razia terhadap orang asing dan jurnalis yang mencoba memasuki zona merah di Rakhine State.
"Sampai saat ini international aid belum ada yan masuk," kata Faisol dalam sebuah konferensi pers di Media Center for Rohingya Crisis, Menara 165, Jakarta Selatan, Senin (11/9/2017).
Karena blokade dan razia ketat, ACT harus berkolaborasi dengan relawan lokal untuk mendistribusikan bantuan kemanusiaan bagi pengungsi etnis Rohingya.
Saat tiba di Rakhine State, negara bagian Myanmar, Faisol melakukan kontak dengan relawan lokal. Relawan lokal tersebut selanjutnya bertugas untuk mengadakan bahan pangan yang akan didistribusikan kepada pengungsi etnis Rohingya.
"Bahan makanan dibeli di pasar lokal oleh para relawan lokal," kata Faisol.
Usai membeli bahan pangan di pasar lokal, para relawan lokal selanjutnya mengangkut kebutuhan pokok tersebut ke titik-titik pengungsian.
Total ada 12 titik pengungsian di Rakhine State. "Kami mendistribusikannya pakai Tuktuk (sejenis bemo). Kalau pakai truk terlalu menyolok perhatian," kata Faisol.
Mohamad Faisol Amrullah, relawan ACT yang baru saja kembali dari melaksanakan misi kemanusiaan di Myanmar mengungkapkan, militer setempat melakukan blokade dan razia terhadap orang asing dan jurnalis yang mencoba memasuki zona merah di Rakhine State.
"Sampai saat ini international aid belum ada yan masuk," kata Faisol dalam sebuah konferensi pers di Media Center for Rohingya Crisis, Menara 165, Jakarta Selatan, Senin (11/9/2017).
Karena blokade dan razia ketat, ACT harus berkolaborasi dengan relawan lokal untuk mendistribusikan bantuan kemanusiaan bagi pengungsi etnis Rohingya.
Saat tiba di Rakhine State, negara bagian Myanmar, Faisol melakukan kontak dengan relawan lokal. Relawan lokal tersebut selanjutnya bertugas untuk mengadakan bahan pangan yang akan didistribusikan kepada pengungsi etnis Rohingya.
"Bahan makanan dibeli di pasar lokal oleh para relawan lokal," kata Faisol.
Usai membeli bahan pangan di pasar lokal, para relawan lokal selanjutnya mengangkut kebutuhan pokok tersebut ke titik-titik pengungsian.
Total ada 12 titik pengungsian di Rakhine State. "Kami mendistribusikannya pakai Tuktuk (sejenis bemo). Kalau pakai truk terlalu menyolok perhatian," kata Faisol.
(dam)