Hanya 31% Aktivis Maju Jadi Caleg DPR

Jum'at, 25 Agustus 2017 - 06:07 WIB
Hanya 31% Aktivis Maju...
Hanya 31% Aktivis Maju Jadi Caleg DPR
A A A
JAKARTA - Parlemen merupakan lembaga terhormat wadah perjuangan bagi kemajuan bangsa. Sehingga parlemen membutuhkan figur-figur yang berdedikasi seperti aktivis untuk menyuarakan kepentingan rakyat.

Di sisi lain, perjuangan menuju parlemen bukanlah hal mudah bagi aktivis. Terlebih dengan sistem demokrasi liberal yang berbiaya tinggi menjadi masalah bagi aktivis. Demikian disampaikan Ayub Pongrekun selaku moderator mengawali Diskusi Kamisan DPP Taruna Merah Putih (TMP) di Jalan Cik Di Tiro 10, Menteng, Jakarta Pusat, pada Kamis 24 Agustus 2017 kemarin.

Hadir sebagai narasumber Adian Napitupulu (Anggota DPR RI-Aktivis 98), Dwi Rio Sambodo (Anggota DPRD DKI Jakarta-Alumni GMNI), Sebastian Salang (Formappi-Alumni PMKRI) dan Bane Manalu (Jurnalis senior).

Pada pembukaan acara diskusi, Sekjen DPP TMP M.M. Restu Hapsari menyampaikan topik Diskusi Kamisan "Aktivis Menuju Parlemen" sangat penting, terkhusus bagi aktivis dan kaum muda yang hendak ke parlemen.

"Para narasumber yang kompeten dan berpengalaman baik dari kalangan aktivis dan media akan berbagi pengalaman yang berharga bagi peserta diskusi untuk dapat dijadikan pengetahuan bagi yang menjadi calon legislatif nanti," ungkap Restu.

Rio mengatakan, dalam sistem politik Indonesia yang sangat liberal saat ini dan adanya trauma dengan sistem politik otoritarian orde baru, maka aktivis seharusnya tampil di panggung politik Indonesia seperti menjadi anggota parlemen. Karena parlemen merupakan tempat berjuang bagi kepentingan bangsa dan rakyat. Di sisi lain, Rio menyadari bahwa aktivis membutuhkan suatu effort dan kerja keras.

"Dalam konteks aktivis menuju parlemen dibutuhkan suatu perjuangan. Perjuangan yang panjang dan penuh tantangan. Aktivis harus memiliki keyakinan bahwa tantangan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perjuangan. Saya menggali banyak materi-materi diskusi dan melakukan gerakan advokasi selama 13 tahun dan mengkapitalisasinya untuk merebut kursi parlemen karena pada saat itu saya tidak memiliki kemampuan logistik. Selanjutnya, saya perkuat dengan keliling ke basis-basis suara serta berdialog langsung dgn masyarakat. Alhamdulillah dengan kerja keras dan efektif saya terpilih," ujar Rio.

Pengalaman serupa juga disampaikan Adian Napitupulu. Dalam menghadapi kandidat-kandidat yang memiliki uang yang banyak diperlukan cara-cara kreatif untuk merebut suara rakyat. "Sebagai aktivis, kita akan kreatif bila dalam suasana terdesak. Saya mengerahkan seluruh jaringan untuk membantu saya dalam merebut kursi parlemen. Saya menggunakan metode yang murah dan efektif serta menutupnya dengan memberi kesan yang baik bagi masyarakat," tegas Adian.

Menurut Bane, ada relasi antara calon terpilih dengan media. Menjelang pemilihan kepedulian rakyat akan semakin tinggi, terlebih dalam mengonsumsi berita-berita dari media. "Relasi dengan media tak selamanya membutuhkan biaya tinggi. Bahkan pada kasus-kasus tertentu, awak media akan dengan sukarela meliput. Ini terjadi pada kasus aktivis yang konsisten dan punya personal branding serta humble," kata Bane.

Berdasarkan pengalaman Pemilu 2014, Sebastian Salang mengungkapkan, sebanyak 49 % daftar calon legislatif untuk DPR RI adalah pengusaha, berikutnya politisi sedangkan aktivis hanya 3,7% saja. Dan yang terpilih mayoritas adalah politisi yang umumnya orang baru dan aktivis sangat sedikit.

"Menghadapi Pemilu 2019 di mana pileg dan pilpres dilakukan secara serentak, akan memberikan harapan bagi aktivis. Caleg-caleg yang partainya mengusung calon presiden seperti Jokowi akan mendapatkan limpahan suara," ungkap Salang.

Di akhir acara, Salang menyatakan kebanggaannya kepada aktivis yang tetap memilih jalur parlemen di saat kepercayaan publik kepada parlemen dan partai politik semakin merosot. Salang berharap aktivis yang di parlemen mampu meningkatkan kepercayaan publik kepada parlemen dan partai politik. Dan hulunya nanti adalah kontribusi positif terhadap masyarakat, bangsa dan negara.
(whb)
Berita Terkait
Masa Depan Politik di...
Masa Depan Politik di Indonesia: Politik Dinasti?
Rakernas Perdana di...
Rakernas Perdana di Surabaya, Partai Mahasiswa Indonesia Berkomitmen Tingkatkan Partisipasi Politik Anak Muda
Demokrasi Indonesia...
Demokrasi Indonesia Dinilai Masih Diwarnai Politik Identitas
Politik Santuy atau...
Politik Santuy atau Politik Baperan
Mimbar Demokrasi Melawan...
Mimbar Demokrasi Melawan Politik Dinasti
Crab Mentality Penggerus...
Crab Mentality Penggerus Soliditas Bangsa
Berita Terkini
27 Orang Tewas Akibat...
27 Orang Tewas Akibat Kebakaran di Bar Bangkok, Kemlu: Tidak Ada Korban WNI
Hadapi Pemilu 2029,...
Hadapi Pemilu 2029, Partai Ummat Siapkan Struktur Baru Jelang Verifikasi KPU
Benny Harman Demokrat...
Benny Harman Demokrat Minta DPR Pakai Hak Angket untuk Selesaikan Ketegangan Polri vs Kejagung
Kapolri Tak Hadir di...
Kapolri Tak Hadir di Rapat Satgas PKH, Jubir: Semua Unsur Tetap Terwakili
Istana Belum Terima...
Istana Belum Terima Usulan Jaksa Agung soal Jampidsus Baru Pengganti Febrie Adriansyah
Mensesneg Sebut Pengunduran...
Mensesneg Sebut Pengunduran Diri Febrie Adriansyah dari Jampidsus Tidak Pakai Keppres
Infografis
Profil Letjen TNI Robi...
Profil Letjen TNI Robi Herbawan, Ajudan Prabowo yang Jadi Kabais TNI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved