Kerap Kalah di Pengadilan, Kinerja Jaksa Agung Kental Nuansa Politis

Rabu, 28 Desember 2016 - 14:56 WIB
Kerap Kalah di Pengadilan,...
Kerap Kalah di Pengadilan, Kinerja Jaksa Agung Kental Nuansa Politis
A A A
JAKARTA - Pengamat Politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun menganggap gagalnya proses penuntutan yang dialamatkan kepada La Nyala Mataliti memungkinkan adanya nuansa politis terhadap mantan Ketua PSSI tersebut. Potensi nuansa politik menjadi lumrah tatkala Kejaksaan Agung (Kejagung) dipimpin oleh orang yang berlatar belakang politik.

“Saya kira keputusan atau gagalnya jaksa agung melakukan penuntutan terhadap perkara hukum itu, memungkinkan memang bisa ditafsirkan bahwa ada persoalan politik,” ujar Ubedilah ketika dihubungi SINDO, Rabu (28/12/2016).

Menurutnya, latar belakang Jaksa Agung HM Prasetyo yang merupakan orang politik menuai kecurigaan publik bahwa Kejagung bekerja dalam menagani perkara kental nuasa politis. Sehingga, lanjutnya, muncul anggapan Kejagung melenceng dalam tugasnya sebagai penegak hukum.

"Karena jaksa agung itu memiliki latar belakang politik, maka publik memiliki hak pembenaran bahwa Kejaksaan Agung masih memiliki nuansa politik di dalam kerja-kerja sebagai penegak hukum. Termasuk di dalam kasus La Nyalla," jelasnya.

Seperti diketahui, La Nyalla divonis bebas karena dinilai tidak terbukti melakukan korupsi dana hibah pengembangan ekonomi Provinsi Jawa Timur. Hakim menilai dakwaan dari jaksa penuntut umum (JPU) tidak bisa dibuktikan secara hukum sehingga terdakwa harus dibebaskan.

Namun, putusan ini tidak secara bulat keluar dari musyawarah lima hakim. Dua dari lima hakim berbeda pendapat, yakni Hakim Sigit Herman Binaji dan Anwar.

Menurut Hakim Anwar, terdakwa patut bertanggung jawab secara formal dan material atas dana hibah yang diterima Kadin Jatim. Dana hibah, kata dia, tidak dibenarkan untuk digunakan di luar kegunaan yang disusun dalam proposal.

La Nyalla dinilai abai dengan tidak pernah mengecek ulang kepada anak buahnya terkait asal uang untuk pembelian saham initial public offering (IPO) Bank Jatim. Keuntungan Rp1,1 miliar yang didapat dari hasil penjualan IPO Bank Jatim harus dikembalikan kepada negara karena diperoleh dari dana yang berasal dari negara.

Sementara sebelumnya, JPU menuntut agar hakim menjatuhkan hukuman enam tahun penjara ditambah denda Rp500 juta subsider enam bulan kurungan kepada La Nyalla. Jaksa juga menuntut agar La Nyalla diwajibkan membayar uang pengganti Rp1,115 miliar.
(kri)
Berita Terkait
Dugaan Korupsi Dana...
Dugaan Korupsi Dana Hibah KONI 2017, Kejagung Periksa 4 Orang
Sebut Ada Aliran Dana...
Sebut Ada Aliran Dana ke Kejaksaan Agung, Komisi Kejaksaan Periksa Miftahul Ulum
Kejaksaan Tetapkan Ketum...
Kejaksaan Tetapkan Ketum Kadin Jabar Tersangka Korupsi Dana Hibah Rp1,7 Miliar
Perketat Pemberian Hibah,...
Perketat Pemberian Hibah, Pemkot Tangsel Minta Pendampingan Kejaksaan
Diduga Korupsi 14 Miliar,...
Diduga Korupsi 14 Miliar, Kantor PDAM Sumut Digeledah
Rumah Terpidana Kasus...
Rumah Terpidana Kasus Korupsi Dana Pensiun Pertamina Dilelang Kejagung
Berita Terkini
Abdullah Alkatiri Yakin...
Abdullah Alkatiri Yakin JPU Tidak Bakal Mendakwa Ulang Dokter Tifa
Momen Keakraban Cak...
Momen Keakraban Cak Imin, Dasco, dan Angela Tanoesoedibjo di Harlah ke-28 PKB
Hadiri Harlah ke-28...
Hadiri Harlah ke-28 PKB, Partai Perindo Ajak Kolaborasi Bangun Ekonomi Kerakyatan
Prabowo Singgung Londo...
Prabowo Singgung Londo Ireng: Sekarang Pakai Baju Wartawan, Pengamat, hingga LSM
Dokter Tifa Sudah Siapkan...
Dokter Tifa Sudah Siapkan 2.000 Pertanyaan untuk Jokowi jika Sidang Berlanjut
Perjalanan Rapat Istana...
Perjalanan Rapat Istana Sempat Tertunda, Mentan Amran Turun Tangan Selamatkan Korban Kecelakaan
Infografis
Joao Pinheiro, Wasit...
Joao Pinheiro, Wasit Kontroversial di Laga Argentina vs Swiss
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved