Pembahasan RUU Pemilu Alot Akibat Pola Pikir Elite Politik Kerdil
Minggu, 16 Juli 2017 - 15:58 WIB
Pembahasan RUU Pemilu Alot Akibat Pola Pikir Elite Politik Kerdil
A
A
A
JAKARTA - Masih alotnya pembahasan besaran angka ambang batas pengajuan presiden (presidential threshold) dalam Rancangan Undang-undang (RUU) Pemilu di DPR menjadi perhatian tersendiri bagi Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Baswedan.
Anies menilai, perdebatan panjang antara partai koalisi pemerintah yang menginginkan angka presidential threshold sebesar 20% dengan pihak yang kontra sebagai cermin dari mental para elite politik yang masih berpikir sempit dalam menghadapi persoalan besar.
"Apa yang jadi masalah, titik temu ya harus dicari. Pemimpin tidak bisa berpemikiran jangka pendek dan kecil untuk keputusan jangka panjang," ujar Anies saat memberikan sambutan dalam acara halal bihalal di DPP PKS, Jakarta Selatan, Minggu (16/7/2017).
Mantan menteri pendidikan dan kebudayaan ini pun mengibaratkan proses pembahasan RUU Pemilu seperti kendaraan di jalan raya yang terjebak macet karena lampu lalu lintas mati. Saat itu, setiap orang hanya akan memikirkan bagaimana kendaraan yang dikendarainya bisa lewat.
"Semua mengambil keputusan untuk diri masing-masing. Akhirnya macet. Tidak bergerak. Masing-masing memikirkan kendaraannya, bukan memikirkan bagaimana lewat lampu merah dengan baik," tutur Anies.
Masih kata Anies, kebuntuan yang terjadi saat ini juga buntut dari kondisi pemimpin yang sudah berada di posisi puncak namun masih mempunyai pemikiran kecil. Karenanya, negara berada dalam posisi buntu dalam menghadapi ketimpangan sosial.
"Pemimpinnya sudah mengendalikan posisi makro tapi pemikirannya mikro. Ini yang terjadi di banyak negara. Efeknya, kebijakan yang dihasilkan, kebijakan yang tidak menghasilkan," kata Anies.
Anies menilai, perdebatan panjang antara partai koalisi pemerintah yang menginginkan angka presidential threshold sebesar 20% dengan pihak yang kontra sebagai cermin dari mental para elite politik yang masih berpikir sempit dalam menghadapi persoalan besar.
"Apa yang jadi masalah, titik temu ya harus dicari. Pemimpin tidak bisa berpemikiran jangka pendek dan kecil untuk keputusan jangka panjang," ujar Anies saat memberikan sambutan dalam acara halal bihalal di DPP PKS, Jakarta Selatan, Minggu (16/7/2017).
Mantan menteri pendidikan dan kebudayaan ini pun mengibaratkan proses pembahasan RUU Pemilu seperti kendaraan di jalan raya yang terjebak macet karena lampu lalu lintas mati. Saat itu, setiap orang hanya akan memikirkan bagaimana kendaraan yang dikendarainya bisa lewat.
"Semua mengambil keputusan untuk diri masing-masing. Akhirnya macet. Tidak bergerak. Masing-masing memikirkan kendaraannya, bukan memikirkan bagaimana lewat lampu merah dengan baik," tutur Anies.
Masih kata Anies, kebuntuan yang terjadi saat ini juga buntut dari kondisi pemimpin yang sudah berada di posisi puncak namun masih mempunyai pemikiran kecil. Karenanya, negara berada dalam posisi buntu dalam menghadapi ketimpangan sosial.
"Pemimpinnya sudah mengendalikan posisi makro tapi pemikirannya mikro. Ini yang terjadi di banyak negara. Efeknya, kebijakan yang dihasilkan, kebijakan yang tidak menghasilkan," kata Anies.
(kri)